Kenapa Harus Kartini?

Oleh : Achmad Qayyimel Alofi (Ketua DPP BM PAN)

Faktual.co.id -Epos Kartini dalam rekam jejak perjuangannya membela kaum perempuan, dinobatkan dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai hari Kartini. Hari lahir Kartini 21 April lantas dinasionalisasikan sebagai hari refleksi kesadaran perjuangan pembebasan kaum perempuan; dan R.A Kartini sebagai peletak dasarnya.

Kendatipun Kartinisme sebagai suatu common sanse ajaran-ajaran keperempuanan di Indonesia, kritik sejarah terhadapnya pun tak bisa dielakkan. Terutama, dominasi Kartinisme dalam bentangan sejarah perjuangan kaum perempuan dalam membebaskan kelompoknya dari struktur sosial yang menindas.

Kartini yang yang lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan Jawa, dimana ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir, pun Suaminya K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang memangku jabatan sebagai bupati Rembang.

Latar keluarga bangsawan dengan budaya feodalisme Jawa yang kental, membuatnya berontak; dan berjuang membebaskan kelompoknya dari struktur sosial bangsawan Jawa yang patriarki. Lantas, epos perjuangan Kartini membebaskan kaum perempuan di sekitarnya, ditulis dengan tinta tebal dan mendominasi sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia.

Meskipun kita tahu, Perjuangan tokoh perempuan di tempat lain seperti Cut Nyak Dien dan Cut Mutia dari Aceh, Kristina Marta Tiahahu dari Maluku, Dewi Sartika dari Jawa Barat, Maria Walanda Maramis dari Sulawesi Utara, Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) dari DIY, dan Fatmawati (istri Presiden RI pertama) dari   Bengkulu dan sederet pejuang perempuan di luar Jawa lainnya. Heroisme Cut Nyak Dien mengusir kolonial Belanda, pun kepeloporan Raden Dewi Sartika dalam gerakan pendidikan kaum perempuan berikut tokoh-tokoh pejuang perempuan lainnya di luar Jawa, seakan tersubordinasi di bawah nama besar Kartini.

Tokoh-tokoh pejuang lain selain R.A Kartini (Foto/Istimewa)

Raden Dewi Sartika (1884-1947)  misalnya, bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia pun mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972), melakukan hal serupa di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Sejarah Kartini yang ditulis dengan tinta tebal dalam kancah sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia, seakan mengaburkan heroisme pejuang perempuan nasional lainnya yang patut diletakkan secara jujur dalam daftar sejarah pejuang kaum perempuan. Kalau Kartini cuma mencurahkan isi hatinya melalui korespondensi dengan teman-temannya atas keterkungkungan di balik tembok besar feodalisme bangsawan Jawa, pejuang perempuan seperti Dewi Sartika dan Rohana Kudus melakukan langkah nyata kiprah perjuangan dengan mendirikan sekolah sebagi langkah nyata pembebasan kaum perempuan dari keterkungkungan struktur sosial.

Di titik inilah, kita kembali menimbang keadilan sejarah dalam mendudukkan epos sosok Kartini dan tokoh pejuang perempuan lain di luar Jawa dalam satu daftar sejarah perjuangan yang adil. Hari lahir R.A Kartini pada tanggal 21 April yang didaulat menjadi hari Kartini dalam bingkai perjuangan emansipasi perempuan Indonesia, adalah titik soal yang perlu dipertanyakan, kenapa cuma hari Kartini? Sementara, di Indonesia, tak ada satu hari penting yang kemudian dilekatkan pada nama seseorang kecuali Kartini, kenapa? Kalau pun dikaitkan dengan perjuangan emansipasi perempuan, sebelum Kartini, banyak tokoh pejuang perempuan yang perjuangannya jauh lebih heroik dari Kartini.

Tokoh perempuan progresif seperti Cut Nyak Dien dan Cut Mutia dari Aceh, Kristina Marta Tiahahu dari Maluku, Dewi Sartika dari Jawa Barat, Maria Walanda Maramis dari Sulawesi Utara, Siti Walidah (Nyai Ahmd Dahlan) dari DIY, dan Fatmawati (istri Presiden RI pertama) dari   Bengkulu dan sederet pejuang perempuan di luar Jawa lainnya, pun memiliki rekam jejak perjuangkan yang tak kalah heroiknya dalam kancah perjuangan perempuan Indonesia. Bahkan tokoh pejuang perempuan seperti Cut Nyak Dien, berjuang menghadang bedil dan mesiu melawan penajajah Belanda. ***

 

 

 

 

Leave a Reply

*