Di Piala Oscar 2018, McDormand Menyinggung “Inclusion Rider.”

Frances McDormand (foto : @istimewa)

Penulis : Munir Sara (Citizen Journalism) ***

Faktual.co.id – Maret 2018, aktris Hollywood Frances McDormand akhirnya mendulang piala Oscar keduanya dalam film “Three Billboard Outside Ebbing Missouri.” Sebelumnya, ia juga menyabet piala Oscar di tahun 1997 dalam perannya di film Fargo. Dalam akhir sambutannya di mimbar inaugurasi, secara mengejutkan, McDormand bicara soal “inclusion rider.”

Inclusuion rider adalah suatu kesepahaman di jagat industri film Hollywood tentang keterbukaan dalam keanekaragaman. Tujuannya adalah, industri perfileman sebagai cermin tempat masyarakat dunia melihat suatu keterbukaan, penyertaan atau partisipasi yang melibatkan semua identitas primordial dalam jagat industri perfilemen Amerika.

Menurut Stacy Smith, profesor University Sothern California, inclusion rider adalah, suatu cetusan soal inklusivitas dalam industri perfileman Hollywood. Tujuannya adalah, mencairkan dominasi rasial dan gender yang begitu kental dalam industri perfilemen Amerika. Menurut Smith, inclusion rider, mengandaikan casting director, mencari orang dengan latar belakang beragam. Dari pemeran inti hingga figuran. Misalnya, 50% dari para pemaran adalah perempuan, atau merepresentasikan kelompok ras dan agama tertentu.

Closing statement McDormand soal inclusion rider di Delby Theatre-LA, Minggu (4/3), seakan merubah wajah Hollywood yang glamour, menjadi panggung kearifan global. Bukan cuma menerima suatu penghargaan berkelas mondial, tapi telah membentangkan; mengkampanyekan inklusivitas di atas konservatisme rasial Donald Trump yang begitu kuat mencengkram kebijakan global Amerika Serikat.

Kampanye rasial Trump anti warga imigran di AS, telah menampilkan wajah culas Amerika terhadap masyarakat dunia. Puncak dari keculasan rasial yang dipaksakan itu, terlihat pada upaya menganeksasi kota suci Yerusalem dengan arogansi Yudaisme yang begitu menggembarkan masyarakat dunia. Kebijakan Trump atas konflik Israel-Palestina, menempatkannya sebagai provokator global yang sempurna.

Setidaknya, di ajang bergengsi; penyerahan piala Oascar 2018, gagasan inclusion rider, menjadi pintu masuk masyarakat dunia melihat kehidupannya yang kian terkotak-kotak dalam modal dan  investasi. Atau revolusi industri digital, yang mengandaikan orang terkurung dalam ruang privat cyber. Eksklusif dalam kelompoknya. Suatu masyarakat dunia yang tersegmentasi dalam paroki-paroki sosial yang amat secterian.

Setidaknya di Indonesia kita mulai berkaca, bahwa industri perfileman, tak hanya berwajah market dan capital, tapi mulai memikirkan tentang inclusion rider. Suatu kampanye kesetaraan yang menarik wajah kearifan global dalam semangat egaliterianisme yang kuat. Agar jagat perfilemen Indonesia, tak didominasi oleh mereka-mereka yang berwajah ketrurunan; hanya sekedar menjawab kebutuhan pasar.

 

Leave a Reply

*