PAN Berharap Pertumbuhan Ekonomi Ditopang Surplus Penerimaan Negara

PAN Berharap Pertumbuhan Ekonomi Ditopang Surplus Penerimaan Negara

Oleh : Munir A.S

Faktual.co.id – Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR RI dalam pandangan Fraksi menanggapi pokok-pokok kebijakan fiskal RAPBN 2018, mengatakan, target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah pada RAPBN 2018 sebesar 5,5 – 6,1 % terlalu opimistik. Meskipun PAN percaya, trend pertumbuhan yang positif pada tahun 2017, menjadi celah bagi pertumbuhan ekonomi tahun 2018, seturut perekonomian global yang perlahan-lahan kembali pulih.

Dalam pandangan Fraksi yang dibacakan pada Sidang Paripurna DPR RI, Senin (30/05/2017), PAN mengingatkan pemerintah, agar patokan pertumbuhan ekonomi yang optimistik pada tahun 2018, tak ditopang oleh pelebaran defisit APBN. Defisit APBN perlu dijaga pada persentase aman sesuai ketentuan UU, yakni tak lebih dari 3%. PAN justru berharap, ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang optimistik dari pemerintah, harus ditopang surplus penerimaan negara. Bukan pertumbuhan yang getas di atas tumpukan utang akibat pelebaran defisit.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan RI, hingga april 2017, utang pemerintah sudah mencapai Rp.3.600 triliun, hampir dua kali lipat dari APBN. Utang ini terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2.932,69 triliun (80%) dan pinjaman sebesar Rp734,71 triliun (20%). rasio utang terhadap PDB Indonesia hanya mencapai 30%.

Pada kesempatan rapat paripurna DPR, PAN juga berharap, pertumbuhan ekonomi tahun 2018 perlu diproyeksi sebaik mungkin, dengan catatan, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sektor perdagangan dan investasi padat karya, dengan demikian, pertumbuhan ekonomi bisa mengkompensasi terbukanya lapangan pekerjaan dan menekan angka pengangguran dan kemiskinan.

Dalam jangka pendek, PAN berharap, pemerintah juga perlu menjaga stabilitas inflasi dan daya beli masyarakat. Khusus bulan Ramadan 1438 H dan menjelang hari raya Lebaran, pemerintah perlu menjaga kestabilan inflasi, terutama komponen pangan tertentu yang setiap tahun menjadi penyebab tingginya inflasi pada hari-hari besar keagamaan seperti menjelang Ramadan dan Lebaran.

Senada dengan harapan PAN, dalam pandangan Fraksinya, partai Gerindra pun menyoal asumsi pertumbuhan ekonomi yang optimistik dari pemerintah. Menurut Gerindra, belum terlihat jelas indikator-indikator ekonomi yang mampu menopang pertumbuhan 5,5-61% sebagaimana ekspektasi pemerintahan Jokowi. Partai besutan Jenderal (Purn) Prabowo ini justru khawatir, ekepektasi pertumbuhan  ekonomi yang tinggi ini justru akan memperlebar defisit dan utang baru bagi pemerintah. Sementara saat ini, pengelolaan utang oleh pemerintah tidak produktif dan belum memberi nilai tambah signifikan pada perekonomian Indonesia. ***

 

 

 

 

Leave a Reply

*