Kolesterol Lebaran

Kolesterol Lebaran

Oleh : Munir A.S (Kontributor)

Faktual.co.id – Sayur lode, sayur buncis tauco, opor ayam, rendang, gulai kambing dan aneka kuliner berbahan dasar santan dan minyak digelar berjejal di atas meja makan. Lebaran persis pegelaran kuliner. Ini seperti hari begah se dunia. Dihari lebaran, semua orang makan. Ini kultur nusantara. Setiap rumah yang didatangi untuk silaturahmi bakda salat Id, pasti diberi makan khas lebaran. Bukan berarti rakus dan hantam kromo. Yang jelas setelah itu pasti begah.

Jadi aneka menu lebaran ini, bukan melulu dimaknai dalam perspektif kebutuhan lambung, tapi ini suatu trans value. Suatu medium komunikasi. Makanan cuma penghubung. Mulut dan lambung serta organ metabolisme lainnya, cuma sebatas jembatan. Lebaran dan aneka kulinernya, bukan hari pembalasan, setelah selama sebulan anda dilatih memenjarakan lambung, dari terbit fajar hingga terbenam matahari, lalu disaat lebaran anda blingsatan melihat makanan. Salah.

Ketupat dan opor ayam yang kita makan cumalah peristiwa trans-substansiasi. Seperti trans-substansiasi roti dan anggur, sebagai suatu trans-substansiasi darah dan daging Kritstius untuk menebus dosa dalam perspektif teologi iman katolik. Suatu transmisi nilai dari simbol. Bisa berupa makanan seperti ketupat, opor ayam atau apapun. Selalu ada perspektif (kualitatif) di balik dialektika materi.

Jadi, ketupat dan opor ayam, memberikan pesan simbol persaudaraan. Yang perlu kita maknai bukan cita rasa material dari ketupat dan opor ayam, tapi lebih pada substansi yang ditransmisikan melalui makan ketupat dan opor ayam bersama keluarga dan handai tolan. Magnet cita rasa yang mampu menghela tali persaudaraan (ukhuwah/brtatherhood)  di hari lebaran.

Selain cita rasa khas lebaran itu, yang lebih penting adalah keluarga, sanak family bisa kumpul sambil sungkeman antara yang muda pada yang tua, istri kepada suami, anak kepada orang tua dan seterusnya.  Di sini letak inti makna lebaran dan pernak-perniknya.

Tapi memang, semua amalan harus ada mujahadah-nya. Ada kerelaan dan pengorbanan. Oleh karena itu, setelah lebaran, pasien struk, serangan jantung dan hypertensi serta mencret bergelimpangan di klinik dan rumah sakit. Semua ini karena semangat silaturahmi melalui medium lebaran berikut pernah-pernik di baliknya, termasuk kuliner lebaran.

Disinilah awal mula hasil gemblengan puasa di uji. Menahan diri. Yang punya riwayat jantung, kolesterol, dan hypertensi perlu menahan diri. Yang punya masalah dengan organ metabolsiem harus hati-hati makan. Di sinilah perlunya menahan bumbungan selera makan yang terus ditohok Sayur lode, sayur buncis tauco, opor ayam, dan rendang sapi atau kambing. Jika tak ingin tepar setelahnya.

Lebaran selalu punya cerita. Ada euphoria kemenangan setelah merengkuh sukses bersama puasa, ekspresinya  meluber saat bakda lebaran. Ekspresi terlihat dari semarak kuliner khas lebaran. Ekspresi terlihat dari cara menikmati Sayur lode, sayur buncis tauco, opor ayam, dan rendang sapi atau kambing. Meski akhirnya ditelikung kolesterol jahat sayur lode, sayur buncis tauco, opor ayam, dan rendang sapi atau kambing. Mari menahan diri.

Leave a Reply

*