Zul Hasan Figur Dinamis Untuk Anies

Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Anies Baswedan (foto : Istimewa)

Faktual.co.id– Nama Anies Baswedan ada dalam deretan lima besar figur Capres 2024. Dalam beberapa survei, persentase elektabilitasnya silih berganti; saling menyalip dengan beberapa figur sentral lainnya. Kalau ditarik garis kurva, memang masih sangat dinamis, tapi figur Anies konsisten berada diatas garis moving average capres unggul.

Secara kuantitatif, statistik figuritas Anies dan elektabilitasnya berada pada tren yang baik, namun secara kualitatif, variabel keunggulan dan akseptabilitasnya belum begitu lentur sehingga bobot keunggulannya belum begitu signifikan terpompa. Ada variabel resistor yang masih menghambat laju keberterimaan publik pada Anies. Ibarat hendak berlari cepat, kaki sebelah Anies masih diseret-seret. Apa pasal?

Salah satunya adalah, residu erupsi politik dikotomi di Pilkada DKI 2017; yang begitu membuatnya segmented. Ini fakta politik yang sulit dinafikan, bahwa polarisasi narasi perbincangan publik pasca Pilkada DKI 2017 dan Pemilu 2019 begitu diametral. Anies dan kelompok diluarnya diposisikan vis a vis. Ini termasuk salah satu variabel penghambat ekspansi keberterimaan  publik pada Anies.

Dalam hemat saya, Anies membutuhkan figur-figur dinamis. Dalam rangka mendorong ekspansi keberterimaan publik terhadapnya. Fragmen-fragmen politik Anies yang selama ini dinarasikan secara parokial dan vis a vis terhadap Anies, perlu diratakan dengan hadirnya figur-figur sentral yang moderat dan inklusif dalam tafsir sosial keagamaan dan konstitusi dalam corak politiknya.

Figuritas Zulkifli Hasan, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), adalah salah satu tokoh yang relevan dalam memberikan bobot dinamis dalam meratakan bagian-bagian segmented Anies yang selama ini dipolemikkan. Secara fakta politik dan substansi, Anies membutuhkan hal demikian.

Narasi besar inklusivitas politik Zulkifli Hasan, adalah gagasan dan langkah politik riil dalam menurunkan tensi dan polarisasi politik parokial yang agak kompleks dan rigid. Corak PAN yang makin lentur dan inklusif, adalah bobot yang bisa menggeser Anies bergerak lebih leluasa ke dalam ceruk sosial yang lebih luas di Pilpres 2024.     

***

Empat hari lalu (3/6), Sekjen PKS (Partai Keadilan Sejahtera); Mustafa Kemal; katakan, arus bawah PKS menginginkan pasangan Anies dengan mantan gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Tentu usungan paket ini, sah-sah saja sebagai suatu keinginan politik dalam bingkai demokrasi.

Namun rasanya berat bagi Anies, karena dengan formasi Anies-Aher,  membikin ia makin segmented. Terjebak dalam residu polarisasi Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2019. Padahal, Anies membutuhkan supply variabel keunggulan lebih; di Pilpres 2024.

Variabel Kemenangan Anies pada Pilkada 2017 tentu berbeda dengan Pilpres 2024 dan peta demografi politik nasional. Anies menang di DKI, akibat 13% kelompok masyarakat yang selama Pilkada DKI putaran pertama apatis, memberikan “reaksi politik” terhadap skandal penistaan agama Ahok. Anies mendapat berkah politik dari 13% pemilih akibat keteledoran Ahok.     

Lagi-lagi, variabel kemenangan Anies di Pilkada 2017 sama sekali berbeda dengan peta demografi politik nasional yang begitu kompleks. Variabel kemenangan Pilpres sejauh ini, ada pada beberapa hal. Pertama, konsentrasi pemilih di pulau jawa 57%, dan di pulau Sumatera 21%. Kedua, 87% pemilih Islam dan ketiga, pemilih berdasarkan kelompok usia, yakni 52% kelompok milenial (Sumber : Alva Research).

Dalam hemat saya, wacana pasangan Anies-Aher, rasanya berat mendekati tiga variabel kemenangan dimaksud. Anies membutuhkan figur sentral yang dinamis dari sisi sosial keagamaan dan politik. Kemampuan Jokowi-Ma’ruf mendulang 52,2% dari 87% pemilih Islam karena mampu menembus ceruk Islam, baik kalangan NU dan Muhammadiyah. Disamping faktor Jokowi sebagai kekuatan penghela kelompok nasionalis.

Berkaca pada Pilpres 2019 tersebut, maka tugas terberat Anies adalah menurunkan citra parokial yang selama ini melekat padanya. Citra yang menurut hemat saya, bukan menjadi bobot pengungkit keberterimaan publik padanya.

Menyandingkan Anies-Aher bukan solusi bagi variabel resistor politik Anies. Justru formasi demikian “dimungkinkan” menghambat terbukanya pintu koalisi secara leluasa. Tentu argumen ini bukan asal, tapi memiliki ukuran-ukuran yang reliable dengan berkaca pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Secara ideal, wacana pasangan Anies-Zulhasan bukan sebatas keinginan, tapi dengan melihat gambar serta variabel politik yang selama ini membingkai Anies beserta polarisasinya di publik. Anies hanya butuh “berlari lebih cepat” ke arah ceruk yang lebih luas. Ia butuh sosok yang memberi efek lentur dan dinamis. Jangan sampai Anies hendak berlari, tapi sebelah kakinya diseret-seret karena citra dan segmentasi yang rigid.  Wallahu’alam *

by Munir Sara (Mantan Ketua Umum HMI Kupang-NTT)

Leave a Reply

*