Abdee Slank Jadi Komisaris, Saham Telkom Ditutup Biasa-Biasa Saja

Abdee Slank, Komisaris PT Telkom (Persero) Tbk (foto : Istimewa)

Netizen satu Indonesia terkaing-kaing dibikin Erick Thohir, gegara crew band— Abdee Slank jadi komisaris PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Mayoritas Netizen bersuara, penempatan Abdee Slank selaku komisaris, lebih bernuansa politik ketimbang professional corporate.

Berseliweran di media, Netizen mempertanyakan, apa consideration yang membikin Abdee Slank didapuk sebagai komisaris di emiten berkode TLKM itu? Dalam konferensi pers pada 28/5, stafsus menteri BUMN; Arya Sinulingga bilang, Abdee Slank didapuk—demi memperkuat konten Telkom.

Pertanyaan berlanjut, kalau alasannya memperkuat konten Telkom, maka sebenarnya Abdee Slank bukan jadi komisaris, tapi direksi Telkom. Kerja komisaris hanya mengawasi kinerja korporasi sebagai representasi pemerintah. Tidak bisa mengeksekusi apa-apa, apalagi bikin konten.  

Lagi pula, bila direken-reken, atau runut-runut, jam terbang Abdee Slank di bidang corporate atau di industri pertelekomunikasian tidak jelas. Dia hanya punya secuil pengalaman sebagai Co-Founder Importmusik.com. Apakah cuma bermodalkan satu buah website, lalu ujuk-ujuk bisa jadi komisaris BUMN kakap?

Akhirnya kita tahu sama tahu saja, bahwa di semua BUMN itu ada space politiknya. Kode genital politik BUMN lebih kental ketimbang professional corporate. Perkara apa personal benefit untuk corporate itu tidak penting. Yang paling pokok adalah, semua yang pernah manggung di Pilpres 2019, punya kesempatan jadi komisaris BUMN.

***

Pasca Abdee Slank diumumkan selaku komisaris pada 28/5/2021, di pasar, saham Telkom ditutup biasa-biasa saja. Pada periode transaksi 28/5, emiten berkode TLKM bergerak flat. Dibuka 3380 hingga perdagangan sesi dua ditutup harga saham TLKM masih begitu-begitu saja.

Artinya, komposisi baru jajaran komisaris PT Telkom—yang mana Abdee Slank ada di dalamnya, tak punya efek psikologis bagi investor. Hal ini karena anasir politiknya lebih kental ketimbang efek greget secara corporate.  

PT Telkom sendiri termasuk sektor bisnis yang yang mencatatkan kinerja cukup baik selama pandemi Covid-19. Sepanjang Covid-19, sektor telekomunikasi memberikan kontribusi 4,25% terhadap PDB.

Dari sisi keuangan dan investasi, Telkom memberikan deviden Rp.16,64 triliun untuk tahun buku 2020. Ini merupakan dividend payout ratio 80% dari perolehan laba bersih tahun buku 2020. Sisanya 20% atau Rp 4,16 triliun ditempatkan Telkom sebagai laba bersih yang ditahan.

Kendati terkena dampak pandemi Covid-19, emiten pelat merah ini dapat mendulang laba bersih sebesar Rp.20,8 triliun. Tumbuh double digit menjadi 11,5% dari tahun 2019. Sementara total pendapatan Telkom pada tahun buku 2020 adalah Rp.136,46 triliun. Tumbuh 0,7% dari tahun 2019.

Penempatan Abdee Slank selaku komisaris BUMN kakap seperti PT Telkom menyisakan sejumlah soal di BUMN. Belakangan, BUMN acapkali menjadi lembaga akomodasi politik ketimbang sebagai government enterprises secara profesional (Ms/f)

Leave a Reply

*