Milad Muhammadiyah; Rajut Kebersamaan Raih Kejayaan

(Foto Fs.Doc/F)

Oleh: Farhan Suhada, S.Sos, M.Si*

(Memaknai Aneka Lomba dan Pertandingan dalam rangka Memeriahkan Milad Muhammadiyah)

Beberapa hari yang lalu tepatnya 18 November 2019 Persyarikatan Muhammadiyah telah menapaki usianya yang ke 107 tahun berdasarkan perhitungan masehi. Bila digunakan perhitungan tahun hijriah, maka organisasi kemasyarakatan ini telah mencapai usia ke 110. Usia yang telah menembus lebih dari satu abad ini membuktikan bahwa Muhammadiyah telah sangat mapan dalam hal penataan sistem organisasi wabilkhusus membangun kekompakan jamaah dalam melangkah untuk mengelola berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Sebagai bagian integral dari persyarikatan secara nasional dan bahkan internasional, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Nusa Tenggara Timur (NTT) kemudian menggelar serangkaian kegiatan yang semangatnya adalah turut memeriahkan Milad Muhammadiyah yang ke 107 tahun. Mulai dari upacara bendera, jalan sehat, adu tarik tambang, pertandingan tenis meja, pertandingan bola voli, pertandingan futsal dan lomba membaca puisi. Pada ujungnya nanti panitia akan menggelar puncak perayaan Milad Muhammadiyah di akhir bulan November ini. Berbagai kegiatan pertandingan yang telah, sedang dan akan digelar ini melibatkan seluruh komponen warga persyarikatan yang ada di NTT dan terkhusus yang berdomisili di Kota Kupang.

Kemeriahannya mulai terlihat dari hari Sabtu, 16 November 2019. Banyak tim dan peserta yang antusias untuk ambil bagian berpartisipasi mengikuti aneka lomba dan pertandingan. Untuk tarik tambang, bola voli dan futsal, ketiganya sangat menyedot animo masyarakat untuk menyaksikannya. Secara polos mungkin akan muncul pertanyaan apa hubungannya Milad Muhammadiyah dengan tarik tambang, futsal dan bola voli. Memang benar kegiatan-kegiatan tersebut dianggap sangat artifisial dengan semangat kelahiran Muhammadiyah pada tahun 1912. Namun jika dicermati lebih dalam, maka setidaknya ada pesan penting yang PWM NTT ingin sampaikan kepada publik terkait digelarnya rangkaian kegiatan tersebut.

PWM NTT sejatinya ingin menyampaikan pesan kepada segenap anak bangsa akan pentingnya menjaga keutuhan atau kekompakan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Tarik tambang misalnya. Olahraga yang sangat menguras tenaga dan emosi karena harus bersama banyak orang menarik tali tambang yang di sisi lainnya ada pihak lawan yang juga menarik tali tersebut ke arah yang berlawanan secara horisontal. Memaksimalkan tenaga sekian banyak orang untuk satu tujuan menarik habis tali beserta orang-orang yang ada pada pihak lawan bukan persoalan yang mudah. Upaya menundukkan lawan atau memaksakan agar lawan beserta tali yang mereka pegang dapat tertarik ke arah yang kita inginkan tentu membutuhkan kerjasama atau kekompakan tim yang luar biasa. Terkadang dalam prosesnya kita harus tertarik ke arah lawan, terkadang pula segenap anggota tim harus bergeser karena terguncang oleh gerakan teman atau lawan. Apabila tidak fokus menarik tali dan menancapkan kaki untuk pasang kuda-kuda sembari kompak bergerak, maka bisa dipastikan lawan akan dengan mudah menarik kita.

Begitupun dengan futsal yang aslinya adalah bermain sepakbola dalam ukuran lapangan yang mini serta jumlah pemain yang lebih sedikit. Kelima orang yang berlaga dalam satu pertandingan harus berjuang bersama menundukkan lawan yang berjumlah sama dengan tujuan menjebol gawang dari pihak lawan. Mulai dari penjaga gawang, pemain belakang dan penyerang harus bersinergi mengupayakan agar timnya dapat memasukkan si kulit bundar ke jala lawan lebih banyak ketimbang pihak lawan. Rasa saling percaya dan saling pengertian merupakan hal paling elementer dalam mewujudkan tim yang solid untuk memenangkan pertandingan futsal.

Apabila sesama teman dalam tim sudah tidak saling percaya, maka yang terjadi adalah bola tidak ada lagi yang diover ke arah teman. Bola hanya akan dikuasai sendiri untuk digiring ke arah gawang lawan. Hal yang sangat mustahil untuk terjadinya gol karena lawan sudah bersiap secara berlapis membendung serangan seorang diri. Demikian pula jika tidak ada rasa saling pengertian antara sesama pemain dalam satu tim. Yang akan terjadi hanyalah pertahanan yang rapuh dan diikuti pola penyerangan sia-sia karena bola akan salah arah dan upaya menyerang akan mudah dipatahkan.

Setali tiga uang dengan futsal dan tarik tambang, pertandingan bola voli juga sangat membutuhkan kekompakan tim. Mulai dari kemampuan bertahan, menyusun pola serangan dan mengeksekusi umpan lambung bola di atas net berupa smash yang mematikan adalah ciri khas dari upaya tim untuk mengumpulkan angka demi angka dalam olahraga yang satu ini. Dalam pertandingan bola voli, perhitungan point terus bergerak, entah bertambah untuk tim sendiri ataupun pihak lawan. Kesalahan yang dilakukan oleh satu orang harus ditanggung bersama karena angka akan bertambah untuk lawan.

Di titik inilah terkadang emosi terkuras karena upaya meraih kemenangan tim terganggu dengan dorongan untuk memarahi teman yang berbuat salah. Apabila perasaan ini tidak diredam maka kerja tim akan berantakan karena yang terjadi hanyalah perasaan kecewa dan saling menyalahkan kawan di satu sisi, sedangkan di sisi lain lawan terus mengumpulkan point hingga memenangkan pertandingan.

Penjelasan-penjelasan terkait lika-liku aneka pertandingan di atas memberikan pesan kepada kita akan pentingnya menjaga kebersamaan. Betapa semangat untuk bersama melangkah mewujudkan satu tujuan yakni kemenangan tidak boleh padam sedikitpun. Menumbuh-suburkan rasa saling percaya dan membentuk rasa saling pengertian akan membuat cinta dan kasih-sayang selalu mewarnai gerak langkah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Adapun hal yang paling berbahaya dalam merawat kebersamaan sebagai sesama anak bangsa ini adalah jika telah merebaknya kebiasaan saling menyalahkan satu sama lain.

Sebagaimana diketahui, sebelum memasuki abad ke-20, upaya mengusir penjajah Belanda, dari bumi Nusantara masih bersifat sporadis. Perjuangan fisik bersenjata yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang hari ini dikenang sebagai para pahlawan dengan mudah dipatahkan oleh pihak Belanda karena masih bersifat kedaerahan dan mudah diadu-domba. Tahun 1912 adalah salah satu momentum yang dicatat sebagai salah satu tonggak sejarah pergerakan nasional.

Menjadi bersejarah karena pada saat itu sebuah gerakan keagamaan dan sosial didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan bersama murid-muridnya di Yogyakarta bernama Persyarikatan Muhammadiyah. Kyai Dahlan menyerukan pentingnya mencerdaskan dan mensejahterakan anak-anak bangsa secara terstruktur, sistematis dan massif. Bahwa tidak akan mungkin Belanda akan angkat kaki dari Nusantara jika kita masih berjuang sendiri-sendiri, tidak saling percaya, tidak saling pengertian dan hanya bisa saling menyalahkan antara sesama anak bangsa.

Mari segenap anak bangsa kita rajut kebersamaan, bangun kekompakan untuk berjuang mewujudkan kejayaan Indonesia. Mewujudkan mimpi atau tujuan berdirinya repubIik ini yakni Indonesia yang merdeka, bersatu adil dan makmur. Kalaulah terkadang muncul anasir-anasir negatif di atas, anggaplah itu bagian dari tahapan-tahapan ujian atau dinamika kehidupan sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

Mbay pesona di Flores utara
Sejauh pandang padi menguning
Ujian hidup orang bersaudara
Kadang disayang kadang digunjing

*)Penulis adalah Sekretaris Program Studi Antropologi FISIPOL Universitas Muhammadiyah Kupang

Leave a Reply

*