Transaksi Serba Online dan Ancaman PHK

Transaksi Serba Online dan Ancaman PHK

Penulis : Munir A.S

Faktual.co.id –Salah satu harian nasional terkemuka menulis agak khawatir tentang sistem transaksi digital di dunia perbankan. Betapa sistem transaksi serba online menimbulkan kekhawatiran besar bagi karyawan bank. Pasalnya kultur baru sistem transaksi serba daring, membuat manajemen bank tengah mempertimbangkan pengurangan karyawannya.

Tentu alasan utama pemanfaatan teknologi transaksi online di dunia perbankan adalah dalam rangka efisiensi. Selain itu, juga dalam rangka menekan tingkat penyimpangan (fraud) yang sering kali terjadi.

Pada pertengahan September 2017; kekhawatiran yang sama terjadi pada karyawan jalan tol. Dihapusnya pembayaran tunai dan diganti sistem pembayaran non tunai atau e-toll; menyebabkan ratusan karyawan jalan tol terancam dipecat.

Meskipun PT Jasa Marga (Persero) keukeuh mengatakan; tak akan ada PHK. Tapi sebagai korporasi; efisiensi adalah langkah paling ampuh untuk memperkecil beban pengeluaran. Pasalnya setelah dihapuskannya pembayaran tunai di jalan tol; para pekerja yang biasanya ada di pos pembayaran pintu tol tak lagi bermanfaat. Sementara mereka terus digaji.

Pancaroba kultur kerja ke arah digital atau serba daring; akan merambah ke semua lini industri. Mekanisme kerja serba online; akan menggeser tugas-tugas manusia. Manusia bukan lagi menjadi elemen produksi sebagaimana pikiran Karl Marx. Teknologi digital manjadi taksonomi baru dalam industrialisasi. Secara evolutif kerja revolusi digital akan menggeser peran manusia.

Kotan masa depan NEOM yang di-lounching putra mahkota kerajaan Arab Saudi; Mohammed bin Salman, adalah suatu declare penuh keyakinan; dimana masyarakat Arab akan mengalami modernisasi habis-habisan. Kota itu digadang-gadang; akan memberikan pelayanan serba robotik di dunia bisnis, wisata dan hiburan malam dengan nilai inveatasi US$ 500 miliar. Sepadan dengan tiga kali APBN Indonesia. “Semuanya serba internet of things,” begitu kata sang pangeran Salman.

Arab Saudi; sedang meletakkan prototipe kota masa depan yang serba digital. Sebuah kota yang seluruh kegiatannya tinggal memencet tombol. Kota masa depan; kota digital.

Ada sejumlah kekhawatiran yang menumpuk disini. Bila revolusi digital ini berlaku masif dan masuk di setiap lini industri; maka secara masif pula kerja-kerja teknis yang selama ini dilakukan secara manual oleh karyawan akan digantikan dengan serba online dan robotik.

Pada titik ini; ada suatu tata nilai baru akan terbentuk. Relasi kerja tak lagi dalam bentuk relasi manusia dengan manusia. Tapi relasi benda-benda digital dengan konsumen. Keramahan dan senyuman sebagai elemen penting pelayanan tak lagi ada disini.

Manusia semakin mekanis. Kulturnya semakin positivistik. Nilai-nilai humanIsme akan terputus disini; manusia (konsumen) hanya berhubungan dengan benda-benda mati dalam revolusi induatri digital yang semakin masif.

 

 

Leave a Reply

*