Kehawatiran Pemerintah dan BI

Kehawatiran Pemerintah dan BI

Faktual.co.id- WTI alias West Texas Intermediate adalah kelas khusus minyak mentah dan salah satu dari tiga tolok ukur utama dalam harga minyak dunia, bersama dengan Brent dan Dubai Crude.

Belakangan lihat tren crude oil price WTI terus merangkak naik. Ini alarm. Dari sumber WTI Crude, harga minyak mentahnya terus bergerak nak di level US$ 71 /barrel. Terus bergerak dari US$ 56/barel pada Maret dan April-Mei di kisaran US$ 70/barel.  Dalam asumsi makro APBN 2021, ICP ditetapkan sebesar US$ 45/barrel. 

Deviasi harga crude price Indonesia dengan tren harga pasar cukup lebar. Artinya, asumsi makro APBN 2021 terkait ICP sudah tak relevan dengan perkembangan harga pasar—seiring membaiknya global demand.

Apa hal? Ya karena bila crude oil price ini terus meningkat, akan berdampak balance current account atau transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan/CAD berpotensi melebar. Karena Indonesia bukan lagi menjadi negara produsen minyak dan menjadi negara pengimpor (net importir), maka bila crude oil price meningkat, maka CAD akan melebar. Bila CAD melebar tentu akan menguras cadev.

Sejak era SBY, tekanan terhadap neraca perdagangan RI acap kali datang dari impor Migas. Disisi yang lain kebijakan bauran energi di Indonesia berjalan agak lambat bila dibandingkan dengan peer countries lainnya.

Target pemerintah, bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 23% pada tahun 2025. Namun faktanya hingga akhir tahun 2020, bauran EBT baru mencapai 11,51%. Masih sangat bergantung pada energi fosil. Total renewable energi Indonesia menurut International Renewable Energi, total renewable energi Indonesia masih di kisaran angka 9000. Masih kalah dengan Korea Selatan, India, China dan Jepang.

Padahal, pertumbuhan ekonomi yang besar, selalu dituruti dengan tingkat konsumsi energi yang besar pula/energy consumption to GDP. Sementara, posisi Indonesia dalam soal energi fosil bukan negara produsen. Disisi lain, bauran energi pun berjalan lambat.

***

Ada dua ancaman di depan mata. Berikutnya terkait dengan “taper tantrum.” Dimana The Fed akan memperketat kebijakan moneternya. Quantitative Easing (QE) dihentikan dan suku bunga kebijakan dinaikan. Ini akan berdampak pada meningkatnya treasury yield bond AS.

Likuiditas negara-negara emerging market akan mengalami erosi. Aset-aset portofolio yang parkir di emerging market akan tersedot ke AS seiring membaiknya data ketenagakerjaan dan inflasi AS

Bila pasar uang kita ikut mengalami crash akibat taper tantrum di AS, maka rupiah akan terperosok lebih dalam dari USD. CAD yang melebar, juga akan memberikan tekanan pada fundamental ekonomi dari sisi kurs rupiah.

Nilai utang valas jatuh tempo akan meningkat. Likuiditas nasional juga makin terancam di tengah tren sumber pendapatan negara yang benar-benar seret. Disatu sisi government expenditures harus benar-benar digenjot sembai prime mover pertumbuhan ekonomi.

Tentu pemerintah harus terus melakukan pendalaman pasar keuangan. Mendorong ekspor non migas lebih kencang untuk menopang potensi lebarnya CAD dari sisi impor Migas seiring crude oil price yang trennya menanjak.

Dari sisi fiskal, Mr. Prabowo hentikan dulu niat gila beli Alutsista Rp.1,7 kuadriliun. Saya baca rilis Tenaga Ahli Menhan, saudara Dahnil yang menurut saya misleading .

Dia bilang itu tak bebani APBN? Lah wong sumbernya dari pembiayaan/utang. Makin banyak utang semakin sempit ruang fiskal. Saudara Dahnil ngawur menurut saya dalam pernyataan persnya.

Tentu Alutsista bukan prioritas meskipun penting. Prioritas nasional saat ini adalah pemulihan kesehatan nasional dan ekonomi yang padat karya. Bila tak hati-hati, dua ancaman tersebut akan menghantam Indonesia !

 

 

Leave a Reply

*