Unicorn Yang Online-online itu?

Unicorn Yang Online-online itu?

“Bagaimana strategi bapak tentang pembangunan infrastruktur unicorn?” Ini pertanyaan Jokowi dalam sesi debat Capres ke dua (17/2) di Jakarta. Dengan membungkuk dan sedikit melotot ke arah Joko, Prabowo tanya, “maksud bapak unicorn yang online-online itu?” Prabowo rada-rada gagap.

Kalau saya Prabowo, saya langsung tanya, kalau infrastruktur untuk pengembangan startup unicorn, ada baiknya Jokowi penuhi janjinya pada Pilpres 2014. Apa itu? BUYBACK INDOSAT. Kan mau revolusi Industri 4.0 dan berbagai perangkat pendukung Fintec, maka perlu juga infrastruktur broadband yang bagus.

Tapi bukan tabiatnya Prabowo, memukul lawan secara brutal untuk mempermalukannya. Apalagi bikin pernyataan agak attacking pada pribadi. Cukup Jokowi saja yang begitu. Tabiat menggambarkan peradaban.

Pertanyaan dan kebingungan Prabowo itu berkenaan dengan pronouncing Jokowi yang buruk saat mengucapkan istilah unicorn dengan YUNIKON.” Maklumlah, dalam soal bahasa Inggris, Jokowi bukan selevel dengan Prabowo. Harus diakui itu. Kalau debat pakai bahasa Inggris, saya yakin Jokowi bisa klenger-klenger. Tentu, maksud Prabowo adalah, soal startup/unicorn yang valuasi bisnisnya sudah mencapai ± US$ 1 miliar.

Kalau di Indonesia, ada beberapa startup yang sudah masuk dalam kategori unicorn. Seperti Tokopedia, BukaLapak, GoJek, Tokopedia dan Traveloka.

Meski berkenaan dengan revolusi industri 4.0, Prabowo berbeda pandangan dengan Jokowi. Prabowo setuju dengan pengembangan unicorn, tapi mempersoalkan dampak lain. Misalnya, bahwa unicorn ikut mempermudah keluarnya aliran dana dari Indonesia bila dikuasai asing. Seturut itu, kajian CNBC Indonesia juga mengamini pernyataan Prabowo. Bahwa unicorn kebanggan Jokowi itu, ternyata semuanya modal asing. Mereka cuma dagang di Indonesia.

GoJek, dengan valuasi sebesar US$ 10 miliar, ternyata dikuasai Sequoia Capital dan Warburg Pincus LLC, dua perusahaan investasi kakap asal AS. Tokopedia, dengan valuasi US$ 5,9 miliar, dikuasi Alibab milik Jekma pengusaha China. BukaLapak, US$ 200, dikuasai Grup Emtek, dan dua perusahaan ventura asal AS, yaitu 500 Startup dan QueensBridge Venture Partners. Traveloka dengan valuasi US$ 500 juta, Exepedia. Exepedia adalah perusahaan travel asal AS yang mengoperasikan sejumlah merek global lainnya, seperti hotels.com. Trivago, dan Orbitz.

***
Memang tak ada salahnya juga omongan Prabowo. Bahwa jika unicorn-unicorn itu dikuasai asing, maka uang Indonesia sebagai keuntungan; pasti mengalir keluar ke negara tampat asal para investor. Indonesia cuma pasar bagi investor asing dengan potensi demografi dan masyarakat yang konsumtif. Jadi Prabowo lebih penguatan sistem atau fondasi ekonominya.

Sistem dan SDM harus dipersiapkan menuju revolusi industri 4.0. Termasuk financial system terkait Fintec. Juga komponen yang ada di dalam revolusi 4.0. Termasuk sektor riil sebagai bagian inti dari ekosistem Fintec. Kalau mau bicara market please dan Fintec, tentu harus ada produknya. Kalau sektor riilnya tengkurap, lalu mau isi apa market please yang serba daring itu? Dengan produk-produk impor? Bedanya, Jokowi berfikir teknis dan parsial, sementara Prabowo berfikir sistem dan holistik.

Memang, Waktu Annual Meeting IMF 2018 di Bali, salah satu tema yang menarik adalah soal Fintec. CNBC sampai bikin diskusi khusus tentang Fintec. Semangat itu, sejalan dengan pasar mainstream yang gempita dengan bisnis during di ranah market please. Tapi negara-negara dengan kontribusi unicorn yang besar pada GDP, SDM sudah maju. Biaya research and development (R&D) juga sudah besar.

Jadi daya saing manusia dan inovasinya sudah sophisticated. Indonesia masih payah anggaran R&D. CEO BukaLapak bilang masih kecil anggaran R&D Indonesia bila dibandingkan dengan negara sebantaran, Cuma Rp.28 triliun. Tapi Jokowi bilang sudah meningkat; Rp.26 triliun. Yang dungu siapa sih?

By Munir Sara (citizen journalism)

Leave a Reply

*