Goodbye 7-Eleven

Goodbye 7-Eleven

Munir A.S

Faktual.co.id – Sekelompok laki-laki paruh baya, menegak bir dengan mulut botol ditungging  ke arah mulutnya. Mereka ngobrol dan tertawa pecah. Gelimpangan kulit kacang garuda dan kepulan asap rokok kretek merobek hawa malam. Sekumpulan cabe-cabean dengan celana jengki dan baju super ketat, duduk setengah mabuk dengan bibir agak lembab. Rambutnya yang bercet merah api, terurai di pundak bahu pria seumurnya. Keduanya ngoceh tak karuan. Beberapa kali saya melihat, sekelompok anak muda, baku hantam di Sevel. Pemicunya akibat alkohol yang sudah penuh di kepala. Pemandangan begini, terjadi saban hari di salah satu 7-Eleven di kawasan Salemba Jakarta Pusat.

Saya acap nagkring di 7-Eleven. Sekedar makan angin dan cuci mata bersama teman-teman. Empat atau lima tahun lalu, gerai ritel ini merajai segmen pasar anak muda di malam hari. Salah satu keunggulan produk 7-Eleven adalah tempat nongkrong dengan aneka makanan dan minuman ringan hingga minol. Adalah anomali, sasaran segmen pasar 7-Eleven merupakan kelas menengah ke atas, oleh sebab itu, produk-produk yang dijual Sevel pun jauh lebih mahal. Padahal, mereka-mereka yang datang ke 7-Eleven, adalah yang tak mampu beli minuman mahal di bar atau kafe.

Dengan pola convenience store, 7-Eleven tumbuh bak jamur. Ada di setiap sudut Jakarta dengan menyerap 1.605 tenaga kerja. Meskipun ada beberapa gerai ritel convenience store yang menawarkan produk serupa, namun brand image 7-Eleven kadung mengakar kuat di segmen pasarnya. Ada Lawson dan sejenisnya, namun kelah pesat dengan pertumbuhan 7-Eleven.

Di tahun 2014-2015, Saat menteri perindustrian Rahmat Gobel masih menjabat, ia mengeluarkan produk regulasi yang agak berani. Melarang penjualan minol 5% di pasar ritel seperti minimarket. Kebijakan Menperin itu, memantik dilema, pasalnya, tiap tahun cukai miras berkontribusi bagi penerimaan negara sebesar Rp.6 triliun. Tapi lagi-lagi Gobel tak mundur dan bertanya pada publik, milih Rp.6 triliun atau rusaknya moralitas anak muda? Keukeuhnya bos Panasonic Indonesia itu, kemudian merontokkan pendapatan gerai ritel seperti 7-Eleven yang selama ini tumbuh mengandalkan produk miras.

Meski pun setelah Menperin pindah tangan ke Thomas Lembong, penjualan miras di gerai ritel tak lagi permisif di mata publik. Berbagai kalangan tetap mendukung larangan penjualan Miras di gerai ritel. Meskipun Menperin Tomas keukeuh ingin merelaksasi regulasi sebelumnya terkait penjualan miras, tapi langkah itu tak lagi mampu membendung 7-Eleven yang kadung jatuh terperosok.

Gerai ritel asal negeri Paman Sam itu, dikabarkan rugi tiap bulan Rp 500 miliar. Pada Maret 2017, perseroan mencatatkan kerugian sebesar Rp 447,93 miliar pada entitas induk. Sementara pada periode pembukuan yang  sama di tahun sebelumnya untung Rp 21,31 miliar. PT Modern Internasional Tbk juga alami penurunan penjualan 37,17 persen dari Rp 220,66 miliar menjadi Rp 138,62 miliar pada kuartal I 2017.

Meskipun upaya penyelamatan dilakukan dengan melego sahamnya ke pihak lain, Sevel tetap tak tertolong. Perlahan-lahan gerai-gerai 7-Eleven di beberapa titik kota mulai hengkang; tutup.

“Kami bermaksud untuk menginformasikan bahwa per tanggal 30 Juni 2017, seluruh gerai 7-Eleven di bawah manajemen PT Modern Sevel Indonesia yang merupakan salah satu entitas anak perseroan akan menghentikan kegiatan operasionalnya,” Pernyataan Direktur PT Modern Internasional Tbk (MDRN) Chandra Wijaya pada (23/Juni) ini, menjadi ucapan selamat tinggal dari 7-Eleven kepada publik.

Menurut Candra, rencana transaksi material Perseroan atas penjualan dan transfer segmen bisnis restoran dan convenience store di Indonesia dengan merek waralaba 7-Eleven beserta aset yang menyertainya oleh PT Modern Sevel Indonesia kepada PT Charoen Pokphand Restu Indonesia mengalami pembatalan. Ini lantaran tidak tercapainya kesepakatan atas pihak-pihak yang berkepentingan.

Berhetinya gerai ritel 7-Eleven, menyisahkan nestapa. Ada 1.605 orang bekas karyawan sevel yang hilang pekerjaan. Pemerintah mestinya mulai putar otak, menstimulasi industri ritel seperti 7-Eleven agar tak ikut rontok. Industri ritel selama ini berperan besar menyerap tenaga kerja. Selama ini, kontribusi industri ritel terhadap tenaga kerja adalah 12,19 % dari tenaga kerja nasional. ***

Leave a Reply

*