Sesumbar Pertumbuhan Ekonomi 7% Q2 2021

Sesumbar Pertumbuhan Ekonomi 7% Q2 2021

Semua yang baik-baik kita aminkan. Amin ekonomi kuartal 2 (Q2) 2021 tumbuh 7% menurut BI. Taksasi Menkeu malah 8%. Itu juga amin. Kaidah fiqih-nya demikian, yang baik-baik diaminkan.

Pertanyaan paling seriusnya adalah, apakah pertumbuhan ekonomi 7% – 8% itu berbasiskan padat modal atau padat karya? Pasal ini penting, karena sepanjang 2020, kita berkelimpahan likuiditas. Kelimpahan likuiditas itu tumpahnya kemana?

Namun kelimpahan likuiditas tersebut hanya menumpuk di perbankan. Menambah rasio kecukupan modal perbankan. Pertumbuhan kredit melambat. Terbaru; BI mencatat pertumbuhan kredit terkontraksi 4 persen secara year on year pada Maret 2021. Lebih dalam dari kontraksi 2,3 persen (yoy) pada Februari 2021.

Meski BI terus menurunkan suku bunga kebijakan, namun fungsi intermediasi perbankan tidak optimal meng-expect pertumbuhan kredit. Ada bermacam-macam soal disini. Termasuk perbankan yang lebih cenderung mengendalikan risiko di tengah situasi uncertainty ketimbang mengoptimalkan fungsi intermediasi.

Alhasil, kelimpahan likuiditas tersebut hanya mampu mengerek pertumbuhan ekonomi hanya -0,74%. Namun puji Tuhan, angka ini menunjukkan tren perbaikan bila dilihat secara kuartalan.

Jika kita toleh ke belakang, dalam keadaan normal saja ekonomi RI mangkrak di 5%. Itupun sudah susah payah. Bagaimana dengan kondisi seperti saat ini?

Saya sendiri tetap berkaca pada pertumbuhan ekonomi Q1 2021 sebesar – 0,75%.  Dari -2% pada Q4 2020. Untuk di posisi -0,74% ini butuh dana PEN hampir Rp.600 triliun. Sekitar 24% dari total APBN.

Dari sisi moneter, BI juga memainkan peran dahsyat dengan micro pumping melalui suku bunga kebijakan. Pula dengan burden sharing; BI ikut dalam privat placement membeli SBN pemerintah. Menjaga kestabilan nilai tukar dan inflasi.

Dengan extra effort itu, ekonomi kita mentok di -0,74% pada Q1 2021. Tumpuannya masih di konsumsi (konsumsi Rumah Tangga dan pemerintah). Termasuk net export yang membaik karena impor yang tertekan.

Dari sisi PDB menurut lapangan usaha/nilai tambah, sektor manufaktur yang selama ini paling besar berkontribusi pada PDB sekitar 19% masih tumbuh negatif.

Saat ini pertumbuhan manufaktur kita masih kontraksi. Tumbuh -1,38%. Ini salah satu indikasi, bahwa sektor padat karya saja masih tiarap. Padahal, sektor ini menjadi acuan produktif tidaknya perekonomian suatu negara.

Forecasting bahwa ekonomi tumbuh smp 7% atau 8% masih berdasarkan PDB Pengeluaran. Dimana menurut forecasting Menkeu, pada Q2 nanti konsumsi RT keluar dari zona kontraksi menjadi 6-6,8% (saat ini -2,23). PMTB 9-11%, government spending mencapai hingga 9%

Asumsi dari sisi konsumsi RT ini menurut saya berdasarkan perkiraan bahwa kumulatif konsumsi RT sepanjang ramadan dan lebaran akan terasa pd Q2, bersamaan konsumsi RT di tahun ajaran baru (spending masyarakat utk pendidikan). Demikian juga realisasi BLT.

Tapi saya sendiri tidak begitu yakin, karena saat ini daya beli/purchasing power masih berada di zona kontraksi. Apalagi bila pemerintah benar-benar merealisasikan kenaikan PPN dalam waktu dekat.

Ini akan berdampak pada daya beli, karena yg tanggung adalah  konsumen akhir. Bisa terjadi inflasi dari sisi cost push inflation. Tiap % inflasi akan mengerek angka kemiskinan, terutama pada kelompok yang rentan miskin/near poor.

Menurut saya, sebaiknya kita mengacu pada pertumbuhan ekonomi yang realistis. Arah pertumbuhan ekonomi disasarkan pada sektor produktif. Menahan nafsu belanja pada sektor non padat karya. Rencana pindah ibukota ditunda saja. Bukan prioritas.

Realisasi utang dan pemanfaatannya benar-benar ke sektor padat karya. Angka pertumbuhan di atas kertas menjadi percuma, manakala belum benar-benar menggenjot sektor padat karya.

Penulis : Munir

Leave a Reply

*