Gejolak Kurs Rupiah dan Kenegarwanan Sandiaga Uno

Gejolak Kurs Rupiah dan Kenegarwanan Sandiaga Uno

*** Oleh : Munir Sara (Peminat Citizen Journalism)

Faktual/co.id- Nganu, maksud ngana, mari kita reken, siapa yang nasionalis disaat-saat bangsa ini kritis. Depresiasi kurs rupiah terhadap dollar AS yang makin dalam, bikin Menkeu, Sri Mulyani angkat suara. Ia menghimbau, “pengusaha kakap bawa devisa hasil ekspor ke Indonesia.” Disinilah kita uji kesahihan, siapa yang lebih Indonesia, siapa yang lebih Pancasila.

Himbauan Sri Mulyani juga, semacam mengazani nasionalisme para pelaku usaha/eksportir yang berdarah merah putih. Klaim dengan tagar “saya Indonesia saya Pancasila,” tak hanya menjadi komoditas untuk suatu surplus citra politik, tapi berkontribusi pada ekonomi bangsa yang tengah tekor. Setidak-tidaknya begitu. Kepada media, Jokowi juga bilang serupa, “negara butuh supply dollar AS.”

****

Lantas, siapa yang mula-mula menyahut dan melaksanakan himbauan Sri Mulyani dan presiden Jokowi? Para rekan menterinya yang doyan ternak dollar di bank asing? Atau orang-orang di sekitar presiden Jokowi? Atau presiden dan Menkeunya sendiri?

Belum juga bibir Menkeu kering pasca menghimbau pengusaha, tanpa ba bi bu, Sandiaga Uno (yang kebetulan Cawapres RI 2019) mengkonversi 40 persen asetnya ke dalam rupiah. “ini saatnya kita memperkuat ekonomi kita.” Begitu kata Sandiaga di Detik News (Kamis, 06 Sept 2018).

Sementara itu, para menteri istana yang ternak dollar AS bejibun di luar Indonesia, belum jua bersikap apapun. Masih ayem. Padahal, sebagai negarawan dan pejabat negara, mereka mesti lebih kencang berlari. Merekalah yang pertama memberi teladan pada rakyat Indonesia. Pada pengusaha. Jangan kesannya buta tuli pada keadaan. Padahal berdasarkan LHKPN yang mereka laporkan, banyak menteri yang timbun dollar AS di luar Indonesia.

Mengkonversi asetnya ke dalam rupiah, adalah keteladanan. Semestinya Presiden Jokowi dan Menkeu Sri Mulyani adalah yang paling awal memberi teladan. Sebab Jokowi juga beternak dollar AS di luar Indonesia.

Eh soal Sandiaga ini ada yang nyinyir. Sekjen PSI, Raja Juli Antoni di media mengatakan “Sandiaga cuma cari untung saat dollar AS mahal. Itu pernyataan paling dongok se Indonesia.

Negara yang tekor karena melebarnya defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit/CAD, tentu membutuhkan supply dollar AS. Salah satu akun teman saya di facebook, langsung capture pernyataan Sekjen PSI ini dan menulis statusnya, “ini satu-satunya pernyataan paling bodoh dari para elit partai tentang gejolak kurs rupiah.”

****

Secara teori, CAD menjadi faktor primer penyebab kurs rupiah tergerus. Hal tersebut dipicu oleh nilai impor lebih tinggi dari ekspor. Karena supply dollar AS ke dalam negeri akan terjadi, bila ekspor kita mengalami surplus. Rupiah akan terapresiasi bila neraca perdagangan kita beserta seluruh komponen di dalamnya tak negatif.

Sebaliknya, bila impor kita lebih tinggi, maka demand terhadap dollar AS meningkat. Kurs rupiah terdepresiasi karena tertekan nilai dollar AS lebih tinggi di pasar. Yang perlu dilakukan adalah menjaga keseimbangan; supply and demand.

Selain itu, sentiment negatif pelaku pasar terhadap melebarnya CAD, juga menyebabkan kencangnya arus modal keluar (capital outflow). Demikianpun tawaran imbal hasil yang menggiurkan di negara lain.

Misalnya bank sentral Amerika Federal Reserve yang menaikkan suku bunga (Fed Fund Rate). Ini menarik bagi investor untuk mengalihkan uangnya keluar dari Indonesia. Emang ada investor mau rugi?

Demand terhadap dollar AS yang tinggi seiring melebarnya CAD dan meningkatnya arus modal keluar, otomatis membuat nilai dollar AS meningkat, dan berakibat pada tertekannya nilai tukar rupiah. Demand bersumber dari importir yang pinjam uang dari luar negeri. Supply valas datangnya dari eksportir, PMA, atau capital market yang masuk.

Yang diharapkan adalah supply and demand valas stabil dalam pasar domestik. Sehingga tak menimbulkan efek negatif pada stabilitas exchange rate atau nilai tukar. Ihwal supply and demand juga merupakan dalil paling klasik untuk menjelaskan volatilitas kurs rupiah.

Nganu, atau sederhananya begini saja, himbauan menteri untuk para pengusaha ekspor tersebut dalam rangka memberi nutrisi tambahan pada rupiah, agar ototnya menjadi lebih kencang. Agar fundamental kita dari sisi moneter dan fiskal semakin kuat berpijak. Tak lebih tak kurang begitu.

Himbauan Sri Mulyani ini, dalam rangka sinergi fiskal dengan operasi moneter yang sudah dilakukan bank sentral Indonesia. Diantaranya menaikan suku bunga acuan (BI rate) dan membeli obligasi pelat merah. Dalam rangka menggairakan pasar domestik sekaligus memantik pelaku pasar dari dalam dan luar, agar kembali ke Indonesia. Yang sudah berada di pasar domestic bertahan dan yang masih di uar masuk ke Indonesia dan berinvestasi.

Ujung-ujungnya meningkatkan capital inflow. Agar cadangan devisa bertambah dan rupiah menjadi lebih stabil. Agar fundamental ekonomi kita tahan banting. Tak lebih tak kurang begitu maksud puan Menkeu berhimbau. Sekjen PSI, dikau jangan asal bacot. Diam saja kalau belum mudeng ***

 

Leave a Reply

*