Yohan Minta Menaker dan BNP2TKI Bertanggung Jawab Atas Kematian Adelina Sau

Adelina Sau, TKI yang meninggal di Malaysia (Foto : BNP2TKI)

Faktual.co.id – Adelina Sau (21), menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke-10 asal Nusa Tenggara Timur yang meninggal di negeri jiran Malaysia awal tahun 2018. Menurut laporan Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Kupang, Timoteus K Suban, diantara 10 orang TKI yang meninggal, berasal dari beberapa kabupaten di NTT. Kepada awak media; Senin (19/2/2018), Timoteus katakan “10 orang TKI yang meninggal itu, tiga orang laki-laki dan tujuh orang perempuan.”

Kali ini, kejadiaan naas serupa terjadi pada TKI di Malaysia bernama Adelina Sau, TKI asal Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan-NTT. Adelina merengggang nyawa akibat dibiarkan kelaparan oleh majikannya selama beberapa hari. Representasi Kementerian Luar Negeri Indonesia, Tody Baskoro mengatakan, Adelina meninggal akibat majikannya tak memberinya makan dan ia dipaksakan tidur bersama anjing.

Tak makan selama beberapa hari inilah, membuat kondisi fisik Adelina drop dan akhirnya meninggal dunia. Dari hasil pemeriksaan otoritas di Malaysia, meninggalnya Adelina diakibatkan oleh kelaparan. Beberapa bagian tubuh Adelina yang luka, saat ini masih dalam proses otopsi untuk mengetahui rekam medisnya seperti apa. Apakah karena gigitan anjing atau dianiaya majikannya, demikian pernyataan Tody Baskoro Sabtu (17/2/2018).

Hingga kematian Adelina, pihak aparat terus bekerja mengejar PJTKI yang mengirimnya ke Malaysia. Pasalnya, Adelina berangkat ke Malaysia sebagai TKI dengan paspor palsu. Berdasarkan pernyataan Kapolda NTT,  Irjen Pol Raja Erizman, nama Adelia Sau dipalsukan menjadi Adelina Lisao. Alamat asalnya juga dipalsukan. Dalam paspornya ia beralamat di desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Padahal alamat sebenarnya di desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dari KTP inilah, calo mencetak paspor dengan nama Adelina Lisao di Blitar.

Anggota DPR-RI asal NTT, Ahmad Yohan, meminta otoritas Indonesia segera mengambil langkah tegas terkait kematian Adelina. Dikatakannya, ini bukan cuma persoalan kriminal, tapi juga melanggar HAM. “Adelina diperlakukan secara tidak manusiawi, selain dibiarkan lapar berhari-hari dan suru tidur bersama anjing. Ini sangat tidak beradab. Menaker dan PNP2TKI harus bertanggungjawab, termasuk mengembalikan hak-hak Adelina sebagai TKI kepada keluarganya di NTT” demikian pernyataan Yohan kepada Faktual.co.id, Kamis, (22/2).

Ia meminta menteri tenaga kerja dan BNP2TKI segera menindak tegas PJTKI yang mengirim Adelina ke Malaysia. Kata Yohan, modus pemalsuan identitas TKI oleh praktek percaloan dan PJTKI ilegal, adalah peristiwa yang sudah berulang kali terjadi. “Peristiwa yang terjadi pada Adelina ini bukan kali pertama, kalau kita lihat laporan BP3TKI Kupang, ini sudah yang ke-10 diawal tahun 2018. Kalau modus yang sama terjadi berulang-ulang terhadap TKI, artinya ada yang tidak beres di Kemenaker dan PNP2TKI. Ada praktek busuk kong kalikong antara Kemenaker, BNP2TKI dan PJTKI. Korbannya adalah para TKI.” Ia juga meminta agar Kemenaker dan BNP2TKI harus ikut bertanggungjawab atas kematian Adelina. “Mereka  harus bertanggungjawab, karena tidak mampu menangani praktek-praktek illegal yang dilakukan BPJTKI yang hampir tiap tahun mengorbankan nyawa TKI,” demikian pungkas Yohan ***

Penulis : Gazali

Editor : Cut

 

 

Leave a Reply

*