Energi Listrik Penopang Ekonomi

Energi Listrik Penopang Ekonomi

Faktual.co.id – Dua hari lalu (30/11) Di beberapa media online menulis berita surplus listrik di kawasan Jawa. Sebaliknya kawasan Timur Indonesia yang acap kali diterpa masalah defisit listrik. Seorang kolumnis dari sebuah universitas ternama, di salah satu harian ibukota menulis dengan judul yang menarik, Jangan Takut Surplus Listrik; karena bisa menjadi buffer stock atau dijual pada swasta. Solusi yang kedua ini agak neolib !

Ada teori yang selalu dipercayai pemerintah, bahwa pertumbuhan GDP per kapita, menuntut kebutuhan listrik nasional. Dengan demikian setiap pertumbuhan ekonomi sekian persen, menuntut peningkatan rasio elektrifikasi nasional.

Dengan rumusan macam ini, maka pemerintah selalu menggunakan asumsi kebutuhan listrik berdasarkan pertumbuhan ekonomi. Artinya rasio elektrifikasi menggunakan demand driven. Bukan supply driven.

Data empiris dari berbagai negara di dunia menunjukan bahwa setiap 1 kwh konsumsi listrik akan memberikan kontribusi sekitar $4 – $5 PDB. Cina sebagai salah satu negara dengan PDB terbesar di dunia misalnya, dari tahun 1985-2015 tren PDP-selalu mengikuti kapasitas listrik terpasang.

Artinya, asumsi bahwa investasi dan konsumsi sebagai economic driven tidak sepenuhnya benar. Dan nyatatanya, ketersediaan energi listriklah yang menjadi economic driven.

Dalam soal ini, politik energi kita, khususnya soal ketenagalistrikan, selama ini selalu menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan konsumsi. Dengan demikian PT PLN sebagai satu-satunya perusahaan listrik nasional memproduksi listrik berdasarkan kebutuhan pasar. Lebih pada orientasi profit.

Berbeda dengan PLN sebelum menjadi BUMN. Sebelumnya, perusahaan listrik pelat merah ini benar-benar menjalankan fungsi sebagai Public Service Obligation (PSO), dimana fokus pada menyediakan pasokan listrik bagi masyarakat.

Karena produksi listrik lebih berkutat pada asumsi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan, maka permintaan listrik di kawasan Jawa dan Sumatera mengalami peningkatan. Dengan demikian pasokan listrik terkonsentrasi di kawasan Jawa dan Sumatera.

Sebaliknya defisit listrik, acap kali terjadi di kawasan Timur Indonesia, khususnya Nusa Tenggara dan Papua. Karena pemerintah selalu menggunakan asumsi demand bukan supply sesuai dengan economic size di kawasan Timur Indonesia.

Penulis : M Sara

Leave a Reply

*