Rakernas PAN, Menjahit Kembali Merah Putih

Rakernas PAN, Menjahit Kembali Merah Putih

Oleh : Munir A.S

Menjahit Kembali Merah Putih adalah tema Rakernas Partai Amanat Nasional (PAN) di Bandung pada tanggal 21-23 Agustus 2017. Narasi pendek yang mengorek memori kita, untuk kembali ke72 tahun silam, ketika Proklamasi 1945 yang menjadi tonggak awal terajutnya Indonesia.

Tema menjahit kembali merah putih, memiliki daya rekat pada masa lalu, ketika Indonesia dirajut dari multi kulturalisme menjadi suatu negara kesatuan yang merdeka pada 17 Agustus 1945. Kemerdekan Indonesia, menjadi etape awal perjalanan Indonesia yang baru saja mengalami penyatuan dari kenyataan keragaman.

Kemerdekaan, Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika, adalah basis nilai, sekaligus menjadi kohesi yang menarik begitu kuat sekian fakta keragaman ke dalam entitas keindonesiaan. Alhasil, nama Indonesia sendiri, adalah episentrum yang menyimpan sekian identitas primordial dalam bangunan ideologi kebangsaan bernama Pancasila.

Belakangan, kebhinekaan yang tersusun dalam bandera merah putih, terkoyak di atas gelanggang politik. Gelanggang brutalisme politik yang acap kali menampilkan arogansi, oligarki dan praktek tirani politik yang bercokol dalam kekuatan modal dan demokrasi neolib.

Demokrasi neolib, mengandaikan gelanggang politik bak pasar, kekuatan modal, adalah tangan ajaib yang membuat politik begitu liar dan berlakulah hukum; yang kuat dan bermodallah yang menang dan berkuasa, demikian dan seterusnya. Demokrasi Pancasila yang mestinya menjadi demarkasi ideologis dalam membatasi geliat prakatek demokrasi neolib, pun acap kali ditafsir berdasarkan pasar informasi yang dikendalikan oleh kekuatan modal.

Media mainstream dan frekuensi publik yang dikendalikan oleh mekanisme pasar dan kekuatan modal, mengonstruksi fakta dan dan opini sepihak. Cara berpikir rakyat tentang politik dibajak oleh informasi yang bablas. Pancasila acap kali ditafsirkan dengan standar ganda untuk keuntungan praktek oligarki demokrasi. Fakta dan opini diproduksi oleh industri media yang dikuasai sekelompok kecil orang bermodal kakap. Kita kadang tertegun mengernyitkan kening mencermati diaspora makna Pancasila, UUD 1945 dan kebhinekaan dalam praktek politik yang acap kali bias dari pilar-pilar kebangsaan.

Klaim saya Indonesia, Saya Pancasila pun mendidih di ruang-ruang publik. Sesama anak bangsa saling menegasikan. Dan muncullah sekelompok kecil orang yang merasa lebih pancasilais dan lebih pluralis. Sementara kelompok lain yang membela diri karena dicederai hak-hak teologis, spiritual dan konstitusinya, dicap ekstrimis, fundamentalis, radikalis dan anti kebhinekaan. Kenyataan itu yang kita saksikan pada Ahok efek di Pilkada DKI 2017 serta dampak turunannya yang nyaris menggiring Indonesia ke tubir perpecahan.

Dus, pasang surut soliditas keindonesiaan di bawah bandera merah putih, mengalami penyadaran alamiah. Tiba-tiba saja kita sadar akan identitas keindonesiaan, lantas tensi dan krisis diaspora kebhinekaan, mengalami penyembuhan alamiah seiring kesadaraan akan keindonesia yang begitu kuat menjadi antibodi kebangsaan kita.

Tidaklah berlebihan, bila Rakernas PAN III yang berlangsung di Bandung dengan tema “Menjahit Kembali Merah Putih,” adalah narasi singkat yang memiliki daya dorong psikologis untuk mengungkit dan mengumpulkan kembali nilai-nilai keindonesiaan yang berserakan.

Benang-benag identitas keindonesia yang berserakan itu, dirajut kembali oleh partai berlambang matahari ini. Sebagai partai pluralis, PAN memiliki tugas kebangsaan untuk terus menjaga dan menyatukan Indonesia dari segala macam gangguan kebhinekaan. Jayalah Indonesia dan Jayalah Partai Amanat Nasional. Selamat menjalankan Rakernas PAN III di Bandung. Salam Persatuan Indonesia.

*** Ditulis oleh : Kader PAN, Ketua Badan Humas dan Media Masa Dewan Pimpinan Pusat Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN)

Leave a Reply

*