Selain Ternak Kodok, Presiden Akan Ternak Kala Jengking?

Oleh : Munir Sara (Red doc)

Dalam suatu acara Musrembangnas di Hotel Sahid-Jakarta, Senin (30/4), di hadapan kepala daerah se Indonesia, presiden RI Joko Widodo bilang, sekarang ini komoditas global paling mahal bukan emas. Tapi racun scorpion. Alias kala jengking. Nilainya mencapai US$ 10,5 juta atau kurang lebih Rp.145 miliar per liter. Jadi kalau bisa punya satu galon saja, nilai komoditasnya mencapai puluhan triliun.

Mungkin karena itu, pemerintahan ini mulai tak ambil pusing soal divestasi saham PT Freeport Indonesia. Perusahaan tambang emas punya Amerika. Toh hasil emas di tanah Papua itu tak jauh lebih mahal dari harga komoditas racun kala jengking setiap tahun. Kalau mampu menghasilkan 1000 liter tiap tahun, maka penerimaan negara non migas, dari racun kala jengking sudah mencapai Rp.145 triliun. nilainya lebih tinggi dari royalti emas Freeport. Bila perlu, di seluruh lereng dan hutan di Papua itu kita bikin ternak kala jengking.

Karena komoditas kala jengking ini urgen, maka pemerintah sebaiknya mulai memikirkan punya BUMN, yang khusus core business-nya terkait kala jengking. Jadi BUMN ini urusannya cuma satu. Setiap hari memikirkan, bagaimana caranya kala jengking bisa menghasilkan racun sebanyak-banyaknya. Termasuk suplai nutrisi apa yang diperlukan, agar kala jengking bisa menghasilkan racun sebanyak-banyaknya.

Karena ini investasi awal, maka Kemenristekdikti juga harus jor-joran menggelontor dana riset kala jengking. Bila perlu, di nomenklatur anggaran (RKA-KL) Menristekdikti, disitu ada mata anggaran riset kala jengking yang dibahas bersama DPR.

Karena saat ini ekonomi dunia lagi mengalami slow-down, berikut harga komoditas global juga panas dingin; tak menentu, maka sebaiknya pemerintah mulai pikir-pikir soal diversifikasi perdagangan. Maksudnya diversifikasi dari sisi komoditas ekspor. Salah satunya, soal racun kala jengking. Investasinya murah tapi hasilnya menggiurkan.

Coba pikirkan, kalau setiap rumah di desa bisa menghasilkan satu liter racun kala jengking, setiap tahun, artinya dia sudah menyaku uang Rp.145 miliar. Dengan begitu bisa menggencet angka kemiskinan di desa. Kedalaman dan keparahan kemiskinan, serta kesenjangan kota dan desa akan turun drastis.

Karena presiden sudah bilang begitu, maka daerah (kabupaten/kota) mulai observasi soal bagaimana caranya ternak atau budidaya kala jengking. Apa makanannya, dia cocok hidup dimana, nutrisi apa yang kira-kira bisa membuatnya menghsilkan racun sebanyak mungkin.

Fakultas-fakultas peternakan di seluruh universitas di Indonesia juga mulai memikirkan satu fak, terkait kala jengking. Karena kala jengking ini masuk dalam kategori hewan komoditas, maka ia sudah sejajar dengan sapi, kerbau, kambing, babi, ayam dan juga ikan. Apalagi nilai komoditasnya jauh lebih benefit dari hewan komoditas yang lain. Yang jelas omongan presiden ini bukan gimik. Ia serius.

Dari cara omongannya, ia serius. Karena jidatnya mengkerut, sambil jari telunjuknya diancung naik turun persis ayunan saat menegaskan. Setelah omongan presiden itu, tak sedikit yang kepo. Ada netizen yang meledak tanya. Kalau demikian adanya, komoditas racun scorpion lebih mahal dari emas, kenapa presiden tak memberi contoh? Ternak kala jengking di istana Bogor.

Usut punya usut, di instana Bogor, presiden malah ternak kambing, kodok dan biawak. Sekarang presiden punya 11 ekor kambing di istana. Bahkan presiden juga punya ribuan kodok hasil peternakannya. Cuman, tempo lalu, populasi kodok milik presiden di sekitar istana turun drastis karena dimangsa biawak. Kita berharap, secepatnya presiden punya ternak kala jengking di sekitar lingkungan istana. Lumayan, Rp.145 miliar per liter !

Leave a Reply

*