Kronologi Sebenarnya Zulhasan Bawa Kabur Palu Sidang PAN

Rapat harian DPP PAN (Foto/Istimewa)

Faktual.co.id- Kabar Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan bawa kabur palu sidang rapat harian santer di lini masa. Dikabarkan, tak sanggup tangani forum rapat harian, mantan ketua MPR ini cepat-cepat putuskan keinginannya dan bawa kabur palu sidang. Berikut pengakuan Wahyuni Refi Pengurus Harian DPP PAN yang ada dalam forum rapat harian pada Jumat, 20 Desember 2019 di jalan Daksa-Jaksel.

Saya ada dalam forum rapat harian malam itu (Jumat 20 Des 2019). Tepatnya di kantor PAN Jalan Daksa-Jaksel. Suasana Rapat Harian terasa begitu mencekam, peserta rapat telah memenuhi ruangan rapat. Para peserta rapat dengan setia menanti pimpinan rapat.

Rupanya rapat harian kali ini memang spesial dan sangat ditunggu-tunggu, sehingga ruangan rapat penuh oleh peserta rapat. Padahal biasanya tak lebih dari dua puluhan orang yang bersedia mengikuti rapat harian.

Setelah  hampir satu jam terlewati dari jadwal yang telah ditentukan Ketua Umum Zulkifli Hasan dan Sekjen Edy Soeparno memasuki ruang rapat. Sambil berucap, “Rapat kita mulai saja ya…” dan Ketum mengambil kursi yang telah disediakan. Dengan didampingi Sekjen dan Bendum Nasrullah, ketum duduk siap memimpin rapat, namun ada sesosok yang baru, Epiyardi.

Menurut cerita sosok yang ikut mendampingi ini disebut-sebut sebagai wakil ketua umum yang beberapa waktu terakhir baru bergabung, entah tercatat dalam SK yang mana, dan turut duduk di jajaran pimpinan rapat. Ada para wakil ketua umum yang lebih pantas mendampingi ketum duduk di jajaran pimpinan rapat, namun semua tahu diri bahwa bukan disana tempat duduknya.

Setelah mengambil kursi, ketum meminta kertas dan pulpen untuk mencatat, ini tak biasanya sebab petugas notulen sudah siap untuk mencatat seluruh hasil rapat. Semua peserta rapat bersiap, dan ketum akan segera membuka rapat harian yang terasa sangat special ini, lalu tiba-tiba saja terdengar ucap salam dari seorang sesepuh partai, Amien Rais memasuki ruang rapat.

Dengan segera ketum dan jajarannya berdiri dan memberikan tempat duduk, beliau duduk disebelah kanan ketum, dan yang anehnya sosok pendamping baru ketum tetap tak mau bergeser dari jajaran pimpinan sidang, malah dengan santainya ia mengambil kursi yang ada dibelakangnya.

Tanpa basa basi rapat pun dimulai, ketum tak membuka sama sekali ruang dialog kendatipun ada beberapa peserta rapat yang interupsi. Cara memimpin rapat ketum kali ini sangat otoriter dan kaku, tidak menerima interupsi, tidak ada dialog dan keputusan diambil sendiri.

Hal ini terlihat nyata ketika membahas tentang penetapan lokasi kongres, ia menganulir permohonan Provinsi Sumut yang telah mengajukan proposal untuk penyelenggaraan kongres dengan kesediaan siap menanggung sebagian dana yang dibutuhkan dalam kongres, demikian Jogjakarta dianulir dengan alasan ada calon, sedangkan Hanafi Rais yang dituding sebagai caketum menyatakan tidak akan maju dalam bursa ketum.

Dengan lantang ketum menyampaikan calon lokasi kongres ditetapkan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua, DKI dan Sumatera Barat. lalu menetapkan tim survey lokasi kongres dengan dikomandoi Sekjen Edy Soeparno, lalu menyebut nama-nama lain dan menganulir nama-nama yang diajukan oleh peserta rapat.

Peserta rapat tentu tidak puas, namun hujan interupsi tak dipedulikan oleh sang pimpinan rapat, alih-alih menerima pandangan peserta rapat mengenai calon tempat kongres, malah dengan lantang menyebut Edy Soeparno sebagai ketua SC dan langsung mengetuk palu. Serentak peserta rapat mengacungkan tangan menolak ketetapan ketum.

Situasi rapat mulai panas karena interupsi yang keras dari peserta rapat yang meminta ketum menghentikan memimpin rapat dengan otoriter dan tergesa-gesa. Kedua belah kubu akhirnya bertikai dan suasana rapat mulai tak terkendali, aksi dorong dan teriakan semakin membuat rapat tak terkendali, namun anehnya pada saat terjadi gesekan fisik sesama peserta rapat ketum tetap saja melanjutkan rapat sambil berdiri, dengan berteriak yang nyaris ditelan gemuruh bentrokan fisik peserta rapat, ketum menetapkan dan menunjuk Eko Patrio sebagai ketua OC.

Peserta rapat yang masih konsentrasi menolak dan salah seorang peserta rapat yang tertangkap kamera video, yakni Dwiyanto  melambai-lambaikan tangan meminta ketum menghentikan rapat tidak digubris oleh ketum Zulhas dan tetap mengetok palu, ia mencoba menahan ketukan palu sidang, namun dianggap akan merebut palu sidang. Palu sidang yang masih berada ditangan pimpinan sidang. Lalu ia berbalik badan dengan tetap menenteng palu itu ditangannya.

Ketum lari meninggalkan arena rapat yang ricuh bersama sang palu, dalam rekaman video yang ramai beredar tangan ketum mengepit palu sidang tetapi tatakan palu dibiarkan saja tergeletak di atas meja. Ketum meninggalkan kegaduhan dalam rapat, meskipun beberapa peserta rapat meminta untuk melanjutkan rapat namun ketum tak bergeming, hingga diketahui bahwa sekjen melibatkan para preman dan pengawal bayaran di kantor DPP PAN.

Kejadian raibnya palu sidang bersama ketum dalam rapat harian yang digelar 20/12/19 menyisakan cerita horor namun menggelikan. Setelah sebagian peserta rapat sadar bahwa kepergian ketum itu ditandai raibnya palu sidang tak ayal lagi gelak tawa terdengar saling bersahutan, karena memang aneh kok bisa-bisanya palu sidang itu hilang? Ketum PAN ternyata tak mau berpisah dengan palu-nya (Dh/F

 

Leave a Reply

*