Kuliner Benhil Dan Sarabi si Uni

Kuliner Benhil Dan Sarabi si Uni

Oleh : Munir A.S

Faktual.co.id –Selain menghindari macet sepanjang Semanggi, setiap bulan puasa, selepas kerja di daerah Senayan, saya selalu melipir sekitar Bendungan Hilir. Di sana aneka kuliner digelar. Dari menu ta’jil hingga makanan berat. Selain belanja ta’jil, disitu bisa sejenak makan angin dan cuci mata. Tak sedikit gadis cantik yang ikut menjajakan kuliner di Benhil. Rata-rata dara Minang yang kuning langsat kulitnya.

Dari pukul tiga sore, kawasan Benhil sudah padat merayap. Setiap lewat Benhil, tak lupa saya memboyong Sarabi “Rumah Makan Padang Uni.” Sarabi Uni tak dijejal berjejer di pinggir jalan. Persisnya di belakang lorong kios buah-buahan. Setiap datang ke depot sarabi Uni, ia menyambutnya dengan senyum. Bahasa Indonesia, dengan dialek Minang yang kental.

Sarabi Rumah Makan Padang Uni rasanya spesial. Ukurannya sedang. Tak cuma aroma gula merah pada kuah santan, tapi juga wangi daun pandan yang tajam menohok. Bahan-bahan sarabi dibikin dengan komposisi yang tepat. Tak saling melampaui.

Sesekali harum daun pandan yang mendominasi, tapi rasa dan aroma gula merah pun ikut membikin cita rasa sarabi si Uni top markotop. Kuah sarabi Uni masih selalu hangat saat dibungkus. Setiap kali mau pesan sarabi, si Uni selalu mencucuhkan api untuk memanasi kuah sarabi. Kalau ke depot Sarabi Uni, saya selalu bilang si Uni agar kuahnya dilebihkan.

Daerah Bendungan Hilir memang rajanya kuliner saat Ramadan. Tak cuma Sarabi uni yang popular di lidah saya, tapi juga jejalan kuliner lain yang tak kalah maknyus. Persis depan Parkiran Benhil, ada kue Risol yang top banget rasanya.

Risolnya komplit. Ada ayam cincang dengan tekstur yang halus saat dikunya. Kentangnya pun padat dengan aroma saledri dan bawang putih yang rasanya saling memandu. Kalau pesan Risol di tempat ini, saya selalu melebihkan cabe rawit. Biar sengatan pedas dan gurih Risol beradu sengit saat dimakan. Heboh rasanya.

Tak luput, saya pun tak melewatkan Pepes Ikan Bilis di Benhil. Saat di Jorong Gantiang Sumatera Barat, saya pernah makan Palai. Semacam pepes Bilis tapi beda isinya. Palai isinya ikan Bilis, daun singkong dan kelapa parut. Sebelum makan Palai, saya paling suka mengendus aroma kunyit dan kemangi yang meledak dari dalam bungkusan pisang Palai yang agak gosong. Belum lagi pertemuan asam jeruk nipis dan gurihnya kelapa parut dalam Palai. Aroma kunyit, kemangi, rasa asam jeruk nipis dan gurih kelapa parut, disempurnakan dengan gurhnya ikan Bilis khas danau Singkarak. Gila maknyusnya. Dari semunya, aroma asam daun pisang gosong, pun menggelitik taste Palai khas Jorong Gantiang.

Saat menemukan Pepes Ikan Bilis di Benhil, seperti menghela memori saya tentang Palai dari Jorong Gantiang Sumatera Barat. Tak dinyana, pepes ikan Bilis di Benhil pun tak kalah maknyus. Rasa belimbing wulus pepes Bilis dominan dan khas. Rasa asam dan pedas, menyempurnakan taste Pepes Bilis. Kalau sempat lewat Benhil, saya selalu memboyong Pepes Bilis. Memori saya tentang Palai Jorong Gantiang, selalu memantik keinginan membeli Pepes Ikan Bilis Benhil setiap kali lewat. Ke pusat Kuliner Benhil saat pulan puasa, butuh kesabaran ekstra. Macetnya parah. Dijejali kenderaan bermotor.

Bulan Ramadan selalu punya kisah sendiri. Tak cuma penggemblengan spiritual, tapi juga jejalan kuliner memperkaya khazanah budaya nusantara. Benhil hanyalah salah satu di antara kota-kota Indonesia, dimana budaya di gelar melalui sajian kuliner. Ramadan di kota-kota berbudaya di Indonesia, selalu punya cerita dan nilai, dari ngabuburit hingga aneka kuliner mewakili kearifan lokal masing-masing suku dan etnis. Ke Benhil yuk !

Leave a Reply

*