Esthon-Chris Tampil Memuaskan Pendukung Saat Debat Terbuka Pilgub NTT 2018

Pasangan calon gubernur/wakil gubernur NTT, Esthon L Foenay dan Christian Rotok (Foto : istimewa)

Faktual.co.id– Jakarta (5/4), pasangan calon gubernur/wakil gubernur NTT, Esthon L Foenay dan Christian Rotok, tampil memuaskan para pendukungnya. Rina, salah seorang ibu yang ikut nonton bareng di tenda iNews TV bertutur, “beta sonde menyasal e, datang jau-jau dari Kupang liat Esthon deng Chris debat.”

Senada dengan ibu Rina, Yoris, salah seorang mahasiswa pasca sarjana asal NTT yang turut hadir menuturkan, paparan visi-misi Esthon-Chris, mampu dicerna oleh nalar publik NTT. Keduanya memilih diksi dan data pembangunan yang akurat. Gaya komunikasinya humble. Logika awam publik mudah mencerna omongan Esthon-Chris. Kekeduanya tidak memberikan mimpi ilutif bagi masyarakat NTT.  Keduanya menggunakan komunikasi publik yang mudah diterima dan realistis dalam visinya.

Pada prolog debat, calon gubernur NTT, Esthon L Foenay memberikan landasan makro soal potensi ekonomi NTT dari sisi geopolitik dan geoekonomi. Secara singkat, dapat dipahami bahwa, dengan potensi geopolitik dan ekonomi, NTT diharapkan sebagai jendela ekonomi yang menghubungkan Indonesia dengan Australia dan Timur Leste. Demikianpun terkait pendapatan asli daerah (PAD) dan kemiskinan NTT sebesar 21,7% yang merupakan titik fokus prioritas pembangunan di arahkan. Menyambung Esthon, cawagub; Christian Rotok mengatakan, peta jalan menuju masyarakat NTT yang berdaya saing adalah melalui pendidikan, kesehatan ekonomi, pariwisata dan penataan birokrasi pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi,kolusi dan nepotisme.

Untuk mewujudkan program-program pembangunan yang dicanangkan, maka pasangan Eshton-Chris dalam debat memaparkan tentang upaya pemerintahan provinsi NTT dalam menggali sumber-sumber baru pendapatan melalui investasi. Pariwisata adalah prime mover dalam menumbuhkan investasi. Terkait investasi, pandangan Esthon-Chris lebih inklusif dengan tidak mendikotomikan pengusaha NTT dan luar NTT. Semua kegiatan investasi oleh para investman, diberi ruang dan kesempatan yang sama untuk berusaha di NTT. Sektor swasta inilah yang diharapkan, dapat menumbuhkan sumber-sumber baru pendapatan daerah; dalam rangka meningkatkan PAD provinsi NTT.

Problem utama terbatasnya akses masyarakat dan pelaku usaha terhadap sumber-sumber ekonomi adalah soal konektivitas. Banyak kawasan produktif yang masih terisolasi. Problem aksesibilitas adalah soal besar yang perlu dijawab lima tahun ke depan. Dari sisi infrastruktur jalan misalnya, dari 2.650 km panjang jalan provinsi, kondisi jalan provinsi yang baik hanya 47 %.   Kendala utama dari pembangunan infrastrktur jalan ini adalah ketersediaan anggaran.

Slot anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di NTT dalam setahun adalah sebesar Rp 4 triliunan. Sementara ketersediaan anggaran yang dialokasikan dalam APBD hanya Rp 300 miliar lebih.  Artinya, ada selisih sekitar Rp.3,7 triliun yang perlu dipikirkan pemerintah sebagai sumber pembiayaan infrastrukur.

Bahkan berdasarkan data dinas PU provinsi NTT, setelah panjang jalan provinsi bertambah menjadi 2.650 km, alokasi DAK untuk infrastruktur jalan dan jembatan di NTT tak mengalami peningkatan. Idealnya, dengan bertambahnya panjang jalan provinsi, alokasi DAK lebih acceptable, agar target perbaikan jalan dan jembatan bisa tercapai.

Dalam debat cagub/cawagub NTT, masalah ini diangkat oleh Tina Talisa sebagai moderator. Menangapi hal ini, cawagub NTT sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah PAN NTT; Christian Rotok sampaikan, perlunya penataan kembali ruas jalan dengan konsep pemerataan. Karena masih ada ketimpangan. Misalnya ada kabupaten-kabupaten kecil tapi panjang jalannya mencapai hingga 300 km lebih. Sebaliknya ada kabupaten besar tapi ruas jalannya  hanya 100 km atau lebih sedikit.

Oleh karena itu kata Chris, penataan ruas jalan kedepan harus memperhatikan pemerataan sesuai prioritas pembangunan ekonomi di masing-masing kabupaten. Jadi tidak asal bangun jalan. Lanjutnya, dengan pemerataan itulah kita akan tahu dengan pasti berapa anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan di NTT. Adapun selisih antara kebutuhan anggaran dan ketersediaan APBD NTT untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, diperoleh dari kegiatan investasi. “Kalau sudah ada penataan ruas jalan, ketahuan anggaran yang dibutuhkan, maka kita akan cicil pembangunan dan perbaikannya,” demikian pungkas Chris.

Penulis : Munir Sara

Editor : Gazali Iskandar

 

 

Leave a Reply

*