Mulfachri; Kader PAN Harus Berkarakter

Waketum DPP PAN, Mullfachri Harahap (Foto Istimewa)

Faktual.co.id– Waketum DPP PAN, Mulfachri Harahap tegaskan, pentingnya karakter dalam berpolitik. Harapan ini, ia sampaikan di tengah-tengah suasana jelang kongres PAN yang mulai hangat. Menurut dia, kongres PAN bukan sebatas memilih ketua umum partai, tapi mereformulasi karakter partai yang diwakili oleh elit dan simpatisan. Karakter ini mewakili anasir-anasir politik PAN. Karakteristik inilah yang menjadi dignity kader.

Ditegaskannya, pilar politik praktis ini ada tiga. Pertama; ideologis, oportunis dan pragmatis. Pilihan oportunis dan pragmatis adalah pilihan taktis—strategis. Tapi keduanya di-guidance oleh karakteristik ideologis sebagai guideline partai. Sebagai basis nilai. Ideologi sebagai bingkai besar, sebagai melting pot, sebagai basis pencerahan dari dimensi pragmatis dan oportunis.

Sikap berdiri di tengah dan condong ke kanan, adalah sebuah postulat, yang meniscayakan tak ada penegasian terhadap entitas politik dan sosial lainnya. Ini menjadi bagian penting bagi komunikasi politik PAN. Menjadi corak yang mesti terucap ke publik dalam elan politik PAN. Jika tidak, maka kita akan mengalami disorientasi politik.

Jangan sampai, pilihan pragmatis dan oportunis tidak merefleksikan giroh ideologis dari partai. Dan pada traktat ideologis ini, PAN dibangun oleh pilar-pilar sosial, sebagai bagian komplementer dari kebangunannya. Jadi anasir-anasir politik kita, termasuk di media, jangan sampai menjadi ambigue, karena tidak berpijak pada pilar-pilar sosial yang ikut menunjang kebangunan partai ini dan sejarahnya. Membangun partai ini (PAN–red), harus dimulai dari kesadaran pada struktur anatominya.

Ia mengambil contoh, kemenangan PAN di beberapa daerah dan tergerusnya PAN di daerah lainnya, selain akibat cocktail effect atau efek ekor jas dari kohesi Prabowo dan outside-nya, tapi juga menggambarkan sisi lain dari pada sosiologi politik nasional. Dan sosiologi politik ini, harus dibaca sebagai peta jalan masa depan politik PAN.

Ke depan kata dia, efek residu dari pembelahan politik tak sepanas 2019, karena pemerintah agak dominatif—terutama di parlemen  lima tahun ke depan. Apalagi, digadang-gadang, Gerindra, akan masuk dalam poros koalisi pemerintah. Meski sedikit, pembelahan di publik pasti ada, namun hulu letupnya tak dominan dari elit. Cenderung dinamis. Kondisi ini harus mampu dikapitalisasi PAN sebagai partai di luar pemerintah untuk menjemput harapannya di tahun politik 2024. Kuncinya konslidasi sekuat tenaga.

Dengan demikian, menurut Mulfachri, selain PAN memiliki peta jalan basis politik, juga perlu membangun lapisan kader berbasis kapasitas dan karakter. Lapisan kader ini, ke depan diharapkan mampu mengelola isu berdasarkan lokus masing-masing. Jadi tidak asal berstatemen di media, tapi resultante-nya adalah membranding partai.

Percaya-tidak percaya, kita tengah berada di era 4.0. Ini era dunia virtual. Kondisi dimana berkebangnya e-commerce berupa unicron trans-nasional dengan transformasi yang begitu cepat. Virtual world ini, tidak saja merubah perilaku konsumen, tapi juga berdampak pada transformasi corak social lainny. Termasuk politik, pola komunikasi politik, sebagai bagian elementer dari global virtual transformation.

Digitalisasi dan transmisi komunikasi publik, sirkulasinya terjadi begitu cepat, termasuk isu-isu politik. Jangan sampai PAN ini kalah langkah dan mati gaya ke depan. Oleh karena itu, sistem informasi partai, harus terdistribusi secara merata pada pos-pos kader yang dikelola secara kelembagaan.  Dengan lokus isunya masih-masing, baik isu-isu daerah dan nasional. Ini menjadi pilihan penting selain konsolidasi sebagai titik nadir partai.

Kita tengah meretas jalan “Menuju Harapan.” Harapan adalah sesuatu yang baru dan futuristik. Konsekuensinya, jika ingin perubahan, maka mesti berani bergerak meninggalkan kekosongan harapan atau “Zero Harapan.” Bukankah membangun partai ini, salah satunya adalah dengan membangun harapan kader-kader, agar setiap orang bisa membangun cita-cita sosialnya di politik?” Demikian pungkasnya (Hkh)

 

 

Leave a Reply

*