Resesikah Indonesia?

Resesikah Indonesia?

Faktual.co.id- Setelah BPS rilis laporan kondisi ekonomi terbaru 2020, publik riuh bukan main. Perdebatan soal Indonesia sudah resesi atau belum pun meruak. Buzzer angkat bicara. Tambah dongok satu kolam. Memang apes masa depan kecerdasan bangsa. Public discourse dikendalikan Denny Siregar cs.

Lalu saya dan kawan-kawan di sebuah komunitas kecil yang tengah ikut 100 term kuliah ekonomi, terlibat diskusi panjang dan heran alang kepalang. Dosen kami lalu bilang, “giliran ngeles bilang belum resesi pakai data pertumbuhan ekonomi Year on Year (YoY) dan giliran bandingin dengan negara lain pakai data Quarter over Quarter (QoQ). Ini kebiasaan siapa? Wallahu’alam

Ini tabiat ngeles yang membahayakan kondisi ekonomi suatu negara. Lalu, media ramai-ramai menyoal resesi tekninal. Bahkan sekelas Kompas dalam rilis (7/8/2020), ikut mendua dalam menggunakan data. Entah ikut ngeles atau apa? Wallahu’alam

Menarik, bila kita tengok, pendapat Anthony Budiawan— Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), bila, menggunakan pertumbuhan Amerika secara QoQ, maka otomatis AS lebih parah, pertumbuhan ekonomi AS 32,9% secara QoQ. itu berasal dari perhitungan disetahunkan: QoQ SAAR. Yaitu, PDB Q2-2020 dibandingkan dengan PDB Q1-2020, kemudian disetahunkan (IV kuartal).

Pertumbuhan Amerika Q2-2020 terhadap Q1 2020 (QoQ) minus 9,49% (0,949). Disetahunkan dengan formula (1+pertumbuhan) dipangkat 4 (karena pertumbuhan compounding) dikurangi 1. Hasilnya (0,949) ^ 4} – 1 = 32,9%. Dengan metode yang sama, ekonomi Indonesia pada Q2-2020 secara tahunan minus 23,04 persen: {(1-0,532) ^ 4} – 1.

Kalau saya tidak salah ulasan Anthony Budiawan ini, dihitung dengan menggunakan rumus Compaund Annual Growth Rate (CAGR). Rumus ini dalam bisnis, biasa digunakan sebagai dasar yang digunakan untuk melihat rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan dalam suatu periode tertentu.

Menurut Budiawan, selama ini Indonesia tidak pernah mengumumkan data pertumbuhan ekonomi triwulanan (QoQ) yang disesuaikan faktor musim atau Seasonally Adjusted Annual Rate (SAAR). Perbandingan Quarter-on-Quarter sebenarnya terpengaruh faktor musiman.

Misalnya ekonomi pada bulan lebaran akan lebih tinggi dari bulan lainnya. Oleh karena itu, perhitungan Quarter-on-Quarter harus dinetralisir faktor musim. Ini dinamakan Seasonally Adjusted. Pertumbuhan triwulan ini dapat disetarakan menjadi pertumbuhan setahun. Dinamakan Seasonally Adjusted Annual Rate. Atau SAAR.

Berdasarkan data dari Federal Reserve St Louis, AS, pertumbuhan Indonesia Q1-2020 terhadap Q4-2019 (QoQ, Seasonally Adjusted) minus 0,7%. Oleh karena itu, ekonomi Indonesia dipastikan masuk resesi pada Q2-2020 karena pertumbuhan pada Q2-2020 terhadap Q1-2020 (QoQ Seasonally Adjusted) juga minus.

Berdasarkan metode di atas—yang digunakan Anthony Budiawan—dengan pendekatan Seasonally Adjusted Annual Rate dengan rumus Compaund Annual Growth Rate (CAGR), maka mari kita lihat definsi resesi. Resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Pilih mana, ngeles atau bobjektif?

Apalah itu, metode adalah cara untuk mendekati kondisi sebenarnya. Apapun metode itu. Alhasil, ini bukan soal citra kinerja pemerintah. Tapi soal nasib 167 juta penduduk Indonesia. Mendekati kondisi objektif ini penting, agar pemerintah bisa mengambil langkah mitigasi yang presisi. Bukan asal. Jokowi bukan lagi Capres. Engga penting bangat pencitraan.

Kalau kita lihat data BPS terbaru, dari 6 sektor utama PDB berdasarkan lapangan usaha, hanya pertanian yang tumbuh +. Sektor lain terkontraksi (negatif). Industri olahan yang porsinya paling besar dalam struktur PDB sebesar 18,9%, pada Q2 2020, anjlok hingga -6,19%. Sementara PDB menurut pengeluaran, dari 6 kelompok pengeluaran, semuanya terkontraksi (negatif). Porsi konsumsi RT yang paling besar berkontribusi pada PDB sebesar 58% pada 2019, pada Q2 2020, terkontraksi hingga -5,51.

Ini kondisi riil Indonesia. TIDAK PENTING PENCITRAAN. Apalagi ngeles, membajak perspektif publik melalui propaganda buzzer. Pemerintah butuh data yang objektif agar langkah mitigasinya presisi. Sektor dan subsektor apa saja yang masih visible untuk tumbuh selama pandemi. Baik dari sisi kelompok usaha dan kelompok pengeluaran PDB. Ujungnya adalah penyerapan tenaga kerja dan daya beli masyarakat. Kalau masih menjaga citra dengan keukeuh diseputaran spekulasi resesi teknikal, yakinlah, langkah-langkah mitigasi yang diambil tidak tepat sasaran. Wallahu’alam

Penulis : Munir (freelance writer)

Leave a Reply

*