Pasar Menyambut Pelantikan Presiden

Pasar Menyambut Pelantikan Presiden

Faktual.co.id – Pasar memberikan respon jelang pelantikan presiden Jokowi. Hal itu terlihat dari serbuan investor di pasar saham domestik. Pada perdagangan Jumat (18/10/2019), transaksi di pasar saham Indonesia bergairah. IHSG bertebgger di zona hijau lima hari berturut.

Antusiasme pelaku pasar memborong saham di pasar domestik jelang pelantikan presiden, terlihat pada valuasinya pada transkasi saham. Berdasarkan data BEI, terlihat, terjadi peningkatan transaksi sebesar Rp.1,03 triliun menjadi Rp.10,26 triliun, dibandingkan satu hari sebelumnya.

IHSG juga ditutup naik 10 point, atau 0,18% pada level 6.191,94. Enam hari berturut-turut, IHSG reli, seturut, jelang pelantikan presiden pada Minggu, 20 Oktober 2019. Konsisten pergerakan IHSG di zona hijau, masih dinamis hingga komposisi kabinet Jok-Ruf diumumkan.

Secara teknikal, reli IHSG itu, bisa dilihat dari pergerakan short white candle, grafik yang menggambarkan pergerakan saham. Memperlihatkan secara everage, IHSG bergerak di atas nilai rata-rata dalam kurun waktu lima hari terakhir.

Pergerakan IHSG akan terus bergairah, dan diperkirakan hingga (Senin,21/10), sebagaimana indicator Relative streghth Indeks (RSI), yang menunjukkan IHSG belum menyentuh level jenuh membelinya.

Tapi jangan senang dulu, sebenarnya, kondisi ini juga ditopang oleh sentiment global yang membaik, dimana perang dagang AS-China yang mulai meredah, pun kejelasan soal Brexit. Dua faktor ini, ikut memberikan sentiment positif bagi bursa saham Asia di zona hijau, tak luput IHSG.

 

###

Kendatipun demikian, ada beban berat yang akan menantang rezim Jokowi jilid II. Sepanjang lima tahun/Periode I, Jokowi gagal memperbaiki manufaktur, dan ekspor sebagai motor pengerak utama ekonomi.

Pada kuartal III-2019, indeks manufaktur terus menurun, demikianpun defisit perdagangan yang masih lebar. Dus infrastruktur yang diharap menopang daya saing, justru lemah secara global competitiveness berdasarkan rilis WEF 2019.

Menurut Chief Economist Bank CIMB Niaga, Adrian Panggabean, sebagai yang dilansir CNBC Indonesia, mengatakan, memang secara makro, Indonesia di posisi stabil. Namun sepanjang lima tahun, rezim ekonomi Jokowi, tak mampu merubah sektor dinamik. Sektor dinamik seperti ekspor, manufaktur, belum menjadi engine of growth dari ekonomi nasional.

Engine of growth Indonesia masih ditopang oleh sektor konsumsi domestik. Bukan sektor produktif seperti perdagangan (produksi/ekspor). Secara fiskal, tax ratio pun masih berada di bawah 12%. Ini menggambarkan, softwere dari pertumbuhan, belum optimal dilakukan rezim ekonomi Jokowi.

Jika softwere dari engine of growth ini tak mampu dirubah oleh Jokowi lima tahun mendatang, Indonesia akan terus berada di tubir defisit ekonomi, terutama di sektor perdagangan. Ini tantangan, sekaligus ancaman bagi masa depan perekonomian Indonesia.

Selain faktor ekonomi, stabilitas Polhukam juga menjadi faktor penting yang tengah bergejolak. Pembelahan-pembelahan politik saat ini, kian menggeser kelompok masyarakat dalam blok-blok konflik primordial yang makin akut.

Gesekan-gesekan sosial makin rentan terjadi. Konflik etnik beruntun di Wamena Papua, juga di Kaltim adalah gambar resistensi yang jelas terpampang. Dilain sisi, pemberantasan korupsi yang tak jelas juntrungannya; dengan kontroversilitas terkait UU KPK, makin mengakumulasi instabilitas Polhukam. Jika kondisi ini berlarut dan makin kronis, maka akan memberikan dampak buruk bagi stabilitas ekonomi.

Semoga, komposisi kabinet Jok-Ruf yang akan segera diumumkan pasca pelantikan, memberikan harapan baru. Stabilitas Polhukam, menjadi leading sector bagi pembangunan ekonomi. Tentu harapannya, pemerintah berhenti, ikut menggahar, terciptanya blok-blok sistem negatif, yang memberikan dampak buruk baik stabiltas polhukam (Ms/F).  

Leave a Reply

*