Giant PHK 3000 Karyawan

Giant PHK 3000 Karyawan

Pagi yang masih kabur, burung parkit sudah berkicau dengan cerewetnya dan cengking di atas pohon jambu. Kali ini hawa Bogor lumayan dingin. Langit terlihat sedikit kotor. Sekumpulan awan tampak berdedai menodai langit yang mestinya resik di pagi hari.

Persis di pos  Satpam dekat masjid Al Muhajirin-Cilebut, dua orang penjaga melunasi kantuknya; setelah ronda semalaman. Saking dinginnya, kedua orang ini membungkuk; hingga lututnya mendoma dagunnya.

Gaji Pak Rojali serta pak Sarman rekannya selaku Satpam RT, tak lebih dari Rp.1 juta. Itu dari urungan warga. Demikianpun pak Sarman. Setelah bininya ke alam baka, pak Sarman emoh kawin lagi.

Pak Sarman pernah bilang ke saya, ia enggan kawin lagi meskipun kepingin dan kadang suka kebelet. Pasalnya, honor selaku Satpam, tak cukup biayai bininya. Apalagi bila dapat daun muda. Ongkos kosmetik saja bisa habis separuh gaji pak Sarman. Pasal itu yang membikin pak Sarman tetap ngetem dengan posisi duda absolute.

Pak Satpam Rojali usianya nyaris menyentuh 70. Anaknya kerja di toko swalayan; Giant. Ada dua Giant di Bogor yang saya tahu. Satunya di Jalan Yasmin satunya lagi di Dramaga. Sekarang kedua-duanya sepi. Tak seramai dulu.

Kala ada bantuan usaha produktif usaha mikro jatah pak Primus Yustisio, anak pak Rojali saya masukan sebagai calon penerima manfaat. Lumayan, dapat bantuan Rp.2,4 juta untuk usaha mikro. Selain gawe di Giant, anaknya punya usaha rumahan dan dijual di market place.

Kalau bantuan BPUM putri pak Rojali cair, hitung-hitung bisa membantunya setelah kena PHK dari Giant. Minimal bisa kerja freelance. Sekarang ini seperti Giant hanya menghabiskan stok barang. Setelah itu; mayoritas gerai-gerai Giant se Indonesia bakal tutup satu per satu hingga Juli 2021.

Di beberapa media yang saya baca, pendapatan Giant benar-benar drop. Hingga akhir 2020, untungnya Rp.8,9 triliun. Padahal pada tahun 2020, masih meraup pendapatan bersih Rp.12 triliun.  

Pada tahun 2020 pula, Giant tekor hingga Rp.1,2 triliun. Angka kerugian yang fantastis, bila dibandingkan dengan kerugiannya di 2019 sebesar Rp.33,18 triliun.

Sudah tekor, perusahaan berkode emiten HERO ini juga digencet beban usaha hingga Rp.3,55 triliun. Lebih tinggi dari beban usaha 2019 sebesar Rp.3,48 triliun.

Liabilitas Giant juga meningkat dari Rp 2,39 triliun di akhir 2019, menjadi Rp 2,98 triliun di akhir 2020. Asetnya juga melorot menjadi Rp 4,83 triliun. Padahal, di akhir 2019 total aset emiten tersebut sebanyak Rp 6 triliun.

Dari Pihak Giant sendiri mengatakan, penutupan Giant ini dikarenakan akan beralih ke merek dagang lain. Ini sebagai wujud respon atas dinamika pelanggan dan pola konsumen yang sangat dinamis dan terus berubah. Giant akan beralih ke merek dagang lain seperti IKEA, Guardian dan Hero Supermarket.

Dari tren pergerakan ekonomi per sektor yang kita lihat, tampak bahwa sektor consumer goods memiliki ekspektasi untuk bisa tumbuh lebih baik di di kuartal 2 2021. Seiring membaiknya daya beli.

Bahkan sejak pandemi Covid-19 merebak, sektor consumer goods ini memperlihatkan tren pertumbuhan yang positif. Meski tak sebagus kondisi normal. Bila daya beli masyarakat kembali pulih, sektor ini (consumer goods) akan menggeliat.  

Dari data BPS, tampak bahwa lemahnya daya beli itu dilihat pertumbuhan konsumsi Rumah Tangga yang masih kontraksi (2,23%). Secara strukturnya, bisa dilihat lebih dalam, bahwa  Indeks Penjualan Eceran (IPR) kuartal I-2021 hanya turun tipis dari minus 16,8% yoy menjadi minus 17,2% yoy. Masih di zona kontraksi.

Ini merefleksikan daya beli dan demand masyarakat yang masih rendah. BPS juga menyebutkan, dari 90 kota yang dipantau, deflasi masih terjadi di 56 kota. Lebih tinggi 34 kota yang mengalami inflasi. Kemampuan beli masyarakat masih tiarap.

Dari sisi pemerintah, tentu kita berharap, agar paket kebijakan untuk merangsang konsumsi RT terus dipompa. Jangan sampai kendor barang sedikitpun. Namun disaat yang sama, sektor padat karya juga digenjot secara extra effort. Karena ini trickle down effect-lebih kencang menciptakan lapangan kerja.

Kalau kita lahat data BPS di sektor tenaga kerja, rata-rata mereka yang kena PHK, terserap ke sektor pertanian. Namun kebanyakan menjadi pekerja tidak di bayar—seperti membantu pertanian keluarga dan serupa. Ini tidak berdampak ke pendapatan riil keluarga

Yang terpenting adalah, bila sektor padat karya ini menjadi prioritas. Menjadi one and only sepanjang pandemi Covid-19, maka akan mengakomodasi mereka yang hilang pekerjaan dan kembali berpendapatan.

Saya berharap; orang-orang seperti anak pak Rojali, bisa dapat BPUM. Kelak bila ia benar-benar di PHK dari Giant dari 3000 karyawan itu, minimal dia punya pekerjaan dan pendapatan agar tak bergantung pada pak Rojali yang sudah tua bangka (Ms/f)

Leave a Reply

*