Ahok dan Politik Agama

Ahok dan Politik Agama

Mengulas Ahok dan isu SARA dalam dinamika Pilkada DKI 2017, seperti menarik benang dalam tepung. Menarik benang, tapi tepungnya tak berserakan. Ahok dengan latar belakang etnis Tionghoa dan beragama Kristen, rentan berada dalam simpul pergulatan isu dalam Pilkada DKI. Di lain sisi, Ahok oleh mayoritas media mainstream dan sosmed, selalu di tempatkan sebagai pihak yang terzalimi, akibat latar belakang primordialnya. Meskipun kita saksikan dengan mata kepala, begitu intensnya Ahok melakoni politik pembangunan dengan cara-cara culas dan keras terhadap rakyat kecil di Jakarta. Begitupun kekerasan verbal Ahok yang acap kali mencederai batin orang-orang kecil itu.

Kendatipun begitu, dalam dialektika demokrasi Indonesia yang baru seumur jagung pasca orde baru, memantik euphoria sekaligus ekspresi politik identitas yang selama orde baru di bungkam. Pasca orba; masyarakat seperti tengah menemukan momentum ekspresi politiknya.

Tumpahan sirkulasi ekspresi politik identitas dengan segala varian primordialitas, pun sulit ditampik.  Hal demikian adalah watak alami demokrasi. Bahwa keragaman selalu ada dalam ceruk demokrasi dan bergerak dinamik seiring watak politik masing-masing orang yang merepresentasi identitas primordial kelompoknya.

Demokrasi beserta seluruh sub sistem nilai, kemudian tak bisa serta-merta meratakan kehendak politik secara seragam; tanpa perbedaan ataupun unjuk perbedaan. Riak-riak politik identitas, kemudian tak bisa disalahkan, apalagi dimurkai selama hal tersebut dimaknai dan dikelola secara arif, tanpa perlu diolah secara diametral dan menimbulkan reaksi dan friksi politik yang tak penting.

Ahok Jangan Berlebihan

Keasasian politik dalam ranah demokrasi, kemudian tak serta-merta menyumbat sirkulasi politik identitas, baik dengan jargon etnis atau pun agama. Dalam demokrasi, semua orang bebas mengarahkan pilihan politik kelompoknya, selama itu tak menggerus nilai-nilai kelompok identitas lain.

Penolakan oknum mahasiswa Universitas Indonesia (UI) bernama Boby Febry Sedianto terhadap Ahok karena “kafir,” adalah hal ihwal yang dogmatis, seperti yang digariskan dalam agama dan mazhab Islam yang diyakininya. Itulah perbedaan ! Tanpa perlu diseragamkan ! Hal itu kemudian tidak dikelola secara diametral atau vis a vis dengan kelompok identitas politik lainnya.

Penulis: Ahmad Yohan  Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN)

Leave a Reply

*