Menyegarkan Kongres PAN

Menyegarkan Kongres PAN

Faktual.co.id -Pada tanggal 23 Agustus 2019, PAN menggelar Milad di bawah kolong tol, kawasan Jembatan Tiga, Pluit, Jakarta Utara. Bukan soal kolong jembatan, tapi sejenak, kita memberi jeda, mengumpulkan peristiwa memorial, bahwa PAN lahir dalam basic demand yang demikian. Lahir dari rahim demokrasi—populisme.

Peristiwa Milad yang memorial ini, seakan mengumpulkan kembali, nilai-nilai yang berserahkan. Dari kolong jembatan sekalipun. Milad di kolong tol Pluit, juga sebuah maruah, pertanda, PAN ingin bergerak dari bawah ke atas (bottom-up) dalam alur gerak politiknya ke depan.

Peristiwa Milad PAN, sesungguhnya bukan ihwal baru, tapi tampak, PAN tengah “membarukan dirinya.” Menuju kebaruan–menuju harapan baru. Merevitalisasi giro politik partai, dengan basic demand sejarah lahirnya, ditengah corak demokrasi modern yang lIberal–kapitalis dan dibungkus dalam kemasan demokrasi elektoral (threshold)-neolib. Ini yang terjadi sepanjang tahun politik 2019.

Di dalam semua langgam demokrasi yang demikian, lalu negara muncul dengan infrastruktur ideologinya, membelah-belah publik dalam paroki Pancasilais dan non Pancasilais dan turunannya. Ujung-ujungnya, semua bermuara pada framing politik. Sebagai bagian elementer dari perpolitikan nasional, PAN terlibat dan merasakan dampaknya.

Harus diakui, sepanjang tahun politik 2019, PAN berada di dalam segmentasi dan kohesi ideologis tersebut dalam kancah politik tanah air. Pada bagian pembelahan tertentu, PAN dapat mengambil benefitnya, namun pada bagian lain, justru tergerus—dirugikan. Kendati, sudah men-declare diri, berdiri di tengah tapi condong ke kanan. Meskipun atas sikap itu, menuai kritikan, karena berada pada suatu sikap ambivalensi, disaat ada entitas politik lain mengambil untung besar dan bersikap sangat jelas dalam langgam politiknya.

Walau disana-sini ada nada-nada sumbang dari kelompok minoritas politik di internal PAN yang bersuara lirih, bahwa basis nilai PAN sudah jelas, sebagai partai bercorak nasionalis, tapi memberikan ciri religious pada ethics politiknya. Mengemas PAN dalam wajah tertentu, justru membuatnya makin parokial dalam wajah yang lain. Akibatnya, kita kita acap kali gagap, dalam mendinamikai berbagai blok-blok system ideologis yang sering menghantam dalam dialektika politik nasional.

 

*** Kongres PAN

Jujur saja, sebagai anak muda PAN, kongres PAN bukanlah melulu mengawetkan sirkulasi politik “kekusaan,” meski menjadi bagian inti dan penting. Yang terpenting bagi momentum Kongres kali ini, adalah menambah energi politik partai, agar memiliki ketahanmalangan dan daya konsepsi untuk lima tahun ke depan (2024). Salah satu daya konsepsi adalah memberikan bobot kekaderan dalam elan vital partai. Bobot secara nilai (values) dan tentu bobot pada distribusi sumber daya politik.

Hanya dalam bobot kekaderan itulah, giroh politik anak-anak muda tetap terjaga dan terawetkan. Kita bisa berkaca pada parpol-parpol dengan infrastruktur politik yang mapan. Mereka mampu meredistribusi sumber daya politik, pada bagian-bagian lapisan potensial kader (secara institusional).

Antibody parpol tersusun berlapis dari berbagai tingkatannya. Dengan demikian, tidak saja kuat karena kuantitas, tapi kuat kerena sumber daya politik, menguatkan semua bagian politik secara elemnter. Immun dan tahan banting !

Sebagai anak muda PAN (bukan kerumunan), tentu kita perlu mengajukan proposal bagi “Harapan Baru PAN.” Agar kongres PAN bukanlah sekedar mengawetkan rutinitas. Tapi lebih dari itu, adalah kekmampuan partai untuk me-renewable dirinya. Membarukan dirinya; dalam harapan-harapan yang dapat diwujudnyatakan.

Dus, kongres PAN bukanlah barang tabuh untuk diperbincangkan, apalagi disentuh. Sebagai partai yang men-declare diri sebagai “partai anak muda,” maka PAN, pun kongresnya pada 2020 kelak, tak luput dari sentuhan dialektika. Agar menggahar sisi-sisi kaku sejak dini, menjadi lazim, lentur dan dialektis, termasuk sikap tanpa ragu-ragu mengusung proposal “kebaruan,” PAN.

Dalam suatu kaidah metodologi berfikir paling klasik, dikenal yang namanya dekonstruksi. Dekonstruksi, bukanlah membongkar semua yang lama, tapi di dalamnya, ada usaha untuk merekonstruksi—membarukan yang lama. Tak saling menegasikan antara yang lama dan baru! Yang terpenting adalah mendiskusikan ! Pun menyegarkan kembali Kongres PAN menuju kebaruannya ! Wallahu’alam

Oleh : Munir (Ketua Badan Humas dan Media DPP BM PAN)

 

Leave a Reply

*