Zulkifli Hasan; Pikiran, Tindakan Kebangsaan dan Demokrasi

Zulkifli Hasan; Pikiran, Tindakan Kebangsaan dan Demokrasi

Oleh : Munir A.S

Di tengah rentannya arus sektarianisme yang menghujam praksis demokrasi, Zulkifli Hasan; Ketua MPR RI, kokoh dan terus mengejawantahkan pikiran-pikiran kebangsaannya. Kemampuannya meletakkan pikiran dan langgam politik kebangsaan dalam konteks kekinian demokrasi di Indonesia, secara perlahan melelehkan politik sektarianisme yang mulai menggumpal. Jargon “Politik Tanpa Gaduh” adalah kekuatan memintal nilai-nilai demokrasi yang mulai berserakah dan acap kali riuh tak karuan. Demokrasi adalah nilai-nilai yang softly, dan tentu diperjuangkan dengan cara-cara yang santun dan halus. Tak perlu riuh renda.

Nilai-nilai demokrasi diletakkan pada kritik kesejehteraan dan keberpihakan pada rakyat akibat penguasaan modal oleh segelintir kapitalis. Itu sebabanya ia terdengar acap kali nyinyir tentang melebarnya gini ratio; distribusi kesejahteraan yang tak adil dan bertumpuk-tumpuknya kekayaan; modal pada sekelompok kecil kapitalis. “prospektif demokrasi hanya ada dan terjadi, manakala negara mampu mendistribusikan kesejahteraan secara adil dan merata.”

Pikiran tentang demokrasi seperti ini, mewakili sikap Zulkifli Hasan. Suatu pikiran dan sikap yang secara bertenaga menghela melangitnya paham-paham kebangsaan dalam kenyataan hidup bernegara; agar paham-paham kebangsaan dan demokrasi, secara progresif meratakan sekat-sekat sosial yang tak adil dan menindas.

Suatu waktu, dalam kegiatan safari kebangsaan di Kabupaten Garut Jawa Barat; ia mengumpukan 100 orang petani dan berdialog dengan mereka. Betapa kaget dan terenyuh; ternyata, dari 100 orang petani itu, hanya 5-10 orang berstatus petani, selebihnya adalah buruh tani yang dipekerjakan oleh pemilik lahan yang tinggal di perkotaan. Kenyataannya itu membuatnya terus menceramahi keadaan; dimanapun ia berbicara tentang kehadiran negara dalam distribusi kesejahteraan.

Senada dengan penguasaan lahan pertanian oleh sekelompok pemodal, tak ayal, Zulkifli pun lantang menyoal keberpihakan pemerintah terhadap pengusaha pribumi. Nada tinggi membela pengusaha pribumi ini bukan lantas membelah pikirannya dalam dikotomi pribumi non pribumi, namun ini suatu kritik keadilan, agar negara perlu mendistribusikan sumber daya ekonomi secara merata, tanpa perlu menganakemaskan pelaku usaha tertentu dengan fasilitas dan kesempatan yang berlebihan.

Kenyataan-kenyataan itu semakin mengasah daya tafsirnya tentang kebangsaan dan demokrasi. Bahwsanya demokrasi dan kebangsaan, perlu ditafsirkan secara progresif dan mampu menjadi nilai penindak ketidakadilan sosial yang nyaris merata dalam pelbagai bidang kehidupan. Demokrasi dan kebangsaan hanya akan berhenti sebagai suatu common platform, manakala tak mampu diobjektifikasikan dalam wujud keberpihakan sosial yang nyata pada rakyat kecil dan kaum du’afah.

Sikapnya membawa Partai Amanat Nasional (PAN) dalam mendukung Paslon Gubernur DKI Anies-Sandi, adalah suatu kurikulum demokrasi yang progresif. Bahwasanya bangunan demokrasi dalam pilihan politik, harus tumbuh dari aspirasi akar rumput; rakyat, bukan sikap tunggal elit partai yang tak bisa jamah oleh aspirasi rakyat.

Kuatnya arus dukungan kader-kader PAN dari tingkat ranting hingga pengurus Wilayah PAN DKI, adalah modal keputusan politiknya dalam menentukan pilihan politik PAN di Pilkada DKI 2017. Ia menunjukkan bahwa pemilik saham mayoritas di PAN adalah rakyat kecil yang tahu dan merasakan siapa pepimpin yang mampu merawat harapan dan bisa membangun Jakarta dengan niali-nilai politik pembangunan yang beradab dan Pancasilais.

Dus, pikiran, tindakan kebangsaan dan demokrasi bang Zul ini, mengilhami dan mencerahkan tatanan keindonesiaan yang makin hari mengalami penyempitan makna. Sejurus dengan pemaknaan pikiran, tindakan kebangsaan dan demokrasi bang Zul, kita patut meletakkannya dalam suatu usaha merapikan tatanan keindonesia, dalam makna yang lebih progresif; yakni keberpihakan terhadap rakyat dalam konteks distribusi keadilan dan kesejahteraan yang merata dan tanpa didominasi oleh kelompok manapun. ***

Leave a Reply

*