Lima Persen Ndasmu?

Munir Sara (Pegiat Citizen journalism)

Faktual.co.id-Prabowo mencebik, sembari berkata “5 persen ndasmu?” Kata-kata itu menohok kala kampanye akbar di GBK (7/4). Menyoal pertumbuhan ekonomi yang mangkrak 5 persen. Cebikan Prabowo itu bak kompor gas. Menyulut Luhut. Dan Jenderal pensiun itu bilang “5 persen itu bagus kok.” Rasa-rasanya saya juga kebelet kepengen sambar, “bagus ndasmu?” Dengan kondisi global yang sama, negara selevel seperti Vietnam ekonominya dapat tumbuh 6,8 persen

Lah, kenapa begitu? Ya memang begitu. Belasan paket kebijakan sudah digelontor, tapi tak mampu menggairahkan pertumbuhan ekonomi. Belanja infrastruktur mati-matian, tapi berapa persen yang mengakselerasi pertumbuhan ekonomi? Prime mover pertumbuhan ekonomi itu masih mengandalkan konsumsi rumah tangga. Pantaslah seorang ekonom UI bilang, tanpa pemerintah ekonomi bisa tumbuh 5 persen.

Wajar dong, ekonom Faisal Basri menemukan, ternyata hutang untuk belanja infrastruktur sekitar Rp.300 triliun ditambah lagi dengan utang bilateral dalam bentuk obligasi dan global bond, tapi tidak mengatrol besaran belanja modal dalam APBN. Belanja rutin yang justru lebih tinggi. Lah kok bisa? Mungkin bisa jadi, karena sebahagian dari hutang infrastruktur itu adalah utang BUMN.

*** Kenapa Prabowo mencebik begitu?

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi kita tahun 2018 tumbuh sebesar 5,17 persen. Anehnya, konsumsi kita hanya sebesar 4,4 persen. Lantas sisa produksi sebesar 0,77 persen lagi disimpan di mana?

Yang mempersoalkan hal ini itu Prof. Dr. Anthony Budiawan. Dia Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS). Dia sanksi, ekonomi tumbuh 5,17%.

Menurut BPS, dari sisi produksi, ekonomi Indonesia 2018 tumbuh 5,17 persen. Namun dari sisi konsumsi atau pengeluaran, ternyata ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,40 persen. Artinya, ada selisih 0,77 persen produksi yang tidak terserap sebagai konsumsi, dan masih tersimpan di dalam persediaan.

Prof Anthony menganggap ini aneh, karena persediaan terus naik sejak triwulan I sampai triwulan IV 2018. Padahal jumlah persediaan umumnya fluktuatif. Sebab ketika persediaan naik, maka perusahaan akan mengurangi produksi sampai persediaannya turun ke tingkat yang akseptabel.

Dengan demikian, hampir mustahil perusahaan akan melakukan produksi terus ketika barangnya tidak laku dan menumpuk di persediaan. Sebab persediaan memerlukan modal kerja yang besar sekali. Hal ini juga tercermin di data BPS.

Jadi menurutnya, jangan-jangan jumlah produksinya tidak begitu besar. Jangan-jangan ekonomi 2018 tidak tumbuh 5,17 persen. Jangan-jangan persediaan tersebut sebenarnya terlalu dibesar-besarkan? Wajar Prabowo juga ragu dan bilang, 5 persen ndasmu. Wajar Prabowo begitu, karena dia membaca literatur, bukan komik. Wassalam

 

Leave a Reply

*