Inilah Partai Pendukung LGBT

Inilah Partai Pendukung LGBT

Faktual.co.id – Pernyataan Ketua Umum PAN, sekaligus ketua MPR; Zulkifli Hasan terkait lima partai pendukung perilaku seks menyimpang LGBT, membuat publik citizen riuh tak karuan. Pernyataan Zulkifli seakan menggeprak publik dan partai politik. Semuanya terhentak.

Sampai-sampai ada parpol yang panas kuping hingga kegencet dan angkat bicara; katanya dirugikan. Publik yang sudah kadung nyinyir tiap hari pada parpol, kepo bukan kepalang. Penasaran ingin tahu, “siapa gerangan politisi dan partai-partai pendukung LGBT?” Semakin emoh dan sensi politisi dibilang menerima LGBT, maka menggambarkan seberapa besar permisivitas para politisi terhadap keberadaan LGBT.

Mungkin saat ini, memori publik lagi mereka-reka, partai mana yang mendukung LGBT? Partai kanan, partai kiri. Partai tengah (nasionalisme religious) atau partai berhaluan liberal? Setelah bertanya-tanya begitu, terbentuklah suatu konfigurasi politik dalam memori publik, berdasarkan platform dan haluan ideologi partai. Publik kemudian membuat daftar pendek, partai apa saja yang selama ini acap bernada sarkastik dan nyinyir bila menyerempet soal isu-isu keagamaan. Mereka-mereka yang selalu pukul dada sebagai kelompok manusia ultra demokratis.

Kepada siapa dan nilai yang mana, menjadi patron pandangan politik partai tertentu, adalah cara publik menakar atau meraba, siapa gerangan politisi pendukung LGBT. Disitulah muncul sintesa publik. Siapa yang melarang, kalau publik membuat eksperimen begitu? Publik selalu membuat simplifikasi begitu, untuk memahami persoalan yang rumit dalam kamar gelap politik.

Yang dilakukan ketua umum PAN adalah menggahar sedikit sensitivitas publik, agar mengontrol proses legislasi soal LGBT. Sudah pasti sikap PAN menolak praktek LGBT yang dianggapnya suatu identitas seksual menyimpang dan bertentangan dengan kondrat manusia sebagai makhluk heteroseksual. PAN hanya ingin, Indonesia tak seliberal Amerika, Eropa yang melegalkan perkawinan sejenis. Demikian juga partai penolak LGBT lainnya di DPR.

Kendatipun demikian, menurut hemat kita, hak-hak sipil kaum LGBT sebagai warga negara tetaplah diakomodasi oleh negara; selain perilaku seksnya yang menyimpang. Jika kemudian, LGBT sebagai suatu identitas seksual yang didorong untuk diakui negara; maka sudah pasti sejak dini, PAN menolak. Seiring sikap ketua umumnya. PAN dan partai  sepikir lainnya akan menolak habis-habisan pengakuan legal LGBT dalam proses legislasi di DPR.

Pernyataan Zulkifli, hanya sebatas mengorek keluar apa yang sebenarnya masih di bahas diam-diam dalam ruang sempit parlemen. Setelah hal ini menjadi perbincangan publik, maka sekaranglah kita meneropong, peta partai pendukung dan penolak LGBT di Indonesia.

Yang jelas, di beberapa belahan negara-negara Eropa seperti Jerman, melegalkan praktek pernikahan sesama jenis (LGBT). Parlemen di sana, ada partai yang dukung ada juga yang menolak. Sekarang sudah 14 negara Eropa yang mengizinkan perkawinan homoseksual dan lesbian, dengan Belanda sebagai pelopor yang melegalkannya tahun 2001.

Beberapa waktu lalu, di parlemen German Bundestag, mereka berseteru habis soal perkawinan sejenis. Setelah melalui voting, 393 anggota parlemen setuju perkawinan sesama jenis, dan 226 anggota menolaknya dan 4 suara abstain. Dua seteru politik di Jerman; partai Sosial Demokrat (SPD) dan partai Uni Kristen (CDU), baradu debat soal legislasi perkawinan sejenis.

Tak cuma di kawasan Eropa, di Amerika Latin pun mulai melegalkan pernikahan model begini. Laki sama laki, perempuan sama perempuan. Uruguai misalnya, di tahun 2013, sebagai negara Amerika Latin kedua pendukung nikah sejenis setelah Argentina di tahun 2010.

Waktu itu, dalam voting parlemen, sebanyak 71 dari 92 anggota majelis rendah mendukung legislasi kawin sejenis. koalisi berkuasa Frente Amplio paling getol medukung. Hanya delapan anggota dewan yang menolak. Gereja Katolik menolak keras dan mengajukan banding. Ke depan, mungkinkah Indonesia menjadi negara kawasan Asia Tenggara yang turut mendukung perkawinan sejenis?

 

Penulis : Munir Sara (peminat citizen journalism)

Leave a Reply

*