Ibukota Baru Untuk Siapa?

Ibukota Baru Untuk Siapa?

Kamis (29/8/2019), pagi-pagi buta, salah seorang teman saya yang juga wartawan di salah satu berita daring papan atas Indonesia kirim link berita ke saya. Isinya, emiten semen bakal moncer di pasar saham, seiring isu pembangunan ibukota baru—berikut infrastrukturnya. Value investing emiten semen menjadi seksi dan kinclong.

Itu artinya, ke depan, perusahaan-perusahaan semen dengan fundamental yang baik dalam pasar emiten akan meraup untung besar. Saham-saham semen bakal dikeroyok, karena menjanjikan capital gain yang mumpuni. Tidak cuma emiten semen, secara keseluruhan, value investing dari perusahaan-perusahaan konstruksi di bursa saham akan mengalami pertumbuhan nilai cuan yang ekspektatif.

Di tengah-tengah iklim investasi global yang lesu terhadap Indonesia, dilihat dari fluktuasi IHSG beberapa minggu terakhir (Agustus 2019), isu pemindahan ibukota negara, meski debatable dan kesannya serampangan, diperkirakan memberi efek terhadap pasar; dari sisi emiten sektoral yang bersinggungan langsung dengan pembangunan infrastruktur ibukota baru. Kalau ini benar-benar terjadi, maka siapa yang paling untung?

Cuma sayangnya, apakah visibilitas dari pertumbuhan emiten konstruksi itu, berdampak langsung ke perusahaan-perusahaan Indonesia? Baik swasta dalam negeri ataupun BUMN? Karena selama ini, untuk pembangunan infrastruktur, pemerintah lebih doyan impor bahan baku dari asing ketimbang menggunakan produk dalam negeri (Sumber : Mirae Asset Sekuritas Indonesia ; 2019).

Impor semen dan baja misalnya, ternyata turut menggerus keuntungan dalam perusahaan semen dalam negeri, seperti yang dialami PT Krakatau Steel dan Semen Indonesia. Laba perusahaan baja dan semen ini melorot karena pemerintah lebih doyan impor ketimbang menggunakan semen dan baja dalam negeri.

Misal, pembangunan infrastruktir meningkat, tapi justru semen dalam negeri mengalami surplus. Diproyeksikan, pertumbuhan konsumsi semen domestik masih di level rendah tahun ini, yaitu hanya 5% atau sekitar 73 juta ton. karena konsumsi semen domestik masih sangat lemah.

Pada tahun 2018 misalnya, akibat digempur semen impor, 30 juta ton semen lokal tidak terserap. PT Krakatau Steel rugi hingga US$ 134,95 juta atau setara Rp 1,89 triliun pada semester I-2019. pembengkakan kerugiannya mencapai 8 kali lipat dalam rentang waktu 1 tahun saja.

Lah, bagaimana bisa kinclong emiten semen dan baja merah putih, kalau fundamentalnya buruk akibat keuntungan yang tergerus oleh semen dan baja impor. Fundamental perusahaan yang buruk, akan turut mempengaruhi growth dan value investing emiten.

Misal, Indonesia tercatat melakukan impor baja sebesar 12,3 juta ton pada tahun 2017. Kalau asumsinya seluruh impor digunakan untuk konsumsi dalam negeri, maka baja impor mendominasi pasar dalam negeri. China merupakan negara asal baja impor terbesar. Terbaru pada tahun 2018, Indonesia mengimpor baja sebesar 2,83 juta ton dari China.

Jadi kalau mau bilang, pemindahan ibukota ini bikin value investing emiten semen atau baja berkilau, belum tentu semuanya benar. Khawatirnya, ini juga proyek isu. Selain untuk menggairahkan pasar yang tengah lesu, juga ada gurita kapitalisme yang ikut mensponsori untuk mengambil keuntungan setelahnya. Dan kita bertanya, isu perpindahan ibukota ini untuk siapa? Pasar atau rakyat?

*** Penulis : Munir Sara 

Leave a Reply

*