ICOR Tinggi; Ekonomi NTT Tidak Efisien

ICOR Tinggi; Ekonomi NTT Tidak Efisien

Faktual.co.id- Dalam diskusi Webinar yang digelar Bank Indonesia (BI) NTT, Profesor Daniel Kameo dari Unkris Kupang sekaligus sebagai staf ahli gubernur NTT, mengtakan, dalam RPJMD 2018-2021, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi NTT 6,7-7,3%. Menurutnya, dengan target pertumbuhan yang besar, pemerintah akan mendorong investasi. Terutama investasi di sektor Pariwisata. Selain bertumpu pada sektor andalan NTT selama ini.

Lanjut Daniel, sejauh ini, dalam struktur ekonomi NTT, sektor yang berkontribusi terhadap PDRB NTT adalah Pertanian, Kehutanan, Perikanan serta pariwisata. Berdasarkan hasil observasi Faktual.co.id pada data BPS, ada tiga sektor yang paling besar berkontribusi terhadap PDRB NTT berdasarkan 12 lapangan usaha utama.

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan misalnya, pada triwulan II 2020, berkontribusi terhadap PDRB NTT sebesar 30,1% dari triwulan I 27,31%. Sementara sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib berkontribusi 14,44% dari 13,45 pada triwulan I 2020. Sementara sektor perdagangan besar dan eceran mengalami perlambatan 11,04% dari triwulan I 12,18%. Sektor akomodasi melambat 0,4% dari 0,68% pada triwulan I.

Secara data history, berdasarkan laju pertumbuhan PDRB menurut lapangan usaha, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami kontraksi 0,34% pada triwulan II. Perdagangan besar kontraksi -7,75%. Penyediaan akomodasi kontraksi -42,36%.  Hanya sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib yang tumbuh positif 6,75%.

Dalam acara yang sama Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan  Nusa Tenggara Timur (NTT) I Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan, untuk mengerek pertumbuhan ekonomi provinsi NTT 7 %, membutuhkan kehadiran investasi dengan nilai mencapai Rp37,18 triliun. Potensi pariwisata, menjadi pintu masuk bagi investasi.

Namun, pada sesi selanjutnya, Prof Daniel mengatakan, salah satu hambatan bagi akselerasi ekonomi NTT adalah tingginya ICOR (Incremental Capital Output Ratio) atau rasio output modal tambahan yang masih tinggi. ICOR NTT di kisaran 10. Artinya untuk menghasilkan satu unit output PDRB di NTT, membutuhkan 10 modal tambahan investasi. Hal ini menurutnya membuat ekonomi NTT inefisien. ICOR NTT lebih tinggi dari ICOR nasional di kisaran 6. Ini yang menyebabkan industri di NTT sulit berkembang.

Selain persoalan rantai birokrasi perizinan usaha, faktor konektivitas juga soal. Menimbang NTT sebagai provinsi kepulauan, sehingga biaya logistik juga mahal. Persoalan korupsi juga hal pokok yang memicu tingginya ICOR NTT.

Anggota DPR Komisi XI dari NTT, Ahmad Yohan, dalam kesempatan yang sama menegaskan, NTT memiliki kelimpahan sumber daya. Baik manusianya dan kekayaan alamnya. Bila ini dimanfaatkan dengan baik, akan mampu melepaskan NTT dari tiga sterotyp. Yakni sebagai provinsi miskin, provinsi dengan kualitas kesehatan buruk dan provinsi dengan kualitas pendidikan rendah di Indonesia.

Terkait realisasi dana PEN, menurut Yohan, sejauh ini, DPR terus melakukan pengawasan terhadap pemanfaatannya. Terutama mendorong percepatan realisasi, sehingga dapat mendorong faktor-faktor pengungkit pertumbuhan. Terutama dari sisi dunia usaha atau UMKM dan konsumsi masyarakat (Ms)

Leave a Reply

*