Teror Si Abu

Teror Si Abu

Faktual.co.id– Penyerang Pak Wiranto itu namanya Abu Ara. Sebelumnya, tidak sedikit Abu yang diringkus, karena melakukan terror ! Jelas Abu Ara ini anak khalaqoh, punya janggut, dan celana cingkrang.

Sebelum tragedi penyerangan pak Wir, belum lama ini, di Wamena-Papua, ada 32 warga etnis pendatang dibantai secara tak manusiawi. Sadis.

Darah mereka mengalir, membasahi tanah Papua disaat anggaran belanja Polri naik hingga Rp.104,7 triliun pada APBN 2020. Lebih besar dari pagu belanja sebelumnya Rp.94 triliun.

Ada dokter patriot yang dibakar hidup-hidup bak sate. Air mata ibunya belum kering, apa lagi bini yang kini janda dan anaknya yang kini jadi yatim. Dia mati gosong di punggung bumi Papua.

Ratusan rumah dibakar, hilang mata pencaharian, melarat tak karuan pasca tragedi. Pelaku di Wamena bukan Abu, meski meneror—membantai. Banyak yang mati.

Sampai kini, kita pun bingung, apa motif tragedi Wamena. Apakah Papua state? Sara? Atau apa? Kalau pelakunya bernama Abu, barang tentu bisa kita kira-kira, motifnya negara teokrasi, Islamic state atau ISIS.

Kendati keduanya punya ideologi sebagai mind-behind-nya. Keduanya melakukan terror dan kekerasan sebagai pesan, penekan, negosiasi dan bargaining. Persis sama.

Setelah kasus penyerangan pak Wir, presiden RI cepat-cepat menyerukan perangi radikalisme. Memang begitu adanya. Apalagi, penyerang pak Wir itu bercelana cingkrang, pun punya janggut.

Sementara bininya pakai cadar. Sudah begitu, namanya juga Abu Ara. Cocoklah, radikalisme sudah pasti tepat disematkan.

Diksi terror memang tak bisa berdiri sendiri. Dia mesti disandingkan dengan radikalisme. Radikalisme pun tak bisa berdiri sendiri, tapi mesti berdampingan dengan teologisme—teologisme pun tak bisa berdiri sendiri tanpa bergantung pada simbol, citra dan alat propaganda ! Akarnya harus ke teologi, barulah dia memenuhi syarat sebagai radikalisme—terorism.

Kalau pembantaian di Wamena itu bukan terror. Atau bukan radikalisme. Meski kita juga bisa bilang, tragedi Wamena itu tindakan radikalisme oleh fundamentalis West Papua–misalkan. Atau oleh Fundamentalis primordialism. Keduanya punya ideologi sebagai mind-behind.

Cuma sejauh ini, terminologi radikalisme itu klise. Karena definisi tentangnya tidak universe. Atau mungkin bukan proyeknya pada kasus dan kekerasan lain yang juga merupakan suatu tindakan terror.

Bahkan negara, dengan semua infrastrukturnya untuk melakukan represi, pun bisa meneror ! Apakah dengan begitu, negara pun bisa dibilang terrorism dalam bentuk yang lain? Wallahu’alam

Penulis : Munir (freelance writer)

Leave a Reply

*