Suci, Mahasiswi Psikologi Yang Nyambi Jadi Driver GrabBike

Driver GabBike Suci Agustiani Ichsaan (Foto : @MS)

Saya (depan) dan Driver GabBike Suci Agustiani Ichsaan (Foto : @MS)

 

Oleh : Munir A.S

Faktual.co.id– Pagi pukul 11.00 WIB, saya order GrabBike dari Jalan Tebet Timur Dalam Raya-Jaksel ke daerah Senayan. Setelah order, saya tak perhatikan smartphone dan sibuk dengan perlengkapan kerja di tas. Setelah beres-beres, saya kembali monoleh smartphone untuk mengecek posisi GrabBike yang diorder.

Betapa kagetnya, ternyata driver GrabBike yang mengantar saya seorang perempuan muda. Namanya Suci Agustiani Ichsaan. Seorang perempuan berjilbab. Tapi agar lebih hakul yakin, saya melihatnya fotonya dengan teliti, dan memang driver-nya seorang perempuan tulen.

Tadinya mau saya batal order, cuma kasihan, dari petunjuk GPS, posisi driver-nya sudah mendekati titik ordinat tempat saya. Tak berapa lama driver GrabBike-nya menelepon dan saya terima dengan pertanyaan penuh penasaran; “halo, ini driver-nya cewek ya?” “Iya mas,” jawab si driver. Lantas saya timpali “kalau gitu, saya aja yang bawa motornya ya, mba di belakang saya aja.”

Betapa kekinya saya, harus dibonceng seorang perempuan. Sebagai pria Timur-NTT yang dikonstruki secara sosiologis dengan budaya dan ego patriarki yang kental, tentu emoh rasanya saya dibonceng seorang perempuan. Akhirnya saya mengambil alih sebagai driver. Kami pun meluncur dari Tebet ke daerah Senayan.

Motornya pun cewe sekali; Honda Scoopy. Dengan jaket GrabBike, Suci duduk di belakang saya alias dibonceng. Sepanjang jalan, di titik-titik kemacetan dan lampu merah, ekor mata saya menangkap; begitu banyak pengguna jalan memelototi kami. Suci lah yang jadi pusat perhatian karena jaket GrabBike-nya.

Sepanjang jalan kami terlibat obrolan panjang. Sebelumnya saya memperkenalkan diri sebagai  seorang wartawan di salah satu portal bertia online; Faktual.co.id. Di atas motor, Suci berbagi kisahnya sebagai seorang driver GrabBike paruh waktu. Ia tinggal di Jati Negara-Jakarta Timur.

Suci adalah seorang mahasiswa jurusan Psikologi Semester VII di Universitas Mercubuana-Jakarta. Menjadi driver GrabBike adalah ihtihar Suci membantu biaya kuliahnya; sekaligus untuk meringankan beban keuangan ayah dan ibunya.

Ayah Suci sudah tak bekerja. Cuma sesekali serabutan di bengkel. Ibunya seorang karyawan perusahaan swasta. Beban kuliah Suci per semester Rp.6 juta. Mengandalkan ayah yang bekerja serabutan dan ibu yang cuma karyawan swasta dengan UMR Jakarta, tentu tak cukup membiayai kuliah Suci dan adik semata wayangnya yang masih duduk di bangku SMA.

Belum lagi kebutuhan keluarga sehari-hari di Jakarta. Menjadi driver GrabBike adalah cara Suci membatu beban keuangan orang tuanya. Suci baru empat bulan menjadi driver GrabBike. Ia tak bekerja full time; hanya dari pagi hingga sebelum magrib. Malamnya mengerjakan tugas kuliah dan urusan lainnya.

Sepanjang jalan Suci berbagi kisah tentang kegigihannya meraih gelar sarjana. Sebelum menjadi driver GrabBike, ia pernah cuti kuliah untuk bekerja serabutan mengumpulkan biaya kuliah. Setelah uang yang dikumpulkannya cukup untuk biaya kuliah per semester, barulah Susi kembali melanjutkan kuliahnya. Setamat kuliah, Suci bercita-cita sebagai psikolog. Targetnya ia bisa lulus dan meraih gelar sarjana secepatnya dengan IPK yang bagus.

Suci adalah sekumpulan perempuan penginspirasi yang langkah, dan dengan daya ketahanmalangan yang tinggi. Keuletannya kuliah sambil kerja paruh waktu sebagai driver ojek online, adalah perjuangan hidup inspiratif. Ia tak pasrah pada keadaan, apalagi mengobral kenestapaan.

Cita-cita telah memompa energinya. Harapan telah mengasah ketahanmalangannya. Orang-orang kaya hidup di atas kelimpahan materi dan harta kekayaan warisan. Tapi orang-orang kecil seperti Suci; hidup di atas harapan yang terjaga dan tentu disertai kerja dan peluh. Termasuk tulisan ini, tak sekedar rutinitas profesi, tapi sekedar merawat harapan orang-orang kecil tapi ulet seperti Suci [MS]

Leave a Reply

*