Menimbang Koalisi PAN, PKS dan Gerindra di Pilkada 2018

Mora Harahap (foto @mora)

Oleh : Mora Harahap

Faktual.co.id– Beberapa waktu lalu PAN, PKS, dan Gerindra memutuskan untuk berkoalisi di beberapa Pilkada 2018. Komitmen ketiga partai ini untuk berkoalisi di lima provinsi diantaranya Jawa Barat, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara adalah manuver politik yang bisa jadi membawa dampak yang sangat besar bagi masing-masing partai politik. Keputusan ini juga membuat publik dan partai-partai lain terkejut.

Yang sontak membuat publik paling terkejut adalah proses pencalonan Cagub-Cawagub di Jawa Barat. Dimana partai-partai tersebut yang awalnya berkomunikasi dan sudah hampir pasti mendukung Dede Mizwar berubah haluan mendukung kader Gerindra Sudrajat berpasangan dengan kader PKS Ahmad Syaikhu. Lantas dimana kader PAN? Apakah nama-nama seperti Desy Ratnasari, Bima Arya, dan Primus Yustisio tidak lebih populer?

Di Sumatera Utara PAN bersama dengan Gerindra dan PKS mengusung mantan Pangkostrad Edy Rahmayadi menjadi Cagub. Dan kemungkinan besar akan berpasngan dengan Musa Rajekshah (Ijeck) sebagai Cawagub. Dari dua sosok nama itu apakah mereka kader PAN? Atau memiliki irisan yang sangat baik terhadap perjuangan PAN selama ini? Tentulah tidak ada jaminan PAN akan semakin berjaya jika mereka terpilih nantinya.

Bergeser ke Jawa tengah dimana mantan anak buah presiden RI Sudirman Said diusung ketiga partai ini untuk menjadi Cagub. Adapun nama Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan digadang-gadang untuk mendampinginya sebagai Cawagub. Namun sampai saat ini Sudirman Said sendiri belum memutuskan siapa yang akan menemaninya. Proses komunikasi politik disana masih sangat dinamis dan alot. Jangan sampai akhrinya kader PAN juga kehilangan kesempatan untuk berfastabiqul khairat disana.

Sedangkan di Kalimantan Timur nama Isran Noor-Hadi Mulyadi diberi mandat oleh ketiga partai koalisi untuk menjadi Cagub-Cawagub. Isran Noor sendiri adalah mantan bupati Kutai Timur yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PKPI setelah Sutiyoso. Pada saat konvensi Partai Demokrat nama Isran Noor juga muncul sebagai calon Ketua Umum. Sedangkan Hadi Mulyadi adalah kader PKS yang saat ini sebagai anggota DPR RI.

Beda halnya dengan keempat daerah diatas. Di Maluku Utara Pasangan Muhammad Kasuba-Madjid Husen diusung ketiga partai koalisi untuk menjadi Cagub-Cawagub. Madjid Husein merupakan ketua DPW PAN di Maluku Utara yang patut diberi apresiasi karena satu-satunya kader PAN yang dipilih oleh partai koalisi untuk maju menjadi calon orang nomor dua disana.

Melihat peta politik dikelima provinsi ini apakah berdampak signifikan untuk kesuksesan PAN kedepan? Atau hanya menguntungkan partai koalisi lain seperti Gerindra dan PKS? Kesuksesan ketiga partai ini pada Pilkada Jakarta kemarin dengan menghantarkan Anies-Sandi bukanlah sebuah jaminan untuk mengulang kembali kemenangan di lima provinsi tersebut. Pertarungan kali ini akan jauh lebih kompleks dan sangat menentukan bagi setiap partai memiliki kepercayaan diri yang tinggi maju pada Pilpres 2019.

Dalam kasus Pilkada, seperti PKS lebih diuntungkan jika dibandingkan dengan PAN. Hal itu karena di daerah-daerah PKS memiliki kursi yang lebih signifikan. Sehingga mereka percaya diri untuk mengusung kadernya.

Sampai saat ini nama Prabowo Subianto masih dianggap yang bisa mengimbangi Jokowi dalam rilis beberapa lembaga survei. Jika PAN serius ingin mengusung Zulkfli Hasan pada Pilpres mendatang. Maka pertarungan Pilkada saat ini sangat menentukan masa depan partai ini.

Ditambah satu daerah lain yang sebenarnya sangat penting untuk PAN bisa mengusung kadernya yakni Pilgub Jawa Timur. Apalagi muncul kabar Gerindra akan mengusung Moreno Soeprapto sebagai Cagub. Maka tak salah jika PAN bisa mewakafkan kadernya seperti Bupati Bojonegoro Suyoto untuk mendampinginnya. Atau formulasi lain yang lebih menguntungkan ketiga partai. Yang terpenting adalah kader PAN bisa ikut serta mewarnai. Dan bisa jadi pilihan alternatih selain Syaifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa yang sebenarnya adalah bagian dari kekuasaan saat ini. Jika di daerah lain ketiga partai bisa berkoalisi. Tak salah jika di Jawa Timur juga bisa bergandengan tangan.

Wallahu A’lam Bishawab

Leave a Reply

*