Inflasi Terkerek 0,28%, Daya Beli Membaik?

Inflasi Terkerek 0,28%, Daya Beli Membaik?

Faktual.co.id- Dalam rilis BPS terbaru hari ini (1/Des/2020), inflasi meningkat 0,28 % MoM. inflasi umum disumbang oleh komoditas bergejolak. Dengan sumbangan inflasi bergejolak (volatile food) yang tinggi pada inflasi umum, maka inflasi yang meningkat dari Oktober ke November, belum merefleksikan perbaikan daya beli. Artinya sumbangan inflasi lebih disebabkan masalah oleh rantai pasokan.

Rantai pasokan ini bisa disebabkan oleh  Adanya musim penghujan, ombak, dan curah hujan tinggi yang menyebabkan distribusi tersumbat. Ini yang menyebabkan kenaikan pada harga mamin seperti daging ayam, telur ayam ras, cabai merah serta tembakau, pakaian dan alas kaki, perlengkapan peralatan rumah tangga, transportasi, rekreasi, pendidikan, dan penyediaan makanan resto yang juga mengalami inflasi. Libur panjang pada Oktober 2020 juga belum mampu mengerek permintaan seiring Covid-19 yang belum meredah. Dari struktur inflasi ini kemudian memperlihatkan bahwa inflasi yang tinggi belum merefleksikan perbaikan daya beli.

Jika kita lihat secara Year on Year, inflasi berada pada 1,59%. Sementara inflasi tahun kalender November 2020 dibandingkan Desember 2019 inflasi 1,23%. Dilihat dari data Inflasi pada Oktober ke November 2020, maka inflasi telah terjadi sepanjang dua bulan terakhir. Demikian yang disampaikan Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam rilis yang disampaikan pada Selasa, 1 Desember 2020.

Sebelumnya, BPS mengingatkan, potensi kenaikan harga pangan yang menyebabkan laju inflasi meningkat pada November-desember 2020. Hambatan ini terjadi karena komoditas produk pangan tertentu sudah mengalami hambatan karena kondisi cuaca yang memburuhk hingga awal tahun 2021.

Kondisi ini rentan pada tingginya inflasi karena jelang akhir tahun, natal dan tahun baru, permintaan (demand) akan tinggi. Dalam rangka mitigasi risiko inflasi akibat komponen bergejolak selama pandemi Covid-19, maka kementerian sektoral, perlu secara hati-hati menjaga rantai pasokan pangan yang diperkirakan permintaannya akan tinggi pada jelang libur akhir tahun, perayaan natal dan tahun baru.

Jika kita berkaca pada Inflasi sepanjang Oktober 2020, data BPS menunjukkan, inflasi pada bulan Oktober 2020 sebesar 0,07% MoM. Sehingga dengan demikian, inflasi tahun kalender atau dari Januari 2020 hingga Oktober 2020 tercatat sebesar 0,95% Ytd, dan inflasi secara tahunan sebesar 1,44% yoy.

Dengan melihat data historis inflasi, maka terjadinya inflasi pada bulan Oktober 2020, bukan pertanda daya beli masyarakat sudah meningkat. Hal itu bisa dilihat pada data laju inflasi inti (core inflation) pada bulan Oktober 2020 yang hanya mencapai 0,04% MoM. Jauh di bawah inflasi barang bergejolak (volatile food) yang sebesar 0,4% MoM (Data inflasi dari siaran pers Bank Indonesia 02-11-2020).

Inflasi inti (core inflation) yang berada di bawah inflasi barang bergejolak (volatile food), ini menandakan bahwa inflasi terjadi bukan karena daya beli meningkat, tapi terjadi gangguan pada rantai pasokan.

Ini terjadi karena otoritas perdagangan dalam negeri, dalam hal ini, Kementerian Perdagangan lalai dalam menjaga rantai pasokan, sehingga risiko inflasi barang bergejolak tidak tertangani.

Seiring perkiraan BPS terkait inflasi November-Desember, maka gangguan cuaca ekstrem jelang akhir tahun 2020; sebagaimana perkiraan BMKG, maka rantai pasokan harus tetap dijaga, agar inflasi, khususnya dari sisi inflasi barang bergejolak (volatile food) tidak berfluktuasi. Atau terjadinya negative supply shocks akibat gangguan cuaca esktrem serta terganggunya distribusi (SM)

Leave a Reply

*