Tenun Ikat Motif Gajah Dari Ternate Alor

Rahmad Nasir Owner Tenun Tradisional Nasir Family Alor-NTT (Foto : RN)

Oleh : Rahmad Nasir (Owner Tenun Tradisional Nasir Family Alor-NTT)

Faktual.co.id – Jika anda mampir ke Alor salah satu kabupaten di paling Timur Propinsi NTT yang juga masuk wilayah Indonesia timur. Kabupaten yang berbatasan langsung secara laut dengan Negara Republik Demokrat Timor Leste (RDTL). Dalam keseharian anda berpeluang besar menemukan pakaian adat bermotif gajah dalam bentuk baju kantoran, selendang yang digantung di leher serta selimut dan sarung yang dipakai untuk tidur melindungi tubuh dari dinginnya malam.

Mungkin anda temukan di kantor-kantor pemerintahan maupun swasta serta di rumah-rumah penduduk. Apalagi jika anda kebetulan berpapasan dengan momentum-momentum hari besar nasional, keagamaan atau kegiatan-kegiatan budaya.

Motif gajah sudah sangat terkenal di Kabupaten Alor. Motif gajah adalah motif yang berasal dari masyarakat Ternate khususnya Desa Ternate kampung Umapura. Kini motif kain tenun gajah telah dimodifikasi dalam bentuk fashion rok dan gaun yang lebih moderen. Pemakai motif tenunan gajah datang dari berbagai kalangan mulai dari masyarakat biasa, pegawai, pejabat baik level kabupaten maupun propinsi.

Baru-baru ini pemenang Rising Star Indonesi II (RSI) II RCTI sempat memakai baju tenunan gajah dalam satu penampilannya yang dilihat seluruh masyarakat Indonensia. Jika anda bertanya apakah disukai wisatawan mancanegara? Tentu disukai karena saya sendiri adalah saksi hidup yang menjualnya kepada kaum bule beberap kali.

Pertanyaan yang masih mengganjal adalah dari mana asal-usul hadirnya motif tenun ikat gajah di Alor? Hal ini dikarenakan tidak ada satu ekor gajah pun yang hidup di Alor. Sama seperti gading gajah di Flores sebagai belis/mas kawin gadis di sana. Pertanyaan yang terus mengiang di telinga saya itu akhirnya terkuak ketika bertanya pada salah satu guru tenun di Ternate bahwa dulu gajah pernah hidup namun mati karena tak ada air.

Kendati masih sangat kabur alias belum bisa dibuktikan namun setidaknya itu jawaban awal dari rasa penasaran saya. Secara rasional yang masuk akal adalah meskipun gajah tak harus ada di Alor, namun cukup dengan gambar gajah sebagai citra imajinasi para pengrajin. Hal ini pun masih bisa disangsikan karena zaman dahulu belum ada kamera canggih yang dapat mengabadikan gajah yang ada di Sumatera. Saya bahkan menghayal mungkin gajah itu didapat dari hasil mimpi pengrajin tenun ikat di ternate. Atau mungkin saja ada pelukis hebat dari Sumatera yang merantau ke Alor.

Semua kemungkinan di atas masih bisa diperdebatkan karena motif gajah sudah turun-temurun dibuat oleh generasi Ternate Alor. Kini tenunan motif gajah masuk dalam kategori tenunan berkelas di Alor. Kisaran harga yang dipatok Rp.400.000,- ke atas per lembar membuat tenunan ini hanya bisa dimiliki oleh orang dengan penghasilan di atas nominal tersebut per bulannya. Tenunan motif gajah biasa juga dipakai dalam acara tarian lego-lego khas Alor sebagai simbol pemersatu berbagai perbedaan konfigurasi masyarakat di Alor.

Anda dapat membeli tenunan gajah dalam satu paket yakni dengan pasangan selendangnya. Saat pawai-pawai seperti karnaval 17 Agustus, pawai Hari Pendidikan Nasional serta berbagai pawai lainnya pasti ditemukan ada motif gajah diantara barisan manusia yang tersedia dalam berbagai ukuran, jenis benang dan warna yang bermacam-macam.

Hal ini dimksudkan untuk memberi banyak pilihan warna kepada calon pembeli yakni ketergantungan kesukaan warna masing-masing pribadi. Sarung gajah juga tersedia dalam rupa yang diselingi banyak motif (mofa) dan ada pula sarung yang hanya dalam bentuk gajah polos. Variasi ini tidak menjadi masalah karena tergantung minat dan kesukaan pelanggan sarung gajah.

Untuk itulah saya mengajak kepada seluruh masyarakat dunia, Indonesia apalagi NTT dan Alor secara khusus untuk bisa memiliki tenunan motif gajah sebagai salah satu simbol tenunan Alor. Jika kebetulan anda mampir ke Alor jangan lupa untuk segera memiliki oleh-oleh khas Alor ini sehingga menjadi tanda mata berharga bagi anda sebagai wisatawan. Setidaknya jika tenunan motif gajah membalut tubuh anda, anda akan merasa nyaman serta memiliki nilai estetika yang unik bahkan menjadi kebanggaan anda.

Sebagai orang yang bergerak dalam bisnis ini, saya dan ibu saya bergerak ke kampung hingga ke kebun-kebun pengrajin di hutan hanya untuk mencari sarung motif gajah dan jenis motif lainnya. Hal ini karena umumnya kami masyarakat Ternate selain suami-suami dan laki-laki pada umumnya bekerja sebagai nelayan juga bekerja sebagai petani.

Kebun-kebun mereka banyak terletak di pulau Ternate serta di seberang pulau Ternate. Ibu-ibu dan kaum perempuan pada umumnya membawa perlengkapan tenun ke kebun untuk ditenun. Untuk itulah bagi saya etos kerja masyarakat ternate begitu tinggi. Tidak heran banyak di antara generasi Ternate yang mengenyam pendidikan hingga perguruan Tinggi.

Apa pun alasannya fashion sebagai satu bagian penting dalam membentuk kebudayaan bahkan peradaban suatu bangsa sehingga perlu dilestarikan dengan cara terus diadakan, disosialiasi ke dunia luar serta harapannya dapat memberikan manfaat citra baik sebagai masyarakat berbudaya yang punya jati diri serta memperoleh keuntungan ekonomi bagi keberlangsungan hidupnya. Salam Budaya.***

Leave a Reply

*