Yohan Serius Dorong UMKM Di Dapil

Anggota DPR, Ahmad Yohan bersama pihak BI saat mengunjungi sentra tenun ikat di Alor (Foto : S/f)

Faktual.co.id- Anggota DPR RI dari komisi keuangan dan perbankan, Ahamd Yohan, terus menggalakkan pembiyaaan UMKM bersama mitra komisi XI DPR RI. Hal ini tampak pada kegiatan reses dan beberapa kunjungan kerja di Dapil I NTT.

Menurut anggota DPR fraksi PAN dari Dapil I NTT ini, di tengah ekonomi yang berkontraksi sepanjang pandemi, hal yang paling mungkin dapat me-leverage pertumbuhan ekonomi adalah melalui penguatan UMKM. “Kita bisa melihat tahun 1998, ketika industri keuangan dan korporasi guling tikar, UMKM masih survive.

Lanjut Yohan, kontribusi UMKM terhadap PDB nasional juga jauh lebih besar dari sektor lain. Pada tahun 2019, kontribusi UMKM terhadap PDB adalah sebesar 60% dan berkontribusi 14% terhadap total ekspor nasional”

Menurutnya, daerah harus menjadi penyangga pertumbuhan ekonomi nasional. Diversifikasi pertumbuhan ekonomipun perlu diperkuat ke wilayah-wilayah. Agar tidak cuma bertumpuh di daerah Jawa dan Sumatera.

Juga dalam rangka mengurangi ketimpangan antar wilayah. Sejauh ini, terjadi missing link antara pembangunan dan potensi daerah. NTT misalnya, mau jadikan provinsi sapi dan garam, tapi insfrastruktur ekonominya tidak disiapkan.

Sejatinya, menurut Yohan, basis dari grand design ekonomi NTT itu dimulai dari ekonomi yang sifatnya base community, apa itu? Yakni UMKM yang tumbuh dan linkage dengan potensi daerah. Basisnya adalah masyarakat lokal. Menurutnya, kesulitan dari UMKN di NTT adalah terkait akses permodalan/pembiayaan, kapasitas SDM dan akses pasar.

Katanya, NTT itu kaya SDA. Lautnya masih alami, spot-spot wisatanya berlimpah. Bisa menjadi tourist buffer zone dari tumpahan destinasi Bali dan NTB. Yang perlu kita perkuatkan adalah ekonomi masyarakatnya. Jadi kalau menjadi daerah wisata, ekonomi masyarakatnya menjadi semakin ter-leverage.

Olehnya itu, melalui jaringan kemitraan di komisi XI, baik melalui Bank Indonesia dan bank-bank Himbara, ia mendorong program-program pembiayaan ke Dapil. Baik melalui CSR, PKBL dan KUR. Selain akses pembiayaan UMKM, ia juga berharap, UMKM di Dapil, dapat diedukasi oleh perbankan, sebagai kelompok usaha binaan, mulai dari proses produksi hingga akses ke pasar.

Anggota DPR, Ahmad Yohan bersama BI, saat kunjungi kelompok usaha ikan asin di Kecamatan Mananga-Flores Timur (foto : Q/f)

Melalui program kemitraan, dalam beberapa masa reses, Yohan telah mendorong tumbuhnya kelompok usaha di Flores Timur, Lembata dan Alor serta zona Dapil I NTT lainnya. Di Flores Timur misalnya, berbasis kelompok usaha di masyarakat pesisir, perbankan mitra komisi XI telah mengucurkan bantuan bagi kelompok usaha ikan asin di Kecamatan Mananga.

Demikian juga di Alor, melalui CSR BI, Yohan mendorong mitranya tersebut memberikan bantuan pada kelompok tenun ikat sebesar Rp.250 juta. Di Lembata pun demikian. Harapannya, melalui akses pembiayaan, edukasi hingga akses pasar, UMKM di Dapil dapat tumbuh, sekaligus sebagai basis penguatan ekonomi daerah.

Pungkasnya, kemiskinan tidak akan turun dengan semua orang menjadi PNS dan hanya menerima Bansos. Langkah yang paling mungkin adalah, perkuatkan ekonomi berbasis komunitas lokal. Kalau diversifikasi ekonomi ini dapat tumbuh dengan basis komunitas masyarakat lokal dengan masih-masing konten lokalnya, ada akses pembiayaan perbankan, pembinaan dan akses ke pasar, saya yakin, 10 atau 20 tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi di NTT akan menggeliat (Hk-H/f)

 

 

 

 

Leave a Reply

*