Video Ulasan Soeharto Tentang PKI Ramai di Lini Masa

Video Ulasan Soeharto Tentang PKI Ramai di Lini Masa

Faktual.co.id – Munculnya ulasan Soeharto di chanel youtube jadi topik pembicaraan di lini masa. Video ini muncul bersamaan dengan maraknya pembicaraan terkait bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan hangatnya buku Jokowi Undercover tulisan Bambang Tri yang mengupas rekam jejak PKI di balik kehidupan Presiden RI Joko Widodo.

Video yang di-upload lima bulan lalu itu, Presiden RI Ke-2 Jend (Purn) Alm; Soeharto, mengulas soal betapa gigihnya ia meminta presiden RI kala itu; Soekarno untuk membubarkan PKI. Dalam analisa Soeharto, di tahun 1965, PKI menjadi ancaman konflik vertikal dan horizontal di Indonesia. Pertentangan rakyat terhadap PKI begitu kuat, khususnya umat Islam dan TNI Angkatan Darat.

Namun menurut presiden Soekarno, dia sudah kadung menjadi salah satu pemimpin dunia. Pikiran-pikiran tentang Nasakom kadung sudah dikampanyekan Soekarno ke mana-mana dalam lawatannya di beberapa negara. Dengan alasan itu, Soekarno bersisi keras menolak pembubaran PKI karena akan merusak pamornya sebagai tokoh dunia.

Soeharto yang waktu itu beranggapan PKI membahayakan Pancasila sebagai konsensus berdirinya bangsa ini, seakan berbenturan dengan pikiran unifikasi ideologi-ideologi oleh Soekarno. Dalam salah satu kesempatan berduaan, kepada Soeharto, Soekarno bercerita tentang keinginannya menjadikan PKI sebagai “komunis yang pancasilais.” Namun Soeharto tetap keukeuh menolak dan membubarkan PKI.

Dalam pemahaman Soeharto, sebagaimana dalam ulasan yang di-upload pemilik akun youtube Iweal, PKI bertentangan dengan akar budaya dan ideologi bangsa. Doktrin komunis dengan perjuangan kelas, yang menempatkan diktator kaum proletar di satu sisi, dan penguasaan alat produksi oleh kaum kapitalis di sisi lain secara diametral, adalah suatu utopisme yang tak menggambarkan konteks keindonesiaan dan komunis.

Menurut Soeharto, di Indonesia, kaum proletariat pun memiliki lahan sawah dan pemilik alat produksi pertanian. Tapi untuk menyokong pikiran-pikirannya tentang Nasakom, Soekarno  menggantikan istilah proletar dengan kaum Marhaenis; atau ajaran-ajaran Marhaenisme. Bagi Soeharto tetap saja; bahwa pikiran-pikiran besar Soekarno waktu itu, semata-mata untuk menyokong dukungannya terhadap PKI di Indonesia.

Bagi Soeharto, keberadaan PKI dan Soekarno di tahun 1965 adalah suatu hubungan simbiosis-mutualisme, bukan suatu hubungan yang melibatkan seluruh kekuatan organik. Soekarno butuh sokongan PKI waktu itu sebagai partai besar untuk keberlangsungan kekuasaannya, demikian pun PKI membutuhkan Soekarno yang welcome terhadap PKI, demi keberlangsungannya di Indonesia. Kasarnya, hubungan PKI dan Soekarno, adalah suatu hubungan di persimpangan jalan. Sebatas hubungan kekuasaan yang sifatnya temporer.

Puncak dari keukeuhnya Soeharto membubarkan PKI bertepatan dengan lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1965 pasca pembantaian para Jenderal TNI AD. Dengan kewenangan SP 11 Maret, Soeharto membubarkan PKI tanpa sepengetahuan Soekarno. Bagi Soeharto, kunci dari kekisruhan politik saat itu adalah PKI dengan segala bentuk anasir dan propaganda politik untuk menjadikan Indonesia sebagai negara komunis.

Jika kita cermati kondisi Indonesia hari ini, seakan kita tak luput dari berbagai benturan. Propaganda politik dengan membenturkan kelompok mayoritas vs minoritas, kini menjadi letupan-letupan kecil yang terjadi di setiap sudut kehidupan berbangsa kita. Semisal penistaan agama dan kejadian sejurusnya, telah menjadi alat propaganda untuk merobohkan soliditas nasional. Demikian pun penggunaan jargon-jargon dan simbol propaganda berbau PKI, telah merambah masuk ke dalam ceruk kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Persis di tahun 1965, di tengah-tengah carut-marut kehidupan sosial, politik dan ekonomi, PKI bangkit dengan rencana jahatnya memberangus Pancasila.

Untuk menyimak ulasan Soeharto tentang G30S PKI, Supersemar dan Bung Karno, bisa dilihat pada chanel youtube berikut : https://www.youtube.com/watch?v=5B2TxTcQcCk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

*