NEOM Diantara Modernisasi dan Liberalisasi Arab Saudi

NEOM Diantara Modernisasi dan Liberalisasi Arab Saudi

Penulis : Munir A.S

Faktual.co.id – Seteru ulama wahabi versus kerajaan Arab Saudi, memasuki babak berikut, setelah kerajaan Arab Saudi membolehkan kaum hawa di negeri gurun pasir itu menyetir mobil sendiri. Kini, kerajaan Arab Saudi melalui putra mahkota Mohammed bin Salman, tengah menyiapkan pembangunan kota wisata sekaligus menjadi kawasan bisnis yang diberi nama NEOM dengan nilai investasi sebesar US$500 miliar atau kurs rupiah sekitar Rp.6.783 triliun.

Adapun investasi yang disasar mega proyek NEOM meliputi sembilan sektor, diantara;energi, air, transportasi, bioteknologi, makanan, ilmu-teknologi digital, manufaktur, media, dan hiburan. Proyek ambisius ini akan dibangun di semananjung laut merah. Zona bisnis raksasa ini akan diekspansi hingga ke Yordania dan Mesir.

Oleh media berbahasa asing bernama Dezen.com (27/10/2017); merilis, kota yang disebut Neom ini akan membentang seluas 26.500 kilometer persegi, membentang melintasi perbatasan Arab Saudi barat laut ke Yordania dan Mesir. Ini dirancang untuk beroperasi sebagai zona perdagangan ekonomi independen dengan undang-undangnya sendiri, dan menjadi zona bisnis swasta pertama yang menjangkau tiga negara.

Pemerintahan Arab Saudi sendiri tengah mempersiapkan diri, menuju diversifikasi ekonomi, setelah sekian lama, menggantungkan pendapatan ekonom negaranya dari minyak bumi. Investasi sebesar US$ 500 miliar, adalah angka fantastis menuju transisi ekonomi Arab Saudi. Dengan harapan, NEOM, akan menjadi episentrum bisnis kaliber yang akan menarik para pelaku usaha dunia. Sebagai kota wisata dan sentra bisnis, NEOM juga akan merencanakan industri hiburan semisal diskotik dan tempat hiburan malam lainnya. “NEOM merupakan lompatan peradaban Arab menuju modernisasi Arab Saudi.” Demikian, kata putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

Dalam siaran persnya yang dirilis Bloomberg, Oktober 2017, putra mahkota kerajaan Arab Saudi itu mengatakan, NEOM merupakan sebuah kota moderen yang seluruh pelayanan wisata, bisnis dan hiburan menggunakan sistim robotisasi. “Semuanya akan memiliki kaitan dengan kecerdasan buatan, dengan Internet of  things.” Demikian pernyataan Mohammed bin Salman dalam sebuah wawancara di Ritz Carlton; Riyadh.

Sebuah situs yang didedikasikan untuk konsep Neom menyatakan, bidang yang akan dinvestasikan di NEOM, akan menarik “sumber daya manusia berkaliber tinggi” dan tugas biasa atau rutin akan dilakukan oleh robot. “Tugas rutin dan berat akan sepenuhnya otomatis dan ditangani oleh robot. Semua elemen ini akan menempatkan NEOM di garis terdepan dalam hal efisiensi, yang akan menjadikannya tujuan terbaik di dunia untuk investasi bisnis.”

NEOM sebagai sentra bisnis dunia yang bertajuk kota masa depan ini, memungkinkan adanya suatu perubahan sosial, seiring masuknya investor dari luar Arab. Tak bisa dinafikan, migrasi nilai dan budaya pun akan turut memberikan tantangan baru bangun kultur masyarakat Arab dan Islam. Sentra bisnis dan pariwisata, tentu tak lepas dari hiburan malam dan pernak-perniknya seperti wanita penghibur dan alkohol yang akan memantik protes ulama konservatif wahabi. Kelompok Islam militan yang menjadikan Wahabisme Arab sebagai patokan dalam revivalisme Islam, pun akan menjadi tantangan serius bagi ambisi Mohammed bin Salman; putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi *

Leave a Reply

*