Lupakan Pertumbuhan Ekonomi 7%, Ini Janji Baru Jokowi

Lupakan Pertumbuhan Ekonomi 7%, Ini Janji Baru Jokowi

Faktual.co.id– Pada Pilpres 2014, dalam kampanye politik, Jokowi berjanji, mewujudkan pertumbuhan ekonomi di atas 7%. Alih-alih terwujud, hingga akhir masa jabatan periode I, pertumbuhan ekonomi mangkrak di 5%. Selain itu, di sektor produktif seperti perdagangan, ekspor melemah dan menjadi biang lebarnya defisit current account.

Rezim ekonomi Jokowi I, belum mampu mendorong sektor dinamik sebagai mesin pertumbuhan. Saat ini, domestic consumption, masih menjadi mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data BPS, Konsumsi rumah tangga memberikan sumbangan sebesar 55,79 persen. Angka tersebut meningkat dibanding dengan periode yang sama pada tahun lalu, 55,23 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan meroket di atas 7%, jauh panggang dari api. Selain faktor ketidakpastian global, dan perang tarif (trade war), rezim ekonomi Jokowi jilid I, belum mampu mensinergikan geliat pembangunan infrastruktur dan laju pertumbuhan ekonomi.

Alih-alih pembangunan infrastruktur menjadi penggenjot daya saing nasional, rilis world Economi Forum tentang Global Competitiveness Index 2019, justru memperlihatkan melorotnya daya saing infrastruktur Indonesia.

Geliat pembangunan infrastruktur, pun tak mampu menggenjot peringkat daya saing Indonesia di bidang infrastruktur. Malah di sektor ini justru daya saing Indonesia jemblok, turun tahun ini dari posisi 71 tahun lalu menjadi 72.

Dus, ini menjadi pertanyaan, bahwa apakah pembangunan infrastruktur yang getol dilakukan dengan pembiayaan utang yang besar, lemah dari sisi perencanaan? Hingga pembangunan infrastruktur tersebut belum menjadi prime mover ekonomi dan daya saing nasional sepanjang lima tahun berlalu (2014-2019)?

Tentu kita berharap, di rezim ekonomi Jilid II, sektor pembangunan multi sektor yang dikampanyekan, perlu dituruti juga dengan perencanaan yang baik. Berikut, pembangunan tersebut, mampu meningkatkan daya saing dan sebagai prime mover pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan infrastruktur yang dilakukan, harus bersinergi dengan sektor-sektor dinamik yang menjadi software mesin pertumbuhan (engine of growth). Terutama berorientasi pada produksi nasional, peningkatan sektor manufaktur dan perdagangan (ekspor). Iklim usaha perlu dijaga dengan regulasi dan perizinan yang sederhana dengan pelayanan prima. Kalau iklim usaha dan investasi dapat tumbuh dengan baik, maka tax ratio bisa ditingkatkan di atas 12%.

Hari ini, Minggu (20/10/2019), di gedung DPR/MPR RI, Jokowi-Ma’ruf dilantik, sebagai pasangan Presiden-Wakil Presiden lima tahun ke depan. Segudang janji dan persoalan sudah menunggu.

Diantara janji-janji mereka adalah : (1) peningkatan kualitas manusia Indonesia. (2). Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing. (3) Pembangunan yang merata dan berkeadilan. (4)Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan. (5)Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa.(6). Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya. (7) Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga. (8). Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya. (9). Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara Kesatuan.

Dengan penuh hikmat dan bersumpah di depan mata 260 juta penduduk Indonesia, Jokowi-Ma’ruf berjanji, mewujudkan janji-janjinya. Dari janji ekonomi tumbuh 7 % hingga janji yang baru. Tuhan bersaksi, rakyat menagih janji itu. Walahu’alam (Ms/f)

Leave a Reply

*