Lekuk Tengkuk Ali Mochtar Depan Kekuasaan

Faktual.co.id- Rumah Polonia 2014, mungkin menjadi tempat yang masih merekam setiap dengus dan ceracau—belo juru bicara pasangan Capres 2014 Prabowo-Hatta; Ali Mochtar Ngabalin. Doa-doanya untuk kemenangan Prabowo-Hatta kala itu, seperti menyundul langit kuasa.

Pada tahun 2014, ketika berhadapan dengan jubir Jokowi-JK; Khofifah Indar Parawansah di salah satu stasiun TV swasta dalam suatu talk show, sesumbar ia menegaskan, Hanya Prabowo-Hatta yang punya kelebihan, pun kemampuan untuk menang sebagai presiden RI. Jejak digital atas pernyataannya itu, masih terekam kuat. Tembok dan langit-langit rumah Polonia, seperti menyimpan doa Ali Mochtar yang sesenggukan kala itu.

Bahkan melihatnya; (Ali Mochtar Ngabalin) kini, kita seperti menyingkap, menemukan wajah Prabowo-Hatta darinya yang tersisa. Ali Mochtar Ngabalin, kader Partai Bulan Bintang (PBB), partai reingkarnasi Masumi yang kemudian hengkang, angkat kaki bernaung di bawah beringin, icon partai Golkar. Bahkan ketika masih di PBB, dengan sorban yang kokoh di atas kepalanya, pun agitasinya, kita seperti menemukan wajah ideolog M. Natsir dalam dirinya. Seorang ideolog muda, yang muncul dari dalam kekinian politik Indonesia. Ia kritis dan acap bicara lantang mengeritik rezim Jokowi.

Lalu di awal Mei 2018, seperti membuat kita tersentak, ketika di berbagai headline media, Sorban di kepala Ali Mochtar Ngabalin tampak melekuk—manggut, tunduk pada kuasa istana. Ali ke istana, dengan membawa semua simbol yang ada di tubuhnya.

Lekuk tengkuk—manggut kepala dan sorban Ali, seakan mengamini membanjirnya ribuan tenaga kerja unskill workers asal China ke Indonesia, mengamini pertumbuhan ekonomi yang mangkrak di angka 5%, mengamini utang negara yang membengkak hingga Rp.4 ribu triliun, mengamini racun kala jengking sebagai investasi paling mahal yang diumumkan Jokowi. Ia mengamini racun.

Suara lantang Ali Mochtar yang acap mengeritik, pun mulai sayup. Ia berbalik, memasang badan untuk penguasa. Untuk rezim yang mungkin tak sadar sudah di tubir krisis. Ali sudah tak bersama rakyat kecil. Ali sudah tak serasa dengan buruh kasar yang hilang rejekinya disapu tenaga kerja asal China.

Kini ia mendedak bersama mereka, segerombolan pembela penguasa. Kini ia mumukul dada membela istana, tak peduli nasib rakyat kecil seperti apa. Lalu kita bertanya, apakah Ali tak tahan body dalam masa paceklik kekuasaan yang baru sebentar?

Pernyataan-pernyataannya mulai menyesakkan. Seakan ia di belakang kebijakan istana yang carut-marut. Ia juga mulai melipir masuk, mendedak ke isu-isu sensitif meresahkan. Mengotak-atik gerakan moral 212 membela kitab suci; Al quran. Ia bukan lagi juru bicara pemerintahan, tapi juru bicara politik Jokowi. Ia digaji APBN untuk membicarakan pemerintahan, tapi acap menjadi juru bela politik Jokowi 2019.

Sebagai anak muda Indonesia Timur, kami merasa sikap plin-plan Ali Mochtar, membuat kami malu, mencedarai rasa keberpihakan kami pada rakyat yang merugi akibat struktur kebijakan rezim Jokowi. Tentu kami mengecam Ali, karena ia menjadi preseden buruk bagi suatu konsistensi politik. Menyisahkan politik plin-plan, mengawetkan kekuasaan yang tak berpihak pada rakyat kecil. Merdeka !

Penulis : Munir S (Citizen Journalims) ***

 

Leave a Reply

*