Forhati NTT, Menuju Sebuah Harapan “Berkemajuan”

Penulis : Mas’ud Atanggae

Faktual.co.id  Syukur alhamdulilah, Forum Alumni Kohati (FORHATI) NTT akan melaksanakan Muswil pertama. Ini sebagai sebuah etape menuju pada perubahan.  Sesuai dengan tema Muswil I Forhati NTT “Menyongsong Peradaban Baru Forhati NTT Menuju NTT yang Berkemajuan.”

Tema ini tidak saja sebagai sebuah harapan KOHATI/FORHATI tapi wajib sebagai kader Hijau Hitam mempunyai semangat yang sama menuju sebuah harapan. Untuk memulai tulisan yang sederhana ini sebuah prolog sebagai penyemangat Forhati menuju kemajuan.

Saya ingin memberikan keyword, “Sebuah Harapan.” Harapan itu adalah warna  yang menyinari kehidupan laksana pelangi di sore hari. Ditemani sinar sang mentari. Andai saja harapan itu tidak ada. Kehidupan serasa sempit. Tidak ada lagi warna simfoni kehidupan.

Letakan harapan setinggi mungkin. Agar kita terus melangkah penuh kesan. Diiringi keyakinan kuat menatap masa depan Harapan itu bermula dari hal hal kecil. Sebuah kata kecil yang penuh makna. Tersimpan dalam memori kehidupan setiap insan. Jangan matikan semangat harapan

Bangkitkan energi Cinta menuju semangat perubahan. Siapkan generasi penerus bangsa .

Kemajuan suatu bangsa merupakan hasil dari upaya yang dilakukan secara estafet dari generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, setiap generasi harus menyiapkan generasi penerusnya yang lebih unggul.

Dalam hal ini, Forhati menjadi salah satu aktor penentu nasib bangsa. Maaf kalau keliru, Sayangnya tanggung jawab perempuan  sebagai peletak dasar pendidikan generasi muda kadang tidak di jalankan secara optimal. Bisa juga karena sibuk mengurus diri sendiri, lupa akan tugasnya menyiapkan generasi penerus yang lebih baik.

“Apabila sikap ini berkelanjutan, akan fatal. Bangsa terutama kader kader muda islam akan mengalami pelemahan, ” tapi beta yakin FORHATI NTT sonde seperti itu, hehe….. ini sebagai pelecut untuk kita semua. Kata kunci kemajuan suatu generasi terletak pada kemampuannya membangun kesadaran setiap generasi menyiapkan generasi berikutnya.

Bisakah setiap kader HMI Khususnya FORHATI NTT memiliki sikap kolektif yang berorientasi ke depan, sikap untuk lebih banyak menanam dari pada memanen?” Menyiapkan generasi penerus merupakan pekerjaan besar yang menuntut kepedulian dan keterlibatan semua elemen bangsa, terutama kader HMI yang biasa di gaungkan “adinda Gus Kur” bahwa HMI adalah Kader Umat Kader Bangsa. Semoga ini menjadi gerakan bersama yang berkesinambungan.

Penulis berani mengatakan ini karena fenome yang terjadi khusus di HMI Cabang Kupang, perjuangan HMI semakin surut. Jauh dari perannya sebagai organisasi perjuagan. Arah gerak juang yang tak lagi satu napas dengan dinamika kehidupan saat ini. Mejadi faktor kurang fleksibelnya HMI untuk mengikuti arus moderisasi. Berbagai kritikan tajam dilontarkan alumni HMI pada kader HMI. Lesunya pergerakan yang terjadi akibat kader tak mampu move on dari zona romantisme kejayaan masa lalu. Selaras dengan hal itu Kohati pun juga mengalami kemerosotan yang cukup signifikan. Semoga dengan hadirnya FORHATI  NTT bisa memberikan wadah bagi kader HMI-Wati bersenergi untuk mengeksplore kompetensinya.

Kegusaran ini muncul akibat kurangnya eksistensi dan pergerakan yang dilakukan Kohati saat ini. Pergerakan yang progresif tak lagi mampu diciptakan sebagai jawaban atas berbagai problem yang terjadi saat ini. Sejatinya tidak hanya kohati saja yang mengalami degradasi namun semua oragnisasi kemahasiswaan-kepemudaan juga mengalaminya.

Jika kita lihat dari berbagai sudut pandang degradasi ini terjadi akibat tak adanya lagi progres yang  jelas dan aktualisasi yang kurang dari penerapan nilai-nilai yang ada diHMI. Budaya intelektual yang dulu kental pada jiwa kader HMI khusunya kohati mulai memudar.

Budaya hedonisme nampaknya mulai menjangkit kader kohati. Namun dibalik berbagai permasalahan degradasi yang terjadi masih ada secerca harapan untuk bisa bangkit dari keterpurukan saat ini. Penyadaran pada diri kader sangat urgen menyangkut akan masa depan diri dan HMI kedepannya.

FORHATI  sebagai salah satu bagian dari organisasi otonom yang menjadi tempat berkumpulnya kader kader pasca berHMI-Wati harus mulai moving dan inovatif. Problematika yang besar pada FORHATI untuk sebuah perjuangan dan menyalurkan potensinya yang tertanam selama berkipra di HMI. Meningkatkan intelektual, skill dan juga soft skill dalam menunjang kompetensi sebagai daya saing yang patut dipertimbangkan.

Mengaca dari sejarah pergerakan Perempuan, Para wanita memiliki ruang yang bebas untuk berjuang demi bangsa dan agamanya. Berbagai program yang inovatif dan fasionable yang sesuai dengan kekinian membuktikan bahwa FORHATI (Khususnya FORHATI NTT) mampu beradaptasi dengan zaman yang semakin keras ini. Forhati perlu mengupgradate dan mulai terbuka dan tidak lagi kaku.

Sesuai dengan semangat yang menggelora demi mewujudkan pribadi muslimah yang memiliki kualitas insan cita. Langkah kecil yang dapat dilakukan Forhati NTT adalah melakukan kajian rutin yang tidak hanya membahas seputar isu Perempuan atau urusan domestic namun juga mengenai ranah yang lain misalnya IT, Skill, pengetahuan umum, dan yang tak terlupakan adalah pendalaman tentang keislaman.

Olehnya itu Sutrisno (2015) mengemukakan bahwa dalam budaya organisasi suatu kekuatan sosial yang tidak tampak, yang dapat menggerakan orang-orang dalam suatu organisasi untuk melakukan aktivitas kerja, secara tidak sadar tiap-tiap orang di dalam suatu organisasi mempelajari budaya yang berlaku dalam organisasinya.

Forhati NTT harus mampu menjadi stick holder disetiap agenda dan masalah keperempuanan. Penalaran kritis dan Intelektual yang tak lagi dipandang sebelah mata. Itu yang perlu dibangun dijiwa kader-kader Kohati dan para senior FORHATI . Dharma (2018) merumuskan realitas banyak organisasi dalam perkembangannya mengalami problem yang muncul akibat munculnya kelompok-kelompok kecil yang tidak membuat organisasi semakin kuat, melainkan malah menjadi keruntuhan organisasi tersebut.

Perbedaan peran, harapan, kepentingan, dan presepsi para anggota kelompok menjadi sumber konflik internal yang mengancam kelangsungan organisasi tersebut. Berdasar pendapat diatas, kedepannya motivasi kerja para kader HMI – KOHATI terkhusus FORHATI NTT berangkat dari dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan tugas secara profesional  dan sistem matis sesuai kompotensi agar dapat mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan serta memperoleh kepuasan dalam berbagai bentuk pengakuan dan penghargaan.

Menumbuhkan rasa perjuangan yang sama senapas dengan KAHMI adalah langkah awal sebagai motivasi bahwa FORHATI memiliki peluang yang sama dengan KAHMI baik segi keagamaan, skill maupun intelektual. FORHATI dengan segala keistimewaannya harus mampu berkembang menjadi muslimah yang intelek membawa perubahan bagi lingkungannya kearah yang lebih baik.

Forhati dituntut untuk kritis dan peka terhadap berbagai permasalahan yang ada dilingkungannya, dan juga agamanya. Forhati harus mampu menjadi contoh bagi muslimah lainya, mulai dari fasion sampai dengan budaya islami yang mengakar kuat dalam diri setiap kader FORHATI yang sekian lama mengkar semasa sebagai kader KOHATI sebagai aktualisasi dari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan.

Dengan selalu menjadi stickholder dalam kehidupan dan sebagai agent of chang, FORHATI  NTT diharapkan mampu eksis dalam perjuangannya sebagai jalan pengabdian kepada ALLAH SWT. Ikhtiar yang tiada henti untuk selalu update keadaan demi kebaikan umat dan bangsa. Wanita sebagai tiang negara menyiapkan diri untuk menciptakan generasi penerus yang cemerlang di masa yang akan datang.

Oh ya, semasa kami berHMI bersama adinda Gus Kur teringat akan sebuah narasi dari Kohati untuk mengusik perasan adinda Gus Kur “Untuk mu Kanda Imam Ku Kelak”, untuk membalas surat itu maka episode pun terjadi yg konon katanya mensabotase surat cinta buat si keong putih yang sampai hari ini belum terungkap isi suratnya………..

Sepenggal kalimatnya ;

Untuk mu Kanda Imam Ku kelak, Kanda. Setiap pria hebat ada wanita di belakangnya, Yang selalu mendukung, mendorong, menyemangati, dan selalu sabar di samping mu, apapun yang terjadi.

Kanda, andai aku wanita yang Allah ciptakan untuk aktivis peradaban…Aku akan selalu menjadi terbaik untuk mu menemani dengan sabar Memaklumi tanggung jawab mu. Kanda, andai aku wanita yang Allah takdirkan. Untuk seorang pengabdi. Aku akan merelakan waktu ku bersama mu. Untuk membantu dan meringkankan beban mu. Menjadi penenang dalam setiap keluh kesah mu

Dari ku,

Dinda mu Kanda !!!

 

Selamat ber MUSWIL-1!! Negara “Lewotanah” ini berada ditanganmu sebagai pencetak generasi penerus.  Konstruksi masa depan dengan cara melakukan semua hal yang baik secara maksimal sebagai tanggungjawab menjadi kader umat kader bangsa dan pengabdian kepada Sang pencipta. Lakukan moving, desain ide yang inovatif, action dengan penuh percaya diri, sembari beriktiar demi memperoleh ridho dari Allah SWT. Perjuangan yang melelahkan tapi ingatlah suatu saat nanti buah manis yang akan dinda yunda peroleh.  Jayalah FORHATI NTT

KOHATI : Kau Selalu di HatiKu

Yakin Usaha Sampai….!!!

Selamat Bermuswil….

 

Tulisan ini dipersembahkan sebagai kado Muswil I Forhati NTT, 28 Juni di Kupang.

Pengurus KAHMI Kota Kupang

 

 

Leave a Reply

*