Politik Uninstall

Politik Uninstall

Faktual.co.id –Aneh bin ajaib, netizen partisan bertindak brutal setelah CEO BukaLapak cuit soal anggaran Research and Development (R&D) Indonesia yang minim. Pendanaan R&D Indonesia tertinggal jauh dari negara lain. Malaysia yang kecil saja, punya anggaran R&D US$ 10 miliar. Indonesia besar begini, anggaran R&D cuma US$ 2 miliar. Ini paparan data CEO BukaLapak melalui cuitannya.

Dalam akhir ciakannya, CEO muda ini bilang, moga-moga presiden baru kelak, anggaran R&D meningkat. Sontak, netizen, walkhusus yang partisan kepanasan hingga keluar dari sarang. Mencuatlah tagar #UninstallBukaLapak. Apa soal? Bukan malah mendebat substansi, malah membunuh usaha orang. Situ waras?

Apa urusannya coba? Kenapa juga blingsatan dan brutal begitu? Aneh bin ajaib. Libido kekuasaan netizen partisan lebih kencang ketimbang menyoal substansi dan data soal anggaran R&D Indonesia.

Wajar dong, dia bilang begitu. Kalau mau lebih inovatif ya mesti getol dari sisi anggaran R&D. Dalam R&D itulah melahirkan hal-hal baru. Kalau semakin inovatif, maka produk industri kreatif kita semakin besar nilai tambah ekonominya.

Baca dong daya saing produk Indonesia di Global Competetivness Index. Disitu daya saing produk kita kalah jauh dengan negara selevel. Kenapa begitu? Karena memang kurang inovatif sehingga nilai ekonomi produk tidak kompetitif di pasar internasional. Makanya penting menggenjot R&D. Khususnya dari sisi anggaran. Disini semestinya logika digunakan.

Setelah serangan tagar #UninstallBukaLapak, perang tagarpun dimulai. Mencuatlah #UninstallJokowi. Sejak jumat pagi (15/2) membanjir tagar #uninstallJokowi dengan 10,5 ribu tweet. Bahkan masuk dalam lima besar trending topik di twitter.

Sekarang mau bagimana coba? Nasi sudah menjadi bubur. Tagar #UninstallJokowi semakin menggelinding di lini masa. Semua gara-gara, libido kekuasaan yang menggila dari netizen partisan Capres. Siapa yang menabur angin, akan menuai badai– #UninstalJokowi

***

Lantas bagaimana semestinya data anggaran R&D Indonesia? Mari kita cek dan reken. Apa benar anggaran R&D Indonesia sudah menanjak seperti yang dibilang Jokowi di CNBC Indonesia Edisi (16/2/2019) bahwa anggaran R&D Indonesia sebesar Rp.26 triliun. Beda lagi dengan data Menristekdikti yang menyebut anggaran R&D Indonesia Rp. 30,8 triliun. Mana yang benar dari dua data ini? Atau jangan-jangan sebaliknya, masih tertinggal dengan negara sebantaran?

Dari data R&D Magazine, yang mengambil data dari IMF, Bank Dunia, CIA World Fact Book, dan OECD, menyebutkan, dana gross expenditure on R&D (GERD atau belanja litbang terhadap PDB)Indonesia tahun 2017 (actual) sebesar USD 9,88 miliar atau 0,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) sebesar US$ 3.243 miliar.

Nah, kalau kita banding dengan negara-negara sebantaran, pun anggaran atau investasi R&D Indonesia masih di bawah. Singapura, GERD-nya 2,6% atau sebesar US$ 13,19 miliar dari PDB US$ 503,4 miliar. Malaysia, GERD-nya 1,3% atau sebesar US$ 11,46 miliar dari PDB US$ 902,1 miliar. Untuk proyeksi 2018 pun GERD Indonesia masih di bawah Singapura dan Malaysia.

***
Poin saya, sentilan yang disampaikan CEO BukaLapak, itu mengena persoalan pokok. Bahwa nyatanya belanja litbang terhadap PDB Indonesia masih kecil bila di bandingkan dengan negara paling dekat seperti Malaysia dan Singapura.

Jadi apa urusannya juga sampai panggil CEO BukaLapak itu ke istana? Memang benar kok anggaran R&D Indonesia masih kecil. Belum lagi kalau kita melebar ke data daya saing dan inovasi produk berdasarkan Global Competetivness Index.

Soal kecilnya anggaran R&D Indonesia, diakui juga oleh Dirjen Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemenristekdikti Muhammad Dimyati (Medcom.id Edisi 15/2/2019). Bahwa Indonesia masih di bawah Thailand (0,6 persen), Malaysia (1,6 persen), dan Singapura (2,2 persen).

Lantas, kenapa juga netizen partisan itu sampai klenger-klenger bak orang kesurupan. Bikin seruan atau gerakan #UninstallBukaLapak. Sekarang bagaimana rasanya, diserang balik bertubi-tubi dengan #UninstallJokowi?

*** Penulis : Munir Sara (Citizen Journalism)

Leave a Reply

*