Pasha Ke Giring “Mengelola Jakarta Tak Semudah Kelola Akun Sosmed.”

Sigit Purnomo Syamsuddin Said alias Pasha saat pemulihan kota Palu pasca tsunami (foto : istimewa)

Faktual.co.id Volume hujan yang cukup tinggi seminggu terakhir di pertengahan Februari 2021, menyebabkan beberapa daerah di Jakarta diterpa banjir. badan meteorologi klimatologi dan geofisika (BMKG) sendiri telah mewanti-wanti, bahwa potensi curah hujan dengan intensitas tinggi terjadi pada 20 hingga 25 Februari 2021.

Perkiraan BMKG, hujan di Jakarta dengan intensitas lebat hingga sangat lebat dengan tingkat curah 100-150 milimeter pada Februari 2021. Dalam rilisnya, BMKG ingatkan bahwa ini saat-saat kritis.

Belakangan, berdasarkan data BMKG sendiri, curah hujan di Jakarta telah mencapai 226 milimeter per hari. Disusul tingkat curah hujan di Sunter hulu 197 mm dan lebak bulus 154 mm dan daerah sekitar bandara Halim 176 mm.

Tak luput, banjir kiriman dari daerah di luar Jakarta seperti Bogor dan Depok, berdampak pada daerah sekitar. Menurut BMKG, bila curah hujan dan intensitasnya diatas 100 mm, maka pasti akan terjadi banjir. Dari rilis Pemprov DKI, beberapa daerah di Jakarta, khususnya wilayah Selatan dan Barat terendam banjir akibat curah hujan ekstrem.

Banjir di Jakarta sendiri menjadi masalah cyclical dari periode ke periode pemerintahan DKI. Tak luput di era kepemimpinan gubernur Anies Baswedan. Pasalnya, Jakarta dengan letak topografis di bawah permukaan laut, rentan menjadi korban banjir kiriman dari daerah di sekitarnya.

Namun, lebih dari masalah tersebut, persoalan banjir ini acap kali menjadi konsumsi politik, dan menjadi alat gebuk politik oleh para politikus ketimbang dicari jalan keluarnya. Akibatnya, riuh politiknya lebih kental ketimbang mencari jalan keluar.

Hal tersebut yang disesalkan oleh Sigit Purnomo Syamsuddin Said alias Pasha Ungu menanggapi statemen PLT Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia ( PSI), Giring Ganesha Djumaryo alias Giring. Dalam cuitannya di salah satu platform Somed, giring mempersoalkan kapabilitas Gubernur DKI. Hal itu pun langsung ditanggapi Ketua DPP PAN, Pasha Ungu.

Menurut Pasha, mengelola Jakarta tak semudah mengelola akun Sosmed. Pemda DKI bekerja by system dan by regulation; sesuai dengan program dan pos anggaran masing-masing. Oleh sebab itu, ia sarankan, agar dicek lagi blueprint perencanaan pembangunan DKI. Pasha yakin, semuanya sudah diatur secara rinci dari waktu ke waktu, termasuk jawaban terhadap masalah banjir.

Menanggapi cuitan Giring bahwa gubernur Anies tak punya kapabilitas, ditanggapi Pasha bahwa cuitan Giring “sangat bias.” Pasalnya, masalah Jakarta tak hanya banjir. Masalah pandemi dan dampaknya terhadap orang miskin baru di Jakarta dan persoalan pemulihan ekonomi juga tak kalah rumit. Tak bisa ditinggal begitu saja kata Pasha. Semua harus diselesaikan secara paralel dalam waktu yang sama.

Pasha yang kini menjadi salah satu ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), secara tegas menyatakan tidak sepakat, bila satu masalah seperti banjir, yang melahirkan kesimpulan serta merta tentang kapabilitas seseorang secara menyeluruh.

Sebagai pemimpin partai di republik ini kata Pasha, Giring mestinya lebih menenangkan dalam bernarasi di Sosmed. Apalagi sampai meresahkan. Ujar Pasha di akun IG-nya “bukankah bro Giring pun tidak dalam kapasitas menilai soal kapabilitas.” Lanjutnya, “Apakah bro Giring pernah teruji mengelola sebuah kota/daerah atau bahkan kelurahan?”

“Pak Anies masih bekerja. Masih ada waktu setahun lagi untuk membenahi Jakarta. Di pundaknya ada kepercayaan publik. Suka atau tidak, ia diamanahkan memimpin Jakarta hingga 2022. Doakan beliau dengan narasi yang konstruktif dan tidak destruktif,”demikian pungkas Pasha yang saat ini menjabat sebagai ketua DPW Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) Sulteng. (Mh/f)

Leave a Reply

*