Misteri Palu Sidang Harmoko dan Zulhasan

Misteri Palu Sidang Harmoko dan Zulhasan

Faktual.co.id- Dikanal laman sosmed, lagi ramai tentang ketua umum PAN Zulkifli Hasan, diceritakan kabur dari forum rapat membawa palu sidang. Sementara forum rapat harian DPP PAN riuh, berdebat soal tuan rumah kongres PAN, tentang penentuan ketua OC dan SC Kongres.

Kala pengukuhan Soeharto sebagai presiden yang ke 7 kali, palu sidang pimpinan MPR patah. Tragedi patahnya palu dalam sidang MPR, 11 Maret 1998, memantik kegelisahan Harmoko. Ia punya firasat buruk atas peristiwa itu, bahwa pak Harto akan lengser.

Lain Harmoko lain Zulhas. Harmoko punya kerelaan pada gejala—firasat bahwa Soeharto akan lengser keprabon. Dalam tingkatan batin tertentu, ada kerelaan. Patahnya palu sidang, direspon Harmoko dengan bacaan yang lebih transenden, dengan kedalaman batin. Sementara Zulhas, memaksakan keinginan, membawa kabur palu sidang, sebagai pesan simbol ketamakan; keserakahan. Tak ada kerelaan !

“Begitu palu sidang saya ketukkan, meleset, bagian kepalanya patah, kemudian terlempar ke depan.” Demikian ungkap Harmoko dalam buku Berhentinya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Harmoko yang ditulis Firdaus Syam (2008).

Kepala Palu sidang itu lepas dari gagangnya. Sebagai orang dekat Soeharto, Harmoko terlalu kuat menggengkap palu. Ketukannya untuk mengukuhkan Soeharto kembali sebagai presiden terlalu kencang. Tapi peristiwa itu terus menghantuinya. Apa dikata, tak berapa lama, masih ditahun yang sama, Soeharto ditumbangkan.

Selaku orang Jawa, Harmoko terus bertanya-tanya tentang peristiwa yang ia alami. Apalagi, patahnya palu sidang baru kali itu terjadi. Raut wajah Soeharto berubah saat Harmoko menceritakan peristiwa itu. Mata batin Soeharto pun menangkap demikian, ia akan lengser keprabon.

Harmoko terlampau kuat menggenggam palu, pun terlalu bernafsu mengantamnya ke meja Sidang. Sementara Zulhas, tak cuma kuat menggenggam palu sidang, ia pun membawa kabur palu persidangan. Nafsu berkuas Zulhas sama awetnya dengan Soeharto.

Namun peristiwa itu membuka mata batin Harmoko. Tuhan memberi tanda, kecerdasan batin–firasat menyundulnya ke langit kuasa. Tak selang lama, Soeharto lengser dalam huru-hara dan gelombang reformasi.

Di tangan Harmoko palu sidang patah. Di tangan ketua umum Zulhas, palu sidang dibawa lari dari forum sidang Rapat Harian. Ini baru pertama terjadi di PAN. Harmoko dalam tingkatan batin tertentu, mawas–berfirasat, bahwa Soeharto akan jatuh. Ketum PAN, Zulhas dalam tingkatan tertentu tahu bahwa ia akan lengser. Ia khawatir, tampuk pimpinan PAN lepas darinya. Lalu dengan cara banal, kekuasaan ingin dikangkanginya lagi.

Tanpa disadari, setiap tindakan adalah interkoneksi alam bawa sadar dan pertanda awal pada peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Dengan semua tanda, dari pemilihan pimpinan fraksi PAN, SC Rakernas hingga hasil Rakernas 7/12/2019, adalah pesan cukup kuat, bahwa penolakan Zulhas begitu kuat. Ini mestinya menjadi firasat yang mendekatkannya pada gejala, bawa ia akan berakhir.

Zulhas secara kedalaman hati dan batin tentu membaca tanda ini. Jika ia seorang yang saleh, pasti terbuka cakrawala batinya. Kecerdasan dan intuisi, akan mendekatkannya pada peristiwa-peristiwa di sekitar. Sudah menjadi sunatullah, ada awal dan akhir. Ada masa aktif, ada masa pensiun. Semua sudah ada kadar-nya sendiri dalam ketentuan dan hukum-hukum kejadian.

 

Bogor, 21 Desember 2019

Penulis : Munir (Penulis pernah menjadi freelance writer Zulhas di Kongres PAN 2015)

Leave a Reply

*